
"Baik Tuan, tunggu sebentar saya panggilkan Mas Radit." jawab ART itu sopan.
Radit turun dari lantai Dua ia melihat ada Anwar di bawah, istrinya juga Laura. Dia sedang berpikir untuk mengambil Laura, tapi malah dia datang sendiri bersama ibunya, juga kakeknya.
"Bawa Laura ke kamar." perintah Radit pada asisten rumah tangga itu, di ikuti Merry yang menggendong Laura. Radit tahu mereka ingin kembali ke rumah itu, terlihat jelas dari tas besar itu di bawa serta.
"Aku mengantar putriku, juga putrimu untuk kembali pulang. Aku hanya ingin keluarga kalian utuh, Laura memiliki ayah dan ibu, tidak seperti Merry yang harus memilih, hingga akhirnya ibunya meninggal." ucap Anwar dengan wajah sedihnya.
"Sejak awal semua orang mengetahuinya, jika aku hanya mencintai Zahira, dan aku tidak ingin memberi harapan atau membohongi Merry dengan harapan palsu." tegas Radit.
"Aku tahu, tapi jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk mengorbankan putrimu." Anwar sudah tentu berpengalaman dalam menjelaskan perihal rumah tangga.
"Artinya aku yang harus berkorban perasaan." ucap Radit lirih.
"Orang tua memang harus berkorban untuk putrinya." Anwar menjawab dengan yakin.
Radit kehabisan kata-kata, ia teringat jika ia perlu bertanya sesuatu.
"Ada masalah apa Anda dengan Anggara?" tanya Radit menatap penuh selidik.
Pria tua itu terkejut, matanya membulat sempurna walau kemudian ia berusaha untuk tidak terkejut.
"Kau sedang memata-matai dia bukan?" tanya Radit lagi.
"Aku tidak bermaksud begitu, aku hanyalah ingin tahu semua kegiatan mereka dan alasan apa sehingga sampai dia menarik seluruh sahamnya." ungkap Anwar, dia sedang berkilah.
"Aku rasa alasanmu kurang tepat. Pastikan jika kau sedang tidak menutupi sesuatu, dan ingat untuk tidak macam-macam dengan Zahira." Radi mendekat, berbicara sedikit mengancam.
"Dia bukan istrimu, istrimu adalah Merry ibu dari Laura putrimu, maka sebaiknya kau tidak ikut campur urusan istri orang." jawab Anwar sangat tenang.
Radit geram sekali mendengarnya, tapi kali ini ia tersenyum. "Sebelum menjadi istriku, dia adalah saudaraku. Aku tidak ingin dia ikut terlibat dalam masalah apapun. Akan ku pastikan jika aku tidak tinggal diam."
"Itu berlebihan." jawab Anwar.
__ADS_1
"Tidak ada yang berlebihan, justru jika melibatkan wanita seperti dia adalah berlebihan untukmu." balas Radit.
"Bukankah kau tidak menyukai Anggara, harusnya kau mendukungku untuk menghancurkan dirinya."
"Jika aku ingin menghancurkan Anggara, tujuannya sudah berbeda. Bukan untuk kepentingan orang lain." jawab Radit.
"Merebut istrinya?" tanya Anwar sinis.
"Dia milikku, hanya untuk saat ini aku sedang mengalah." Radit tak kalah sinis.
Pria tua itu menggeleng, lebih memilih pulang. Dia tidak ingin terlihat kacau karena kecurigaan Radit, bisa-bisa ia ketahuan karena terlalu banyak berbicara.
Radit-pun berlalu menuju kamar Laura, ia ingin melihat putrinya.
"Aku ingin menggendong Laura sebentar." Radit meraih tubuh kecil itu dan memeluknya di dada.
Saling berdiam walau berada dalam satu ruangan, tak saling bicara hanya suara Laura saja terdengar berbicara dengan bahasa bayi. Radit sibuk mengecup pipi gembul Laura, sedangkan Merry duduk di ranjang dengan melihat kedekatan keduanya.
"Aku pikir kita akan bahagia setelah kita menikah dan memiliki Laura, tapi nyatanya kita malah menjadi orang asing yang saling membenci. Andaikan saja aku bisa mengulang waktu, aku lebih memilih untuk tidak mengenal dirimu." ungkap Merry dengan wajah sedih, ia keluar meninggalkan Radit juga Laura.
Sungguh hatinya masih merasa nyeri mengingat betapa bahagianya hidup bersama Zahira, wangi tubuhnya masih terus membayang di setiap helaan nafasnya, mengalahkan wanginya tubuh Laura. Tapi lebih nyeri ketika membayangkan saat ini dia sedang bersama laki-laki lain, sudah pasti Anggara memiliki semuanya, dan segalanya. Istri cantik menenangkan jiwa saat melihatnya, menyenangkan hati saat berbicara dengannya. Radit sungguh merindu!
*
"Kita adakan pertemuan untuk rekan media-media yang sahamnya sempat kita ambil." pagi itu Anggara sengaja pergi ke kantor dan menyusun rencana untuk menghadapi Anwar.
"Mereka akan datang kemari secepat kilat." jawab Ricky yakin sekali.
"Serang berita murahan itu, cari dalangnya, hapus semua hingga tak bersisa." perintah Anggara.
"Dalangnya sudah pasti dia lagi." sahut Ricky sambil membuka laptop melihat berita pagi ini.
"Apa anak ingusan itu sudah di temukan?" tanya Anggara menatap serius.
__ADS_1
"Sudah ada jejak, dia berada di sebuah kota di daerah pegunungan. Anak buahku sudah ada di sana, dapat di pastikan dia tidak akan lolos."
"Kita akan bongkar semuanya." Anggara benar-benar geram.
"Kau yakin?" tanya Ricky menghentikan aktifitas di keyboard hitam itu.
"Aku yakin. Aku juga yakin jika istriku akan baik-baik saja." Anggara balas menatap Ricky tanpa keraguan di wajahnya.
"Baiklah. Bahkan jika kau mau sekarang pun bisa menyeretnya ke penjara." Ricky kembali pada laptopnya.
"Tidak, aku ingin sekali tepuk semua terbuka." Anggara tersenyum sedikit, mata coklatnya menyiratkan permusuhan yang akan dia menangkan.
"Kau membantu sainganmu." Ricky tertawa.
"Tak masalah, Zahira sudah pasti akan tetap bersamaku." jawabnya yakin, senyum lebarnya selalu terukir jika mengingat sudah memiliki Zahira.
"Bagaimana dengan perusahaan yang lain?" tanya Ricky lagi.
"Kau seleksi saja, jika ada yang sudah mampu berdiri sendiri maka tarik saham kita. Aku sudah lelah bekerja terlalu keras, aku ingin menghabiskan waktu bersama keluargaku." ungkapnya membayangkan waktu yang jenuh itu dapat berakhir.
"Aku mengerti dan memang sudah waktunya kau istirahat. Nikmati cintamu yang seluas samudera itu, lagi pula istrimu selalu ingin bersamamu." Ricky mendukungnya.
"Kau selesaikan saja semuanya, pastikan tidak ada orang yang terkena imbas atas penarikan saham."
"Ok."
Di rumah Anggara.
Piano di sudut ruangan besar itu mengundang perhatian Zahira, entah mengapa ia merasa pernah bermain piano dengan seseorang.
Ia duduk dan mulai menyentuh, satu nada, dua nada, dan banyak nada mulai mengalun merdu. Jari-jari lentiknya menyentuh dengan lembut begitu piawai memainkan setiap baris warna hitam dan putihnya.
Antara sadar dan tidak nada yang dia mainkan menjadi sebuah lagu, 'Assalamualaika'. Semakin nadanya mengalun semakin dekat pula bayangan dia sedang menangis dan seseorang pernah mengusapnya. Seorang laki-laki menyaksikan dia sedang duduk dan memainkan benda itu, dia tersenyum kagum, dia mendekat, dia berdiri tegap di sampingnya, dia membungkuk dan menatap mesra, dan dia memeluk dengan wajah bahagia.
__ADS_1
Mendadak ruangan itu menjadi gelap disertai kunang-kunang yang beterbangan sangat banyak.