Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
211. Pantai dan umpan


__ADS_3

Setelah lebih Satu jam perjalanan, akhirnya tiba di pantai pinggiran kota. Suasana sejuk angin berhembus sedikit kencang sehingga membuat pakaian Zahira setengah melayang. Wanita yang terlalu cantik untuk di sebut seorang ibu untuk kedua putra yang sudah berumur Lima tahun. Namun itulah harta yang paling berharga bagi Zahira, Satria dan Sadewa, buah cinta bersama Anggara.


Pantai yang indah, namun hati yang sepi akan selalu kosong jika teringat belahan jiwanya telah hilang. Dia ada dimana? Begitu mata dan pikirannya selalu mencari. Jika melihat langit, seakan Anggara ada di langit, jika melihat hamparan pasir yang luas, seakan Anggara ada di ujung sana. Lalu jika sedang berjalan, seakan Anggara sedang berada di jalan yang tak terlihat, dan Anggara melihat dirinya.


Sejenak membiarkan angin berhembus menerpa dirinya, membelai tubuh kesepian yang selalu di rindukan, matanya terpejam.


"Mau minum yang hangat?" suara Reza membuat mata indah yang terpejam itu terbuka.


Zahira menoleh, namun tak menjawab bahkan kembali menatap hamparan pasir yang terbentang.


Reza melangkah lebih mendekati Zahira hingga sejajar dengannya. "Maaf, tadi aku hanya bercanda." ucap Reza sedikit tersenyum dan tidak sedang bermain-main seperti tadi.


"Kau bicara semaumu!" ucap Zahira dengan wajah kesal.


"Aku bicara serius, aku benar-benar ingin kau meminum obat susah tidur!" Reza menatap wajah Zahira lagi.


"Kau benar-benar membuatku kesal!"


"Kesal bagaimana? Aku membawa obat dan vitamin yang sengaja ku minta dari Amelia untukmu. Aku tidak bercanda atau menggodamu!" Reza kembali menahan tawa.


"Kau sengaja!" seru Zahira semakin merasa dikerjai.


"Sengaja apa, Hem? Atau kau sedang memikirkan sesuatu?" Reza semakin mendekatkan wajahnya dengan senyum jahil.


"Aku tidak-, tidak memikirkan apapun." Zahira semakin salah tingkah dengan ulah Reza, entah mengapa pria itu membuatnya tak bisa berkutik.


"Benarkah? Aku tidak percaya?" Reza masih menatap jahil padanya.


"Reza! Bisa berhenti tidak?" Zahira kesal dan memohon, wajah cantiknya terlihat lucu.


"Ah, baiklah. Aku akan berhenti jika kau meminta untuk berhenti. Aku tidak akan memaksamu."


"Bisa tidak bicaramu yang lain saja? Atau sebaiknya kita pulang." Zahira semakin merajuk.


Reza menarik tangan Zahira sehingga tidak jadi berbalik, tentu mendapat tatapan tajam karena tangannya di pegang.

__ADS_1


"Ayo kita makan, di sana banyak sekali penjual makanan dan makanan di sini tidak ada di kota. Kau tahu, ibu hamil akan menyukai makanan yang baru di lihatnya." Reza tak peduli dengan wajah kesal Zahira.


Tangannya di tarik, Zahira berjalan dengan terpaksa. "Kau tahu dari mana ibu hamil menyukai makanan yang baru dilihatnya?"


"Aku mempelajarinya akhir-akhir ini." jawab Reza terus memegang tangan Zahira.


"Atau kau sudah punya istri?" tanya Zahira menatap curiga.


"Istri?" Reza tampak berpikir. "Aku sedang berpikir untuk memilikinya." lanjutnya lagi.


"Siapa?" Zahira tak sadar jika dia sedang terkena umpan seorang Reza Mahendra.


"Seseorang." jawabnya tak terlalu berpikir.


"Aku ingin tahu?" tanpa sadar mereka duduk di sebuah kedai dengan tangannya masih di pegang Reza.


"Kalau mau tahu makanlah dulu. Setelah kenyang aku akan memberitahu semuanya." Reza meraih menu makanan dan membaca menu dengan tulisan tangan itu.


"Teh hangat atau susu hangat?" tanya Reza pada Zahira.


"Itu bagus, aku juga susu hangat. Ikan bakar dua porsi." Reza memesan sambil melihat Jia dan anak-anak masih asyik bermain. "Itu saja, sepertinya anak-anak masih seru." ucapnya menyerahkan menu yang sudah di pilih.


Zahira ikut menoleh anak-anaknya, dia hanya menurut kali ini, karena membantah tak ada gunanya jika Reza sudah bicara.


"Apa kau pernah datang kesini? tanya Reza serius.


"Pernah, sekali ketika aku mengidam." jawabnya jujur.


"Kau mau makan apa saat itu?" Reza ingin tahu. Dia tidak merasa cemburu, melainkan semakin kagum dengan cinta Zahira yang begitu besar.


"Kerang." jawabnya singkat, tentu kenangan Lima tahun yang lalu masih membekas, bahkan semakin nyata ketika orangnya sudah tiada.


"Apa sekarang ingin makan kerang lagi?" tanya pria itu pelan.


Zahira menggeleng, wajah cantik itu tampak sedih walau sekuat tenaga ia sembunyikan.

__ADS_1


"Kalau begitu makanlah." Makanan yang baru saja datang, langsung dipotong dan di sendok oleh Reza, menyuapi Zahira.


"Aku bisa sendiri." Zahira meraih sendok dari tangan Reza, memasukkan potongan ikan itu ke dalam mulutnya. Sedikit terhibur dengan cara Reza yang begitu gesit dan perhatian. Walau entah nantinya? Jatuh cinta tidak semudah itu.


...***...


Ditempat lain, Merry sedang menata kembali pakaian dan barang miliknya. Rumah yang dulu menjadi kenangan dia dan Radit pernah melakukan kesalahan, tepatnya dia sendiri yang menciptakan kesalahan. Kini kembali ia tempati setelah tak menemukan ketenangan di rumah barunya. Padahal jelas sekali jika di sana adalah tempat paling nyaman.


"Ini harus di letakkan dimana?" Radit ikut menata barang-barang Merry.


"Di sini saja." Merry menuju meja rias. Sejenak. wanita cantik itu menatap Radit, ingin sekali ia memeluk pria tampan itu karena sering mengingat kejadian yang dulu.


"Sebaiknya istirahat sejenak, aku lelah." Radit menelentangkan tubuhnya di atas ranjang Merry.


Tentu memancing wanita itu untuk mendekat. "Aku juga lelah." ucapnya ikut berbaring.


Radit hanya tersenyum, membiarkan wanita itu menempel di bahunya.


"Sebaiknya barang berharga seperti ini di simpan di berangkas saja." usul Radit menunjuk beberapa perhiasan Merry.


"Benar! Tapi aku lupa kode nomornya. Aku bahkan sedang mencari sesuatu yang sangat penting. Terakhir aku memasukan tanggal lahir ibuku, tapi kemarin saat ku coba malah tidak bisa." ungkapnya tampak berpikir.


"Tanggal lahirmu?" tanya Radit ikut mengingatkan, mana tahu tebakannya benar.


"Tidak, aku sudah mencobanya." ucapnya sedikit putus asa.


"Harusnya kau tidak membuat kode yang sulit, atau tanggal lahir ku?" Radit berbalik terlihat sedang merayu.


"Kau percaya diri sekali, apa kau berpikir aku selalu memikirkan mu, bahkan saat itu aku kesal sekali padamu." Merry tersenyum tak percaya.


"Kesal karena apa? Bahkan aku lama menghilang ke Malaysia, tidak dekat dengan siapapun, hanya dengan Aisyah." ucapnya pelan di akhir kalimat.


"Jangan berhubungan lagi dengannya! aku tidak suka." Merry menarik kerah baju Radit hingga lebih mendekat.


"Tidak, aku sudah tidak lagi datang ke rumahnya." jawab Radit meyakinkan Merry.

__ADS_1


Sejenak Radit berpikir, bahwa mungkin saja brangkas yang di maksud Merry adalah tempat menyimpan sesuatu yang penting, seperti senjata Daniel yang hilang? Itu bukan hal yang mustahil. Hanya menunggu kesempatan untuk membukanya, dan kodenya. Tentu kode itu tidak akan asing bagi Radit, kejadian seputar kehidupan dan orang-orang yang berarti bagi Merry, Laura, Radit, meninggalnya Laura, atau hari kebebasan, semua sedang dipikirkan.


__ADS_2