
"Tidak akan ada orang yang bisa menolongmu disini!" bentak Zahira menyeret rambut panjang Merry dengan kasar mau tak mau tubuhnya mengikut dengan pakaian yang sudah tak karuan.
"Lepas!" Merry meraih tangan Zahira dengan paksa, mencubit dan mencakar namun tak berpengaruh sama sekali.
"Aku tidak akan melepaskan penjahat seperti dirimu! Bahkan kau sendiri yang datang minta di habisi." geramnya semakin menarik Rambut Merry.
"Zahira!" Ricky datang dan segera melerai mereka, melepaskan tangan Zahira dengan paksa, rambut panjang wanita muda itu banyak yang tertinggal di tangan Zahira.
"Aku akan menghabisinya!" Zahira menunjuk wajah wanita yang sangat kacau itu, membuatnya beringsut segera masuk ke dalam mobil Radit dan menguncinya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ricky memeriksa tangan juga pakaian Zahira.
Nafas Zahira naik turun, tak peduli dengan apa yang di tanyakan Ricky. "Aku bersumpah akan menghabisimu!"
"Tenanglah, kau tidak bisa seperti ini! Kau bisa terkena masalah!" Ricky masih memeluk bahu Zahira.
"Dia sudah menghabisi suamiku Om! Dia membuat anak-anakku tak punya ayah. Jika tak ada yang bisa membuktikan dia bersalah, maka aku saja yang akan menghabisinya!" Zahira masih di selimuti amarah, namun kali ini menjatuhkan air mata. Jiwa yang marah itu telah bercampur duka.
"Tenanglah, semua akan berakhir seadil-adilnya. Ingat saat ini kau adalah pimpinan di perusahaan besar, kau tidak boleh melakukan semua itu dengan tanganmu." Ricky meyakinkan dan membujuk Zahira.
"Justru aku ingin melakukannya sendiri!" jawab Zahira memberontak ingin membuka mobil Radit.
"Sudah Zahira." Ricky tak habis pikir dengan sopir sekaligus bodyguard Zahira itu, sama sekali tak melerai malah terkesan membiarkan. Kemudian Ricky membawanya masuk. "Kau istirahat saja, biar aku yang mengurus semuanya." Ricky masih memegang bahu Zahira, menunggu lift terbuka. Mereka mulai melangkah menuju ruangan Direktur utama.
"Tunggu!" Zahira berhenti di depan ruangan Ricky.
"Ada apa?" tanya Ricky menatap heran dengan Bos mudanya.
Zahira membuka pintu dan masuk ke ruangan Ricky, mencari seseorang yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Pergi dari sini!" usirnya mendekati Radit dengan langkah cepat.
__ADS_1
"Zahira!" panggil Radit lembut.
"Pergi!" teriaknya penuh amarah.
"Zahira!" Radit semakin heran, sedangkan Reza yang juga ada di sana hanya tercengang menyaksikan kemarahan Direktur cantik yang dia kagumi.
"Kau sengaja membawa wanita murahan itu ke kantor suamiku! Kau benar-benar keterlaluan, kau brengsek Radit!" teriaknya melempari Radit dengan berkas di atas meja Ricky.
Radit sedikit terkejut, dia baru ingat jika ada Merry di dalam mobilnya. "Zahira, ini tidak seperti yang kau lihat."
"Apa yang tidak ku lihat, kau bersamanya, kau membawanya datang ke sini. Apa kau sedang pamer atas kebahagiaanmu dan aku sedang menderita, kau sedang menunjukkan bahwa sejujurnya kau bahagia atas apa yang aku alami!"
"Tidak Zahira, aku tidak seperti itu!"
"Kau jahat! Kau bilang menyayangi anak-anakku tapi sekarang kau malah membawa pembunuh itu." tunjuknya ke arah luar.
"Aku tidak-"
"Pergi!" ucap Zahira dengan suara pelan namun bergetar menyakitkan.
"Jangan sentuh aku! Aku tidak Sudi walau hanya berdekatan dengan orang yang sudah menyebabkan kematian suamiku, kau tega memisahkan aku dengannya! Kau tega membuat anak-anakku tak punya ayah, kau tega membuat aku menderita! Kau keterlaluan Radit!" teriaknya dengan tangis yang terdengar menyayat hati.
"Sudah Zahira! Ingat kondisimu." Ricky kembali menahan bahu Zahira yang kini menangis sesenggukan.
"Zahira, aku harus bagaimana untuk menebus semua penderitaanmu? Aku sungguh tidak berniat membuatmu seperti ini. Aku benar-benar menyayangi Sadewa juga Satria, bahkan semenjak suamimu masih ada!" Radit meyakinkan Zahira yang lemas di pegang Ricky.
"Kau tidak menyayanginya Radit! Sekarang saja kau membawa pembunuh itu datang, mungkin besok kau akan membantunya apa lagi? Kau tidak akan bisa menebusnya, kau tidak akan pernah bisa! Aku tidak mau melihatmu lagi." tangisnya benar-benar membuat orang ikut merasakan kesedihan.
"Andaikan bisa ku gantikan biar aku saja yang mati." ucap Radit dengan wajah sendu.
"Pergi! Pergi Radit! Aku benci dirimu, aku benci wanita peliharaanmu! Akkhh!" Zahira memekik dengan tenaga semakin berkurang, ia terduduk lemas.
__ADS_1
"Zahira, ingat kau sedang hamil." Ricky ikut duduk berjongkok. Ucapan yang membuat rekan kerjanya tercengang, Reza baru saja tahu jika Zahira sedang hamil saat Anggara meninggal.
"Aku pasti akan menemukan buktinya!" Radit menatap sedih.
"Bukti apa, heh? Bahkan jika ku habisi kekasihmu itu tetap tak bisa membuat suamiku kembali. Tak hanya kematian, tapi juga aku ingin dia menderita seumur hidup. Aku akan melakukannya sendiri, aku tidak butuh dirimu." geram Zahira, mata yang di penuhi air mata itu kembali menajam.
Radit menunduk sedih, entah mengapa rasanya begitu hancur saat mendengar kata-kata kebencian dari Zahira. Radit merasa sangat tak berguna.
"Sebaiknya kau keluar dulu, semua bisa kita atur ulang." usul Reza menepuk bahu Radit.
Ricky mengangguk, ia benar-benar tegang dengan keadaan Zahira hari ini, tangisnya kembali terdengar setelah beberapa waktu. Ditambah lagi dengan hadirnya Merry, Ricky khawatir Zahira kembali mengamuk dan lupa segalanya.
Berulang kali Radit menoleh, ia benar-benar merasa sedih dengan keadaan Zahira. Ingin rasanya memeluk dan menenangkan Zahira, tapi itu sangat tidak mungkin, bahkan melihat Radit saja dia tak suka.
"Aku akan membayar penderitaanmu walaupun bukan saat ini." ucap Radit sebelum akhirnya berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Tolong ambilkan minum!" Ricky meminta bantuan Reza.
Reza segera mengambilkan gelas berisi air di meja Ricky dan memberikannya pada Zahira.
"Minumlah, kau lemas dan juga sesak." Ricky mendekatkan air putih pada Zahira.
Dalam isak yang masih terdengar akhirnya Zahira meminum sedikit.
Lili baru saja masuk dan segera merangkul Zahira duduk di sofa. "Ibu baik-baik saja?" tanya Lili khawatir.
Zahira hanya menjawab dengan kedipan mata. Ia benar-benar tak terkendali pagi ini, menguras tenaga dan emosi hanya karena melihat Merry.
"Kau yakin anak Anwar itu penembak Anggara?" tanya Reza mendekati Zahira.
"Ya, aku melihatnya." jawabnya pelan, Zahira tak merahasiakannya lagi.
__ADS_1
"Dan dia masih bebas!" Reza menatap wajah Zahira dengan seringai aneh. Membuat Zahira tidak tahu harus menjawab apa. "Kau harus kuatkan hati dan perasaanmu jika ingin membongkar semuanya. Jadilah wanita yang pandai menyembunyikan emosi, karena emosi bisa membuatmu lemah." ucap Reza mendekatkan wajahnya dengan Zahira.
"Aku tidak bisa menahan diri jika sudah melihat wanita itu, aku teringat Mas Anggara. Aku tidak bisa dan tidak biasa menjalani hari-hari ini sendiri, aku kesulitan tanpa dia yang terlalu menyayangiku. Aku kehilangan!" ungkapnya pelan, memegang dadanya sendiri.