Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
157. Menguping


__ADS_3

Pembicaraan serius antara ibu dan anak itu semakin penuh haru, mereka tidak tahu jika di luar seorang lelaki sudah berdiri beberapa saat dan menahan langkahnya.


"Kau sedang menguping?"


Suara seseorang mengejutkan Anggara, bagaimana tidak? ia sedang serius mendengarkan ungkapan hati dua orang wanita di dalam sana.


"Aku tidak menguping, hanya sedang mendengarkan pembicaraan orang, itu juga tidak sengaja!" jawab Anggara, ia memang benar, tapi siapa yang percaya.


"Itu sama saja!" Akbar tertawa lepas.


"Sedang apa kau di sini? Jangan bilang jika kau sedang menyusul Jia? Aku rasa kau bukan hanya sekedar jatuh cinta, tapi sudah sedikit sakit jiwa." Anggara mengatai keponakannya, pria dewasa itu berbalik berjalan ke depan rumah David.


"Apa Om sedang merasa paling waras? Malah Om-lah yang paling aneh saat ini, istilah jaman sekarang, Om Bucin, alias sedang mabuk cinta!" Akbar tertawa terbahak-bahak.


"Kau akan mengalaminya jika sudah menikah dan istrimu sedang mengandung anakmu, apalagi jika dia adalah wanita yang sangat cantik. Bukan hanya setengah tidak waras, tapi kau juga akan menjadi sangat bodoh di buatnya." ucap Anggara setengah berbisik.


"Ku rasa..... Benar!" mereka tertawa bersama di depan rumah David, duduk di lantai dengan menurunkan kaki di rumput halus menghampar di taman samping rumah itu.


"Seorang Bos besar sepertimu, ternyata juga menyukai duduk santai seperti ini." Radit mendekati mereka berdua. Ikut duduk namun berjarak dan bertolak dari Anggara.


"Ini hanya posisi duduk yang nyaman, tak ada yang salah." Anggara tersenyum sedikit, dan kembali menatap taman kecil berisi banyak bunga lili dan mawar.


Radit ikut tersenyum sedikit walaupun tidak saling melempar pandangan, mereka hanya tersenyum untuk mendamaikan diri sendiri.


"Jia!" suara Akbar berteriak memanggil bodyguard Zahira yang kebetulan lewat dengan membawa buah yang ketinggalan di mobilnya.


Namun Jia hanya menoleh, sudut bibirnya tertarik sedikit dan berlalu.


"Kau benar-benar serius ingin menikahinya?" tanya Radit menatap Akbar sepupunya dengan tak yakin.


"Benar! Memangnya ada yang salah?" tanya Akbar tidak suka dengan pertanyaan Radit.


"Salah sedikit dia bisa menghajarmu hingga tidak bangun lagi." gumam Radit tapi masih di dengar semua orang.


"Jika sudah menikah dia tidak akan berani mengahajarku, malah sebaliknya dia akan memohon untuk di hajar." jawab Akbar dengan wajah penuh khayalan.


"Haha, aku tidak percaya." Radit mengatainya.


"Om harus percaya?" Akbar meminta dukungan dari pamannya yang diam saja.

__ADS_1


"Ya, jika berhasil menikahinya! Jika tidak maka selamat bermimpi." jawab Anggara semakin menggodanya.


"Mendadak kalian jadi kompak sekali. Aku jadi curiga?" Akbar memicingkan matanya menoleh dua orang yang ada di belakang ia duduk.


"Curiga apa?" ucap mereka bersamaan.


Semakin membuat mulut Akbar terbuka lebar. Bukankah mereka sedang bermusuhan? mendadak akur seperti itu apakah Anggara sudah tahu tentang Radit? Lalu dia tahu darimana? Ah, Akbar jadi pusing memikirkan mereka berdua.


"Sebaiknya kita sholat, sebentar lagi adzan Maghrib." Anggara beranjak lebih dulu, di susul Akbar juga Radit untuk bersiap sholat berjamaah di ruangan keluarga agar semua bisa ikut sholat tanpa terkecuali.


Akbar maju ke depan untuk menjadi imam sholat, dengan percaya diri ia melangkah. Pas sekali wajah Arabnya dengan suara merdu menggema di ruangan besar itu.


"Jia, bukankah dia tampan sekali saat menjadi imam?" Zahira berbicara pada Jia saat sudah selesai sholat.


"Hah!" Jia sampai bingung harus menjawab apa, wanita kurus itu tampak serba salah.


"Sejak kapan kau jadi mata keranjang seperti itu?" Radit menyahut, ternyata ada banyak orang yang sedang mendengarkan Zahira berbicara.


"Apa maksudmu?" Zahira marah, menatap tidak terima dengan ucapan mata keranjang.


"Masih bertanya, sudah jelas tadi kau bilang Akbar sangat tampan." Radit sengaja membesarkan volume suaranya.


"Lalu maksudmu apa?" Radit masih ingin mendebatnya.


"Mama!" Zahira kesal dan meminta bantuan Ayu, ingin rasanya memanggil Anggara, tapi takut suasana menjadi keruh.


"Kau masih saja belum berubah."Ayu membela Zahira, sudah pasti selalu seperti itu.


"Ish!" Radit menatap tak suka dengan pembelaan Ayu.


Sedangkan seseorang berpura-pura tidak mendengar, walaupun ingin sekali mendekat dan memeluk wanita yang merengek memanggil 'Mama'. Selagi masih aman, ia tak ingin terlalu menampakkan kecemburuannya. 'Lagi pula Zahira milikku, dia mengandung anakku.'


Malam hari saat sudah selesai makan malam, Setelah obrolan ringan antara Anggara dan David, Akbar dan Radit juga wanita mengobrol dengan sesama wanita.


Bibir mungil itu sudah beberapa kali terbuka lebar dengan mata sayu, dia sudah mengantuk. Namun obrolan yang masih terdengar seru membuatnya enggan masuk ke kamar lebih dulu, sehingga ia tertidur di sofa yang memang membuatnya nyaman, sofa yang biasa ia tertidur di sana.


Malam semakin merayap, Anggara sengaja membiarkan Zahira masih tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya. Pria itu sepertinya sengaja tidur lebih akhir, dengan seorang juga sengaja tidur lebih akhir seakan ingin mencari waktu untuk bicara. Anggara merapikan selimut dan mengelus sedikit kepala Zahira.


"Apa sebaiknya kau pindahkan saja ke kamar?"

__ADS_1


"Ku rasa dia masih nyaman." Anggara menjawab setelah menoleh Radit mendekati mereka.


Diam


"Terimakasih sudah menemukan dan menjaganya hingga saat ini."


Kembali diam


"Besok aku akan pergi ke Malaysia, aku percaya dia akan selalu bahagia bersama dirimu." ucapnya lagi dengan menunduk.


Anggara melangkah keluar tanpa menjawab, tentu meminta Radit ikut dan akan lebih leluasa untuk bicara.


"Aku tahu kau sangat mencintai Zahira." ucap Radit lagi walau belum di jawab sekalipun.


"Aku juga tahu kau sangat mencintainya." Anggara angkat bicara.


"Itu sebabnya aku belajar untuk merelakan dia bersamamu. Bukankah demi melihat wanita yang kita cintai maka berkorban perasaan itu bukanlah hal yang harus di pikir ulang?" Radit menatap wajah tampan Anggara.


"Aku pernah di posisimu." jawab Anggara mengerti arah bicara Radit.


"Aku sedang berusaha seperti dirimu. Walaupun aku tidak tahu apakah aku akan sekuat dirimu. Tapi keikhlasanmu membuat aku yakin bahwa Zahira layak bersamamu. Kau bisa membuatnya bahagia sedangkan aku tidak." ungkap Radit pelan dan sedih.


"Maaf jika aku terkesan mencurinya darimu. Jujur saja saat itu dia hanya menjadikan aku tempat pelarian atas kesalahpahaman yang terjadi." jelas Anggara menemukan celah untuk bicara apa adanya.


"Aku tahu, dan aku bersyukur dia memilihmu." mata sipit itu mulai berembun.


"Kau juga tidak kalah baik, bahkan aku sempat iri melihat dirimu. Kau sangat beruntung memilikinya saat itu, hanya saja kalian harus berpisah dan itu bukan tanpa alasan mengapa Allah memisahkan." Anggara tahu Radit sedang menderita hatinya.


"Ya, kau benar."


*


*


*


Jangan lupa like, Vote, dan komentarnya ya... biar nulisnya jadi semangat.


terimakasih.. 💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2