Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
125. Cinta buta tak punya mata


__ADS_3

"Berhari-hari katamu? Memangnya apa saja yang kau lakukan?" tanya Ricky pura-pura tidak mengerti.


"Tentu saja hal menyenangkan, apa kau tidak pernah mencobanya?" tanya Ricko si asisten paling unik itu.


"Aku pernah mencobanya, tapi dengan istriku." Ricky berlagak polos.


"Hahah, aku tidak percaya." obrolan mereka semakin gila.


"Dan kau?" tanya Ricko kemudian membuat pria muda itu tersentak.


"A-aku, aku tidak-" dia menjawab dengan terbata-bata, entah karena takut atau sedang berbohong.


"Tidak apa?" tanya Ricko tidak sabar.


"Tidak salah lagi!" jawab Ricky memprovokasi bocah itu.


Keduanya tertawa lepas dengan pikiran yang entah tidak ada orang yang bisa mengerti.


"Kau mengaku saja, aku hanya ingin tahu." Ricko terlihat santai, namun ia sedang menyelidik.


"Bukankah kau sudah pernah merasakannya, kenapa jadi ingin tahu darinya?" Ricky menatap heran pada rekan gilanya itu.


"Karena dia belum lama melakukannya, sedangkan aku sudah Dua puluh tahun yang lalu. Mantan kekasihku juga sudah menikah dengan orang lain, sungguh nasibku ini sial sekali." Ricko memasang wajah sedih.


"Aku tidak percaya, kau bahkan memiliki selingkuhan lebih dari satu." ricky menjadi kesal.


"Tidak, saat itu aku sangat setia. Ya kan?" tanya Ricko langsung menjurus pada sasarannya.


Pria muda itu menunduk, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Mengapa gugup sekali, aku tidak sedang menyindirmu. Aku hanya ingin berbagi pengalaman, tapi pengalamanmu lebih menantang, dan aku tertarik untuk mengetahuinya." Ricko tersenyum penuh arti.


"Katakan padaku, kau teman kencannya bukan? Berapa kali kau melakukannya?" tanya Ricky menarik kursi dan duduk berhadapan dengan pria muda itu.


Tentu saja pria itu semakin menunduk, mulutnya masih saja tak bisa menjawab.


"Ah sudahlah, itu urusan mereka. Aku punya pertanyaan lebih penting dari pada itu." Ricko ikut mendekat, kali ini ia sangat serius. "Apa yang kau lakukan pada mobil Zahira?" tanya Ricko menatap tajam.


Diam, dia masih tak menjawab tapi terlihat jelas dia sedang takut.

__ADS_1


"Lebih baik kau jujur saja jika tak ingin hukumanmu semakin berat, aku hanya butuh pengakuanmu dan memastikan siapa saja yang terlibat." Ricky ikut bicara.


Masih diam.


"Ck, lama-lama aku emosi juga melihat wajah mesummu ini." Ricko menunjuk wajah pria itu.


"Aku punya rekaman CCTV tetangga yang memperlihatkan kau sedang mengotak-atik mobil Zahira." Ricky mencoba berbicara baik-baik.


Pria itu mendongak menatap Ricky.


"Merry menyuruhmu melakukannya, sedangkan dia asyik-asyikan bercinta dengan temanmu. Apa kau tidak merasa bodoh?" tanya Ricky lagi.


Wajah pria itu menegang, tampak sedang kesal juga emosi yang tinggi.


Ricko menaikan sebelah alisnya, mengisyaratkan agar pria itu segera bicara.


Tapi kemudian pria itu menunduk, sedih dan lemas sungguh terlihat.


"Sebaiknya kau bicara, aku bukanlah orang yang sabar. Aku juga bisa menghabisi nyawa seseorang jika aku sudah kesal, dan orang yang ku habisi bukan hanya dirimu, tapi juga kekasihmu, beserta anaknya yang sudah bisa tengkurap itu." Ricko menakut-nakuti.


"Jangan!" ia menyahut cepat. Wajah khawatir juga memohon itu jelas terlihat.


"Aku memang ingin merusak mobil istri pertama Radit, tapi saat aku mulai melakukannya seorang wanita mendekat dan mengejutkan aku. Aku segera pergi walaupun sempat saling beradu pandang pada gadis berkerudung itu. Beruntungnya dia tidak berteriak dan sepertinya dia ingin mendekat dan menyerangku. Hingga terjadi kejar-kejaran dan aku berhasil bersembunyi dan dia tidak menemukan aku." jawabnya seperti terburu-buru.


"Teruskan." perintah Ricko.


"Aku tidak jadi memotong rem mobil itu." ucapnya menunduk.


"Kalau tidak jadi bagaimana dia bisa kecelakaan?" kali ini Ricky menatapnya penuh selidik.


Pria itu kembali diam.


"Aku tidak akan mengancam dua kali." Ricko malas terus membujuk pria itu, ia berbalik membuka ponselnya menghubungi seseorang.


"Habisi ibunya!" perintah Ricko.


"Tidak, jangan lakukan itu!" teriaknya ketakutan.


"Kalau tidak mau aku melakukannya, kau ceritakan semua hingga akhir. Kalau tidak mau tidak apa-apa." ucapnya santai.

__ADS_1


"Aku berkata jujur, aku tidak jadi memotong rem mobil itu. Aku kembali ke apartemen Merry, dan ternyata aku menyaksikan mereka sedang-"


"Sedang bercinta dengan Radit, dan kau hanya pria bodoh yang sedang di manfaatkan Merry." lanjut Ricko tak sabar mendengar pengakuan yang menjengkelkan.


"Katakan saja, aku akan mendengarkan semua dengan baik." Ricky kembali membujuknya, ia berlagak menjadi teman.


"Akhirnya aku berpikir jika istri Radit benar-benar mati maka Radit akan membenci Merry, dan aku dapat kembali bersamanya, juga menikahinya." ucapnya sedih.


"Lalu?"


"Aku menyusul dan menabrak mobilnya beberapa kali hingga mobilnya tersudut di dekat jurang dan aku kembali menabrak sekencang-kencangnya. Mobil itu kehilangan keseimbangan dan kemudian berputar dan membentur pembatas jalan. Aku berhenti dan memutar arah, hingga dari kaca aku melihat mobil itu terbakar." jelasnya lemas.


Ricky menarik nafas,


"Dan ternyata Radit dan kekasihmu tetap bersama." jawab Ricky dengan iba.


"Merry menjanjikan apa sehingga kau sanggup menghabisi nyawa orang?" tanya Ricko.


"Tidak, Bukan Merry yang menyuruhku." dia mencoba berkilah.


"Kalau bukan dia yang memintanya, mana mungkin kau melakukan kejahatan sebesar itu, kau bahkan tidak mengenal Zahira!" Ricko geram sekali mendengar pria itu masih berbohong.


"Kau tidak bisa berbohong, kami hanya ingin tahu kejujuranmu, sedangkan bukti yang lain kami sudah punya, dan satu lagi, kami bisa membantumu mendapatkan wanitamu itu." Ricky meyakinkannya.


Pria muda itu mengangkat wajahnya, ia mencari kebenaran di wajah Ricky yang tampan, mungkin saja ada sedikit harapan.


"Aku berpikir jika saat itu Merry mengandung anakku, bukan anak Radit." ucapnya sedih.


Ricky mendengarkan dengan sangat baik.


"Awalnya Merry memintaku mencelakai istri Radit, tapi aku tidak melakukannya. hingga kemudian tanpa di duga istri Radit malah datang ke apartemen saat aku juga akan mengunjungi Merry. Kupikir itu adalah kesempatan, tapi gagal karena ada wanita yang mengawasi mobilnya. Aku menyerah hingga aku naik ke apartemen Merry dan menyaksikan pandangan yang membuat aku sakit hati." pria itu semakin menyesal.


"Kau boleh menyukai seseorang, tapi kau juga harus melihat orang yang kau sukai juga mencintaimu atau tidak, jika tidak lebih baik kau mundur saja daripada kau sengsara seperti sekarang, itu namanya cinta buta." Ricky memberikan nasehat walaupun terlambat.


"Itu bukan cinta buta, dia bahkan tak punya mata!" Ricko menyahut kesal.


"Aku ingin sekali mengetahui jika itu anakku atau bukan." pria itu kembali bicara.


"Kau akan segera mengetahuinya, tapi kau harus menurut dan bertanggung jawab atas semua kelakuanmu."

__ADS_1


"Aku pasti akan di hukum mati, sudah membuat istri Radit meninggal. Radit pasti marah besar." dia memeluk lututnya erat sekali.


__ADS_2