
"Dia mencuri tas mahal di sana dan aku melihatnya." wanita itu tak juga berhenti, mata lebarnya menatap tajam dan juga sangat penasaran dengan gadis yang menenteng tas yang ingin dia miliki.
Zahira tak menjawab, hanya tetap berdiri pada posisinya, tak juga membuka masker yang menutup sebagian wajahnya.
"Maaf Nona, jangan salah paham. Dia pemilik perusahan juga pusat perbelanjaan ini." salah satu pegawai menghampiri wanita yang membuat heboh itu.
"Tidak mungkin, ini milik Tuan Anggara bukan?" tanyanya lagi dengan wajah arogan seakan mengenal baik pemiliknya.
"Benar Nona, dan dia istrinya." jawab wanita lumayan dewasa itu tersenyum ramah.
Semakin membuat gadis itu tercengang dan menatap tajam pada Zahira, pengunjung dan beberapa keamanan perlahan membubarkan diri, malah tersenyum hormat pada gadis yang menutup wajahnya.
"Zahira!" panggil Merry dengan jantungnya berpacu lebih kencang dengan berbagai pikiran menyelimuti dirinya.
Zahira menoleh sedikit dan melangkah pergi bersama Lastri.
"Apa aku mengenalnya Bibi?" tanya Zahira polos.
"Aku tidak pernah tahu Non Zahira punya teman seperti itu." jawab Bibi menunjukan rasa tak suka pada wanita yang masih melongo menatap kepergian mereka.
Sementara di dalam sana, Merry tak jadi membeli apapun di dalam dan lebih memilih pulang dengan hati tak karuan.
Tiba di apartemen miliknya dengan wajah yang memerah, raut tak suka, dada yang besar itu terlihat naik turun dengan segala rasa bercampur aduk di dalamnya.
Tangannya meraih semua peralatan di meja ruangan itu, melempar dan membanting semua yang terlihat menganggur, berteriak-teriak seperti orang gila.
"Tidak, itu pasti orang yang mirip." mencoba mengatur nafasnya.
"Brengsek." mata besarnya memerah, gigi putihnya merapat menahan kesal yang begitu besar, tangannya memukul ranjang tempat ia duduk lelah.
"Bagaimana jika itu benar-benar dia?" ucapnya lagi, tangannya mengusap tengkuk yang terasa berkeringat dingin, kepalanya mulai terasa pusing dengan banyaknya kunang-kunang berkeliling di sekitar ubun-ubun.
"Aku tidak mau dia mengambil Radit kembali." ucapnya lirih. "Tapi tidak, dia bahkan tidak mengenal diriku. Itu pasti orang lain, tidak mungkin juga dia menjadi istri Anggara."
Perut besarnya menjadi sesak, memaksa ia berhenti marah terhadap barang-barang yang tidak bersalah.
Meraih ponselnya. "Halo Tante." ucapnya kembali mengatur nafas duduk menyandar.
__ADS_1
"Ada apa Merry?" tanya Ayu tak terdengar senang juga tidak sedang marah.
"Apa aku boleh ikut ke Malaysia menemui Radit?" tanya Merry penuh harap.
"Maaf itu tidak mungkin, aku akan pergi bersama David. Dia sudah mulai pulih, dan tak lama lagi dia akan kembali."
"Baiklah, aku akan selalu sabar menunggu ia kembali." jawab Merry terdengar sedih.
"Iya." Ayu menjawab singkat lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Senyumnya terbit menatap layar ponsel yang sudah menggelap, ia berpikir Radit akan segera pulang dan kembali menjalani hari seperti biasa. Ia tak pernah berhenti memikirkan beberapa bulan sebelumnya pria tampan itu sudah mulai luluh dan dapat di rayu dengan mudah, tentu setelah ia kembali Merry akan mengulanginya. Dan tak lupa sebentar lagi dia akan melahirkan anak dari keluarga David, tidak akan ada yang bisa menghalanginya untuk menguasai keluarga itu.
Tapi
Lagi-lagi bayangan wanita itu! Membuat keringat dingin mengalir, menciptakan nyeri di perut besarnya yang semakin lama semakin terasa menusuk.
"Papa!" ucapnya meraih kembali ponsel dan menghubungi Anwar ayahnya.
*
Sore yang indah di temani hamparan bunga mawar dengan berbagai warna terbentang di halaman luas, sengaja tumbuhan cantik berduri itu ditanam dan dirawat untuk menyenangkan seseorang yang saat ini sedang tersenyum merekah.
"Kau suka?"
Suara berat itu mengganggu, tapi tak kalah senang jika yang datang adalah seorang pria yang begitu dicintai. Segera mendekat dan memeluknya erat, aroma mint itu terasa menggelitik hati yang begitu damai menyandar di dada bidangnya.
"Aku menyukai semuanya." jawabnya tertawa senang.
"Tadi pergi kemana, hemm?" Anggara menatap wajah yang bersembunyi di dadanya.
"Berbelanja bersama Bibi. Ah bukan belanja, tapi mengambil barang di tokomu." ralatnya lagi.
Anggara terkekeh mendengar ucapan itu. "Ambil saja sesukamu." jawabnya mengecup pucuk kepala itu dan mengelus punggungnya.
"Aku memang mengambilnya, sampai-sampai ada wanita yang berteriak mengatai aku mencuri. Dan anehnya lagi, dia mengetahui namaku." Zahira mendongak menatap Anggara dengan penuh tanya.
"Siapa?" Anggara mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Tidak tahu, aku juga tak mempedulikannya." kembali bersembunyi dalam pelukan Anggara.
"Lupakan saja, mungkin dia salah satu istri rekan bisnisku yang datang saat kita menikah." Anggara tak mau membuat istrinya berpikir, bahkan jahitan operasi itu masih belum sembuh sempurna.
"Mungkin." Zahira melupakannya.
"Kita ke ujung sana?" ajak Anggara menunjuk ujung taman.
"Apa tidak lelah?" tanya Zahira masih asyik bermanja-manja.
"Tidak jika bersamamu." ucapnya mendekati bibir merah merekah yang selalu mengisi pikirannya sepanjang hari.
Zahira sedikit berjinjit mengecup pipi suaminya lebih dulu, mengukir senyum dan semangat di sore itu. Anggara menyukainya, membalasnya lebih banyak tak melewati setiap senti wajah cantik Zahira.
"Aku sangat merindukanmu seharian ini." Anggara memeluknya erat sekali, dengan bibirnya tak bisa move on dari bibir Zahira yg selalu merah dan basah.
Zahira tak menjawab, mata beningnya sesekali terpejam menikmati sentuhan lembut Anggara, pria dewasa itu selalu menghanyutkan, membuat dirinya melayang dan tak mau berhenti. Jari-jari halusnya begitu lincah dan seksi menyentuh di setiap titik sensitif, menciptakan sensasi menggila dalam dirinya.
"Sepertinya ranjang di kamar kita sedang memanggil." bisik Anggara langsung menggendong tubuh kecil itu dengan entengnya.
Zahira tersenyum geli mendengar ucapan itu bercampur dengan deru nafas yang saling bertabrakan, wajah tampannya terlihat menggoda.
Kamar yang luas itu menanti pertempuran maha dahsyat hari ini, tak bosan busa empuk itu ikut bergerak mengikuti irama tarian dua insan yang sedang di mabuk asmara.
"Aku menyukai ini." Anggara menunjuk bibir merah istrinya.
Zahira tersenyum manis sekali.
"Juga ini." Anggara menunjuk bagian yang empuk dan besar.
"Dan semuanya." ucapnya lagi tak menyia-nyiakan waktu untuk segera memporak porandakan gadis cantik di hadapannya, membuatnya menggeliat dan bergerak liar memancing untuk di taklukkan perlawanannya. Tentu saja itu tak akan lama, sejenak kemudian dia pasti akan berada di bawah kendali penunggang kuda.
Ruangan luas itu mendadak menjadi panas ketika keringat dua insan itu menjadi satu, senyum kebahagiaan tak luput menghiasi.
"Terimakasih sudah manjadi istriku, aku sangat mencintaimu." ucap Anggara meraihnya dalam pelukan.
"Aku juga, aku tidak mau kehilanganmu." jawab Zahira.
__ADS_1
"Bibirmu sedikit bengkak sayang." Anggara menatap dari dekat.
"Kau tak berhenti menggigitku." rengeknya manja.