
Pagi hari yang cerah di puncak kota B, Zahira keluar untuk menikmati pemandangan indah di sana, berada di tempat itu membuatnya sedikit melupakan kesedihan, cuaca yang dingin dengan hamparan hijau kebun jeruk tak jauh dari tempat ia berdiri, ia keluar dengan hijab sederhana dan jaket kesayangannya.
Anggara melewati Zahira, pria itu hanya tersenyum sedikit.
"Jam berapa kita pulang?" teriak Zahira, namun pria itu tak menoleh, entah kemana dia akan pergi.
Zahira mengejarnya dengan sedikit berlari, gadis itu berjalan cepat sambil memperhatikan postur tubuh pria dewasa itu. 'Ternyata pria itu tampan sekali, tapi mengapa dia belum menikah juga?' Zahira memikirkannya.
Pria itu berhenti mendadak, Zahira yang masih sibuk dengan pikirannya terpaksa ikut berhenti, ia hampir menabrak pria tampan itu.
"Gadis bodoh!" ucap Anggara tersenyum.
"Kau mau kemana?" Zahira tak membalas senyumnya.
"Mau pergi." jawabnya singkat.
"Pergi kemana?" tanya Zahira lagi.
"Ke hatimu!" jawabnya iseng.
"Kau menyukaiku?" Zahira menatap tajam pria itu.
"Kalau iya?" tanya Anggara menatapnya penuh arti.
"Aku istri orang!" Teriaknya mengingatkan.
"Ceraikan saja suamimu itu, agar tidak lagi menjadi istri orang." Anggara kesal sekali selalu saja mendengar ucapan itu.
"Aku sedang memikirkannya." Zahira menjawab dengan tak peduli.
"Baguslah!" Anggara kembali berjalan, dan Zahira kembali mengikutinya.
"Kita akan kemana?" tanya Zahira.
"Mengambil berkas, asistenku akan mengantar berkasnya kita hanya perlu menunggu di ujung sana." Anggara menunjuk ujung jalan yang sedang mereka telusuri.
"Berkas apa?" tanya Zahira masih ingin tahu.
"Aku sedang membangun Vila di ujung sana. Yang di sebelah sini akan ku jual." jelasnya sambil tetap berjalan.
"Banyak sekali asetmu, jika kau menikah maka akan sangat beruntung wanita yang menjadi istrimu." ucap Zahira.
"Aku akan menikah." jawabnya singkat.
"Dengan siapa?"
__ADS_1
"Dengan wanita yang sangat cantik sekali." Anggara tersenyum.
"Apa dia lebih cantik daripada aku?" Zahira masih tak berhenti bertanya.
"Nanti akan ku bawa dia bertemu denganmu, jika kau lebih cantik darinya berarti kau yang akan menikah dengan ku." Anggara semakin berani.
"Sudah ku bilang aku istri_"
"Istriku." Anggara menghadap Zahira, pria itu menatapnya lama sekali.
Zahira tidak tau harus berbicara apa, dia terdiam sambil menikmati wajah tampan itu.
"Aku serius Zahira, aku sudah tidak bisa menahan perasaanku ini lebih lama. Jika kau tidak sanggup bertahan dengan suamimu maka tinggalkanlah, aku sangat berharap kau mau menerimaku, melahirkan anak-anakku. Karena jujur saja, aku butuh anak untuk memegang semua hartaku, dan aku ingin kaulah ibu dari anak-anakku." Anggara masih menatapnya.
"Bahkan aku di khianati karena aku tak kunjung hamil, kau tidak salah menginginkan wanita bodoh seperti aku. Suamiku saja yang awalnya sangat mencintaiku, kini perlahan akan melupakan aku, karena dia akan memiliki anak dari wanita lain dan cinta yang besar itu akan menguap begitu saja. Terkadang aku berpikir bagaimana jika aku meminta Radit memilih antara aku dan anaknya?" suara halus itu terdengar sedang rapuh, mata beningnya menatap Anggara seakan mencari jawaban di sana.
Namun sepertinya Anggara tak kuasa menjawab pertanyaan itu.
"Aku rasa kau juga akan memilih pilihan yang sama, dan akhirnya akulah yang harus pergi." ucapnya menunduk lemah, air matanya turun lagi, menetes jatuh di atas rerumputan yang kusam.
"Aku bukan suamimu Zahira, aku sudah melewati banyak hal di dunia ini, aku tidak akan bermain-main dengan kehidupan seperti seorang ABG yang sedang mencari jati diri. Aku sudah tua dan aku ingin memilikimu di akhir hidup yang tak lama ini." jelas Anggara.
"Tapi untuk hal anak, sungguh itu membuat aku putus asa." jawabnya masih terisak pilu.
"Aku yakin kau akan memiliki anak." Anggara meyakinkannya.
"Itu prasangkamu saja, nanti setelah kita menikah, aku akan membuatmu hamil dalam waktu singkat." ucap pria itu sangat yakin.
"Bagaimana jika tidak hamil?" tanya gadis itu dengan wajah putus asanya.
"Kau tidak yakin padaku?" Anggara semakin mendekatinya.
"Bukan begitu." jawabnya pelan, wanita itu bergidik ngeri.
Anggara sungguh gemas melihat wanita muda yang masih bersuami itu, andai saja sudah bercerai?
"Pak Anggara!" suara seseorang memanggilnya.
"Iya." jawabnya masih tak mengalihkan pandangannya pada wanita berhijab coklat sedang mengusap air matanya.
"Ini berkasnya dan Asisten Ricky sedang menuju kemari untuk menjemput anda." ucap wanita cantik asisten Anggara sambil menyerahkan map berwarna merah.
"Terima kasih." Anggara mengambil berkasnya.
Sekilas Zahira melihat wanita itu seakan sedang meminta perhatian pada bosnya, pakaian minim dan rambut panjangnya dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian Anggara.
__ADS_1
"Ayo pulang!" Zahira menarik jas Anggara untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Mengapa terburu-buru, aku masih menikmati pemandangan indah." Anggara seakan tahu isi kepala gadis itu.
"Kau dengar, itu bibit pelakor." Zahira menunjuk ke arah belakang.
"Dia bukan pelakor." Anggara terkekeh geli mendengarnya.
"Tentu saja akan menjadi pelakor, buktinya suamiku sudah diambil wanita berpakaian minim dan menghasilkan anak." Zahira semakin emosi.
"Itu suamimu. Sedangkan aku masih bujangan Zahira, wajar saja dia ingin mendekatiku dan tentu saja dia akan senang jika menjadi istriku."
"Kau menyukainya?" tanya Zahira.
"Tidak!" jawab Anggara.
"Mulutmu bilang tidak besok kau lahap juga hingga perutnya membuncit." Zahira sedang meluapkan kekesalannya.
Anggara hanya terkekeh geli, dia masih di penuhi emosi.
"Bersiaplah kita pulang Ricky sudah siap dan tidak mau menunggu." ucap Anggara membiarkan gadis kecil itu masuk ke dalam Vila.
Tak butuh waktu lama, Zahira sudah siap dan sedikit berdandan. Kali ini ia memakai rok payung dengan kaos polos berwarna putih, dengan hijab panjang berwarna putih juga.
"Ayo masuk!" perintah Anggara membukakan pintu mobil.
"Kau bilang akan memesan taksi untuk ku." Zahira masih berdiri.
"Terlalu lama jika harus menunggu taksi. Memangnya kenapa jika pulang bersamaku?" tanya Anggara kesal.
"Aku istri orang." jawabnya menunduk.
"Aku tahu kau istri orang, aku juga tidak tidur sekamar denganmu? Apa kau berpikir bahwa kita sedang selingkuh?" tanya Anggara.
"Apa aku seburuk itu?" tanya Zahira masuk ke dalam mobil.
"Aku benar-benar merasa jadi selingkuhannya." Anggara bergumam dengan wajah kesalnya.
Ricky menahan tawa melihat dua orang aneh itu sedang bersama.
Sepanjang perjalanan tak ada obrolan, Zahira sibuk dengan pikirannya sendiri, menyiapkan mental dan tenaga untuk mengahadapi kenyataan setelah semalaman ia memikirkan keputusannya.
"Om!" panggilnya kemudian setelah lebih dari satu jam saling berdiam.
"Iya?" jawab Anggara yang sepertinya juga sibuk memikirkan banyak hal.
__ADS_1
"Aku butuh pengacara untuk menggugat cerai Radit, aku sudah memutuskan untuk meminta berpisah. Bertahan pun aku akan tetap terluka, apalagi setelah kelahiran anak mereka, aku harus selalu mengalah." Zahira kembali bersedih.