Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
Hamil


__ADS_3

"Kau telat." Ricky melihat jam di pergelangan tangannya, sambil melirik Radit yang sedikit terburu-buru.


"Aku sudah menunda tiga puluh menit." jawab Radit langsung menuju ruangannya.


"Dasar pengantin baru." kesal Ricky lagi, lelah berdiri di lobi kantor besar itu.


Radit terkekeh menoleh rekannya tersebut. "Aku heran mengapa pagi ini dia manja sekali? Biasanya tak separah itu." jawab Radit menjelaskan keterlambatannya.


"Dia memang seperti itu, dulu saat bersama Anggara juga begitu. Dia meminta banyak hal sebelum membiarkan suaminya pergi. Dia mengidam banyak sekali makanan." jawab Ricky ikut masuk keruangan Raditya.


"Mengidam?" Tanya Radit menoleh asisten istrinya tersebut.


"Ya." jawab Ricky mengangkat Alisnya.


Radit tampak berpikir, sejak beberapa hari ini Zahira sering menitip makanan jika pulang bekerja. Juga sikapnya yang semakin menuntut.


"Banyak-banyak berdoa." Ricky menepuk pundak Radit.


Radit tersenyum sedikit, tak mau banyak berharap. Lagi pula ini kali pertama, kemungkinan untuk berhasil masih belum dapat di harapkan. Tapi tiba-tiba saja Radit ingin merasakan hal itu, seperti yang di katakan Ricky. Indah sekali rasanya ketika Zahira semakin manja dan menginginkan banyak hal darinya.


"Ayo, sepertinya semua orang sudah datang." Ricky keluar lebih dulu menuju ruangan rapat.


"Baiklah." Radit menarik nafas begitu dalam, entah mengapa Hari ini menjadi berbeda karena sebuah harapan.


Hingga sore hari, pekerjaan yang lumayan banyak membuat Radit sangat sibuk.


Terdengar pintu ruangan Raditya di ketuk dari luar.


"Masuklah." jawab Radit tanpa melihat.


"Pak ada pesan dari istri anda, agar menjawab panggilan ponselnya." ucapan Sekretaris Radit.


Radit sedikit terkejut, ia sampai lupa dengan ponselnya yang sejak rapat tak di lihat sama sekali.


"Baiklah, terimakasih." ucap Radit, segera merogoh tas kerjanya.


"Permisi Pak." ucap Sekretaris itu lagi.


Radit mengangguk, jarinya tetap fokus menekan tombol ponsel.


"Sayang." panggilnya cepat.


"Aku sampai lelah menghubungimu." suara merajuk di seberang sana.


"Maaf, aku lupa dengan ponselku karena terlalu sibuk." Radit menutup berkasnya dan sedang bersiap pulang.


Panggilannya terputus. "Dia merajuk lagi." Radit mengusap wajahnya.


Pria itu segera meninggalkan ruangannya, jika biasanya Zahira meminta di belikan sesuatu berbeda hari ini Radit membeli banyak makanan untuk di bawa pulang. Tak terkecuali berbagai macam buah dan rata-rata memiliki rasa segar bahkan asam.


"Aku tidak memintamu membeli sesuatu." Zahira tidak menyukai banyaknya makanan yang di bawa Radit.


"Baiklah, tak masalah." Radit membawanya masuk ke dapur. Mengeluarkan satu persatu dan dengan tak sabar memakan buah mangga yang belum matang.


"Ada apa denganmu?" tanya Ayu melihat kelakuan putranya.

__ADS_1


"Ini enak." jawabnya terus saja mengunyah buah mangga yang masih keras.


"Aneh sekali." Ayu berlalu meninggalkan putranya, begitu seterusnya hingga malam hari, Radit masih saja terlihat aneh dan makan apa saja seperti sedang kelaparan.


"Aku tidak mau tidur denganmu." ucap Zahira menjauh dari Radit, meninggal Radit duduk sendirian di ruang keluarga.


"Sayang." Radit meninggalkan makanan ringan yang ada di tangannya, lalu menyusul Zahira.


"Mengapa anak kita jadi seperti itu?" tanya David menatap heran kedua anak menantunya menaiki tangga.


"Dia terlihat aneh sejak tadi sore." jawab Ayu juga melihat kedua anaknya.


Sejenak kemudian mereka saling pandang.


"Jangan-jangan Zahira sedang hamil?" ucap Ayu membulatkan matanya.


"Mungkin saja, ini sudah lebih satu bulan." Ayu beranjak dari duduknya, memanggil sopir dan memintanya membeli sesuatu.


"Tapi Nyonya, apa sebaiknya meminta yang lain saja untuk membelinya."


"Kau ini, kau harus belajar dari sekarang agar saat menikah kau sudah terbiasa." jawab Ayu kepada sopirnya yang terlihat sedang menggaruk kepala.


Malam itu terasa lama terlewati bagi David dan Ayu, tak sabar mengetahui hasilnya di esok pagi. Dan terasa lebih lama bagi Raditya, karena Zahira tak mau di dekati olehnya.


Hingga pagi kemudian Radit terbangun dengan perasaan tak nyaman, kepalanya terasa berputar dengan perutnya terasa mual.


Pria tampan itu bangun dengan terburu-buru menuju kamar mandi, memutar keran air dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Radit!" gumam Zahira menatap heran pada pintu kamar mandi yang terbuka, ia beranjak dan melihat suaminya sangat tersiksa, muntah tak bisa berhenti.


"Mama." panggil Zahira terlihat khawatir.


"Ada apa!" tanya Ayu juga menjadi khawatir.


"Radit sakit Mama." ucap Zahira menunjuk kamar mandi.


Ayu melangkah masuk dan segera melihat ke dalam sana, tampak putranya sedang berdiri lemas dengan rambut kusut dan wajah pucat.


"Kita pergi ke dokter." ucap Ayu meraih tangan putranya menuju tempat tidur.


"Tidak Mama, aku sedang masuk angin." ucapnya berbaring.


"Apa Radit sering seperti ini?" tanya Zahira mendekati Radit dengan sangat kasihan.


"Tidak." jawab Ayu menyelimuti Raditya.


Zahira menggenggam tangannya, rasa kesalnya tiba-tiba hilang melihat Radit lemas seperti itu.


"Apakah sudah di lihat hasilnya?" tanya Ayu pada Zahira.


"Aku lupa." Zahira beranjak dari duduknya langsung menuju kamar mandi.


"Jika benar maka kau akan mengalami ini hingga beberapa bulan." ucap Ayu sedikit tertawa.


"Apa harus seperti ini?" tanya Radit tampak begitu tersiksa.

__ADS_1


"Bagaimana lagi." ucap Ayu semakin terkekeh geli.


Tak lama Zahira keluar dari kamar mandi dengan sesuatu di tangannya. Wajahnya tak memperlihatkan apa-apa, hanya mendekati Radit dan memeluknya.


"Bagaimana?" tanya Ayu juga Radit sangat penasaran.


Zahira memberikan benda kecil itu kepada Radit, sambil terus memeluknya.


"Mama!" ucap Radit membulatkan matanya, tak bisa berkata dengan matanya berkaca-kaca.


Ayu meraih benda itu dan langsung tertawa seraya mengeluarkan air mata.


"Kau hamil Sayang!" serunya menangis bahagia.


"Terimakasih, Alhamdulillah Sayang." Radit memeluk Zahira sangat erat, tak mau melepaskannya hingga sangat lama.


Sementara Ayu membawa alat tes tersebut turun ke lantai dasar, memperlihatkan kepada David dan para asisten rumah tangganya dengan tawa dan tangis bahagia.


"Kau tak boleh lelah, aku akan membantu mengurus pekerjaanmu." ucap Radit lagi.


"Tapi kau sedang sakit." jawab Zahira mendongak wajah Raditya.


"Aku tidak sakit, hanya sedang mengidam. Kata orang ini akibat terlalu khawatir atau terlalu cinta." ucapnya lagi.


Begitulah setiap pagi pria itu harus muntah dan lemas, berlangsung hingga beberapa bulan.


"Maaf, harusnya aku yang mengalami ini semua." Zahira memeluk Radit yang akan berangkat bekerja, tubuhnya lemas.


"Seperti ketampananku sudah hilang." jawabnya meraih jus jeruk dan meneguknya sedikit.


"Tidak, kau masih sangat tampan." Zahira merayunya sambil memeluk tubuh gagah Raditya.


"Aku ingin makan rujak saja, bisakah mengisi bekal untukku?" pinta Radit kepada Ayu dan Sri asisten rumah tangannya.


"Bisa Mas Radit." jawab Sri sambil terkekeh geli.


"Kau akan semakin lemas jika tidak minum susu dan makan berbulan-bulan." Ayu juga merasa kasihan, tapi tak bisa berbuat apa-apa, dan membuatnya lega karena Zahira sehat dan tak memiliki keluhan apapun.


Hingga sembilan bulan kemudian, Zahira melahirkan secara normal seperti keinginannya sejak dulu, dan baru terpenuhi saat ini.


"Bayinya perempuan."


Begitu terdengar menyenangkan, tangis bahagia kembali terdengar dari keluarga yang utuh, terutama Radit yang tak akan pernah membayangkan bisa memiliki semuanya.


Zahira, Satria dan Sadewa, juga putri buah cinta mereka.


"Ameera"


*


*


*


...%TamaT%...

__ADS_1


Kita tambah ektra part ya, genap 300 bab...


__ADS_2