
Sebuah gudang yang sepi, gelap dan ketakutan, pria itu di ikat dengan mulut tertutup, juga sudah tak berdaya melewati hari dan malam beberapa kali berganti tanpa makan dan minum. Terdengar suara derap langkah kaki namun tak ada satupun diantara mereka yang membuka pintu yang terkunci, sungguh pria berusia lima belas tahun itu berharap salah satu diantara mereka akan membuka pintu dan menemukan ia di dalam sana.
Hingga hari yang sudah ia anggap terakhir di dunia ini, pria itu sudah sulit untuk sekedar membuat mata bahkan kesadarannya pun nyaris tak ada. Lapar, haus dan lemas, untuk menghirup udara saja ia sudah tak mampu.
Krakkk
Grrrtak
Grrrttak
Suara pukulan berkali menghantam gembok yang keras, sejenak berhenti namun kembali terdengar, sungguh pria di dalam sana sangat berharap dan berdoa semoga orang yang berusaha masuk itu dapat menemukan dirinya.
Hingga lama, namun akhirnya pintu itu perlahan terbuka, mungkin ia sudah berhasil membobol gembok besar dan karatan itu.
Tampak seorang gadis berkerudung sederhana melihat ke dalam, menoleh ke kiri dan ke kanan, dengan pelan dan sepertinya takut ia masuk melangkahkan kaki.
Dan akhirnya, gadis itu melihat sepatu yang setengah tertutup kardus bekas, dengan mengumpulkan segenap keberanian ia meraih kardus itu dan membuangnya sembarangan.
"Hey!" ucapnya panik dan terkejut tentunya.
Pria yang lemas itu membuka sedikit mata lalu mulutnya, bergerak walau tak bersuara membuat gadis itu berlari keluar dengan cepat dan kembali dengan air keran di tangannya. Tetesan demi tetesan air di tangannya masuk ke dalam mulut pria berseragam abu-abu itu, rasa air yang sedikit aneh, samar terlihat tangan gadis itu sedang terluka, darahnya ikut menetes bersama air yang masuk ke dalam kerongkongannya.
Gadis itu tak meninggalkannya, hingga sejenak pria tampan itu berhasil membuka mata dan sedikit tersenyum. Gadis itu terlihat lega, ia tersenyum dan berlari di depan gudang, berteriak minta tolong, ia sempat berusaha membawa tubuh lemah itu namun ia tak punya cukup tenaga hingga terpaksa menunggu orang lain untuk membantunya.
Gadis itu tersenyum manis sekali, dia memanggil pria itu dengan merdu "Gara!"
__ADS_1
"Reva!"
Anggara berteriak, bangun dengan keringat yang mengucur di seluruh wajahnya, tubuh gagah itu terasa pegal dan berat sekali.
"Reva, mengapa aku bermimpi tentang masa lalu?" Anggara menarik nafas, meraih gelas air putih di sisi ranjang dan segera meminum habis.
Pria itu duduk dengan menggerak-gerakkan lehernya, entah karena bantal yang salah atau dia terlalu lelah, yang pasti dia sedang pusing memikirkan Zahira.
"Benar, mungkin karena aku terlalu memikirkan Zahira. Tapi mengapa aku bermimpi tentang Reva menyelamatkan aku saat itu?" ia menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sedang tak enak badan sepertinya.
Dia bangun dan menatap langit yang luas, pikirannya kembali melayang jauh entah kemana, andai dia sedang memikirkan arus sungai yang membawa pakaian Zahira, lalu dimana dia bisa menemukan gadis itu? Andai dia berada di jurang yang dalam, apakah Tuhan akan mempertemukan dia lagi? Anggara hanya bisa berdoa, bersujud dan meminta, semoga gadis kesayangan itu masih ada di dunia ini untuk bersamanya.
"Aku mohon padaMu, pertemukan aku dengannya, karena hati ini sangat yakin dia masih hidup." doanya, menengadah langit di balkon kamarnya yang luas.
*
"Maaf aku mengganggumu, ada banyak proposal masuk dari anak perusahaan kita, aku kesulitan mengambil keputusan secara bersamaan. Ku harap kau mengambil keputusan untuk sebagian berkas yang sudah ke siapkan ini." Ricky menyodorkan beberapa berkas penting di atas meja Anggara.
"Apa isinya?" tanya Anggara malas.
"Pembangunan anak cabang, permintaan penambahan saham, dan ada satu pembangunan rumah sakit di pelosok. Itu sudah lama masuk tapi terabaikan dan sepertinya rumah sakit itu benar-benar butuh sehingga beberapa kali mereka berusaha menghubungi kita." jelas Ricky.
"Berikan saja, semuanya." jawabnya, jangankan menyentuh melihat berkas itu saja dia tak suka.
"Kau tidak melihatnya terlebih dahulu?" Ricky benar-benar di buat berpikir akan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak.
__ADS_1
"Aku percaya padamu." ucapnya lagi.
Ricky mengambil kembali berkas itu dan keluar dengan putus asa, benar-benar putus asa.
"Percuma saja aku menyodorkan ini padanya, bahkan dia tak perduli dengan uangnya." Ricky berbicara sendiri dengan hati yang semakin bengkak, kepala yang sedikit berputar tentunya.
Pria itu terduduk lemas di ruangannya, meratapi ratusan berkas yang belum juga beres.
"Ya Tuhan andai gadis itu masih hidup tolong kau pertemukan mereka secepatnya, karena jika tidak, bukan hanya Anggara yang akan menjadi gila, tapi aku juga." ucapnya lagi dengan wajah kusut.
"Bismillahirrahmanirrahim! Baiklah kita akan mulai dari sini, pembangunan rumah sakit juga sangat penting karena akan menyelamatkan nyawa banyak orang. Sekalian beramal, mungkin mendahulukan sedekah akan membuat pekerjaan ini semakin mudah, atau menyembuhkan otak pemilik uangnya yang mulai mengalami kemiringan 90 derajat." ucap Ricky lagi menggeleng-gelengkan kepalanya, pria itu menghabiskan waktu dengan berbicara sendiri, niat hati ingin menghilangkan stress malah membuatnya terlihat seperti orang stress.
Setelah menghabiskan waktu lebih dari dua jam, mau tak mau pria itu kembali ke ruangan Anggara.
"Besok kita kunjungan ke rumah sakit, kau harus ikut dan melihat sendiri keadaannya. Mereka tak hanya butuh bangunan tapi peralatan medis, tadi aku menghubungi managernya dan mereka bilang kesulitan merawat pasien yang parah. Saat ini bahkan ada satu pasien yang mengalami cidera kepala yang serius masih mengalami koma." jelas Ricky, kali ini dia akan benar-benar marah jika Anggara tetap membiarkannya sendiri.
"Baiklah, aku akan ikut." jawab pria tampan itu sedikit melirik, dia sudah tahu asistennya itu kerepotan, sedangkan yang lain sibuk dengan pencarian Zahira.
Ricky tersenyum sedikit, hatinya bersyukur bosnya yang menyebalkan itu masih memiliki sedikit kesadaran.
Sedangkan di tempat lain, David sudah mulai mengurangi kesedihannya. Pria itu mulai melakukan aktivitas ringan di rumah, dia juga sudah mulai memaafkan putranya.
"Aku ingin mengunjungi Radit, apa kau mau ikut sayang?" Ayu duduk dan mencoba bicara baik-baik dengan suaminya.
"Aku akan ikut, kapan kita ke sana ?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau besok, kita bisa menginap sehari, mungkin dengan kehadiranmu Radit akan cepat pulih." jelas Ayu penuh harap, dia sungguh tidak kuat selama hampir dua bulan ini menanggung beban sendiri.