
"Sayang, Akbar memberi kabar jika Jia sudah sadar." Anggara tampak senang setelah mengakhiri panggilan ponselnya.
"Alhamdulillah, syukurlah Jia sudah sadar." Zahira mendekat dengan binar bahagia di wajahnya.
"Sudah ku katakan Jia itu kuat." jawab Anggara bangga dengan anak buahnya yang setia.
"Dia memang kuat, dia juga pintar dan gesit." Zahira memeluk Anggara.
"Kurasa semuanya sudah berakhir, antara kau, Radit, dan orang ketiga." Anggara balas memeluk Zahira erat.
"Apa orang ketiganya adalah dirimu?" Zahira membuka sebelah matanya dan mengintip wajah damai yang memeluknya itu.
"Jika kau memintanya lebih awal, tentu aku akan bersedia menjadi orang ketiga sebelum kau tersakiti. Aku akan membawamu kabur dengan senang hati." Anggara tertawa melihat wajah cantik itu kembali bersembunyi di dadanya.
"Aku rasa itu akan sangat menyenangkan." jawabnya terkekeh geli.
"Tidak ku lakukan saja aku sudah di tuduh mencuri. Apalagi sampai benar-benar ku lakukan, aku bisa di adili Papa dan Mamamu."
Zahira semakin mengeratkan pelukannya dengan senyum bahagia tak pernah padam. "Aku mencintaimu." ucapnya.
"Aku juga Sayang, istriku." Anggara mengecup kepalanya. Sejenak larut dalam kebahagiaan, tapi ada yang sengaja mengganggu mereka.
"Sayang." panggil Anggara.
"Hem."
"Apa aku tidak salah, perutmu bergerak?" Anggara tampak berpikir.
"Dia memang bergerak." jawab Zahira dengan satu tangannya berpindah memegangi perutnya.
"Benarkah? Sayang aku ingin merasakannya tendangan kecil anak-anakku." Anggara melepas pelukan hangatnya dan berpindah posisi duduk berlutut dengan wajahnya menempel di satu sisi perut Zahira.
"Dia menendang wajahku!" Anggara terus mencium dan memegang perut yang semakin besar itu. "Dia ada disini!" serunya lagi mengelus bagian yang naik turun.
__ADS_1
Zahira tertawa menyaksikan suaminya, pria dewasa itu seperti ingin berlonjak-lonjak, ekspresi wajahnya ingin berteriak bahagia.
"Sayang apa itu kakinya?" tanya Anggara lagi pada Zahira.
Zahira menggeleng, ia benar-benar tidak tahu itu kakinya atau tangannya, yang pasti mereka di dalam sana selalu bergerak di waktu-waktu tertentu.
"Apa mereka sedang bermain, atau berkelahi?" Anggara semakin menempelkan pipinya.
"Sudah! Aku lelah berdiri. Mungkin mereka juga lelah dan ingin istirahat." Zahira mundur, ingin duduk di ranjang.
"Oh, sayang. Aku ingin mereka cepat keluar. Aku ingin bermain dengan mereka, kita akan bahagia setiap hari dengan dua orang anak yang akan membuatmu kerepotan." Anggara ikut duduk di ranjang dengan tangannya tetap berada di perut Zahira.
"Aku tidak akan merasa repot, mereka adalah buah cinta kita." jawab Zahira tulus.
Anggara terdiam, memperhatikan wajah cantik itu kini sudah berisi, tubuh yang besar dengan perut juga semakin besar. Tidak pernah ia berpikir akan mendengar ucapan cinta dari bibir mungilnya, sama sekali tidak! Sekalipun tidak ia akan tetap mencintainya sampai akhir nanti, rela hanya menjadi pelarian, rela menjadi pelampiasan, rela tanpa balasan.
"Mas." Panggilnya lembut.
"Ya?" Anggara sedikit terkejut dari lamunannya.
"Dirimu." jawab Anggara tersenyum.
"Mengapa aku? Aku di sini bersamamu." ucap Zahira lagi.
"Hanya tidak menyangka aku juga akan mendapatkan cintamu." Anggara berbicara begitu dekat, hingga pori-pori di hidungnya terlihat di mata Zahira.
"Tidak ada alasan untuk tidak mencintaimu, harusnya dari awal aku mencintaimu. Maka tidak akan ada sakit hati, saling menyakiti, saling membenci, juga kejahatan juga keburukan tak perlu kita saksikan di tengah kisah ini. Itu mengerikan, menyedihkan, juga sangat menguras hati. Kau juga harus ikut terseret dalam masalah yang tak seharusnya kau alami di usiamu yang bukan lagi muda, terkadang aku merasa kisah ku itu memalukan." Zahira tersenyum getir.
"Bagaimana aku tidak ikut terseret jika istriku di pertaruhkan, apalagi saat ini kau sedang mengandung anak-anakku. Nyawaku saja akan ku berikan padamu." Anggara meraih dan memeluknya erat, merasakan hidupnya sangat sempurna.
"Aku ingin kita selalu bersama." ucap Zahira, itu sudah berulang kali, bukan hanya sekali ini.
"Percayalah aku akan selalu bersamamu walaupun nanti aku pergi lebih dulu dari dunia ini. Aku akan selalu mengisi hatimu, terbayang di matamu, mengiang di telingamu, juga selalu terasa hangat di jiwamu selamanya. Dua anakku akan bersamamu, akan mengingatkan aku yang begitu mencintaimu, selalu ingin bersamamu. Wajahnya akan membuatmu selalu merindukan saat-saat kita seperti ini, sikapnya akan membuatmu nyaman seperti aku yang ingin kau selalu aman. Begitulah harapanku untukmu, untuk anak-anak kita, kita tidak akan terpisah meskipun mungkin kau akan menikah lagi." Anggara tertawa kecil di akhir rayuannya.
__ADS_1
"Mengapa harus ada kata menikah lagi, sudah ku katakan hanya ingin bersamamu." rengut Zahira, ia tidak suka.
"Rahasia Allah kita tidak tahu Sayang." Anggara semakin tertawa memeluk tubuh istrinya.
"Aku tidak berniat menikah lagi meskipun kau telah pergi. Anak-anak darimu sudah cukup membuatku bahagia, aku akan selalu mengenang masa bahagia ini." tanpa terasa air mata lolos dari sudut mata bening Zahira, hanya membayangkan hidup tanpa Anggara ia sudah sangat bersedih, tidak tahu jika benar terjadi.
"Sayang?" Anggara menyadari ada isak dalam tarikan nafas Zahira, ia melonggarkan pelukan dan melihat wajah cantik itu benar menangis.
"Aku tidak kuat membayangkan itu, aku tidak mau." ia semakin menangis dan menghambur ke dalam pelukan Anggara lagi.
"Aku akan selalu bersamamu. Tidak usah di bayangkan hal yang membuatmu sedih, ingatlah tak lama lagi kita akan menggendong bayi-bayi lucu." Anggara mengelus kepala Zahira, mengecupnya berkali-kali hingga wajah dan bibir merahnya sedikit lama.
"Lagi!" pintanya ketika Anggaran jauhkan wajahnya sedikit. Itu membuat pria dewasa itu gemas dan melanjutkan kerinduan yang dari sejak kemarin tak sempat tidur memeluknya, rindu aroma tubuh lembutnya, pengobat gundah dan lelah dari semua aktivitas di luar sana, istri tercinta adalah tempat pulang yang paling menenangkan jiwa.
Sedangkan di rumah David, tampak Ayu berjalan kesana-kemari dengan gelisah. Ia menunggu kedatang Radit, dan juga suaminya yang sejak semalam pergi tak kunjung pulang.
"Assalamualaikum Mama." suara Radit membuat Ayu berhenti dari aktivitas mondar-mandirnya.
"Wa'alaikum salam, Radit, Papa!" Ayu menyambut keduanya datang bersamaan.
"Ambilkan air putih." David langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk rumahnya.
Ayu langsung ke dapur tanpa menjawab, tak lama ia sudah kembali dengan dua gelas air putih di tangannya. "Apa yang terjadi?" tanya Ayu kemudian, ia sungguh tak sabar ingin tahu kejadian apa yang suami dan anaknya alami.
"Merry kecelakaan, Laura sudah meninggal dan sudah di makamkan baru saja." jawab David mewakili Raditya.
"Laura?" Ayu sangat terkejut, semalam ia baru saja pulang dari luar kota dan mendapat kabar bahwa Radit sedang mengejar Merry. Juga David keluar membantu masalah anaknya.
*
*
*
__ADS_1
jangan lupa like, vote dan komentarnya ya !! untuk menambah semangat update 😊😊😊