Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
38. Bujukan Merry


__ADS_3

"Selamat malam Mama, Papa." ucap Zahira menaiki tangga.


"Iya sayang." jawab Ayu dan David bersamaan, mereka menatap punggung kedua anaknya hingga menghilang.


"Mereka terlihat pas sekali!" Ayu memeluk David sangat erat, gemas melihat Radit dan Zahira begitu mesra.


"Tentu saja anak siapa dulu?" David menggoda istrinya.


"Tentu saja putraku!"


"Dan putriku." David menunjuk dadanya sendiri, Ayu tertawa mendengar pernyataan itu sangat sering keluar dari mulut David, suaminya itu memang sangat menyayangi Zahira dari kecil, tidur dan besar di pelukan suaminya.


Hingga saat Zahira sudah kelas tiga Sekolah Dasar, David berusaha menjaga jarak karena saat itu Zahira sudah besar, wajahnya sudah terlihat cantik dan begitu menggemaskan dengan lesung pipi di pipi putihnya. David mulai membiasakan Zahira tidur sendirian tanpa di bacakan dongeng terlebih dahulu, walaupun saat sekolah dan bermain ia masih terlihat sangat manja.


Namun hal tak terduga sejak saat itu Radit yang masih kelas dua berusaha menjaganya dengan sepenuh hati, bahkan rela bertengkar habis-habisan jika ada anak yang membuat Zahira menangis. Ternyata cinta itu sudah ada sejak lama, bahkan saat masih balita Radit lebih banyak mengalah dengan Zahira, tak pernah meminta untuk di manja seakan mengerti bahwa Zahira lebih membutuhkan perhatian daripada dirinya.


"Kita doakan saja semoga mereka akan selalu bersama." ucap David melepaskan sesak di dadanya karena teringat momen itu tak akan terulang lagi.


"Aku berharap akan memiliki cucu secepatnya." Ayu masih tersenyum menatap lantai dua yang sudah sepi, mungkin mereka sedang bekerja membuat cucu pikirnya lagi.


Di kamar Zahira.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa tidur di kamar ini bersamamu." Radit memeluk istrinya begitu erat.


"Bukankah kau sering datang ke kamarku?" Zahira ingat Radit pernah menggendongnya dari bawah hingga menidurkannya di kamar ini.


"Tapi tidak berani lama." jawabnya lagi. "Kau tahu, aku sering berkhayal bisa menemuimu di kamar ini dan bisa memelukmu seperti ini, melepaskan rasa rindu dan gelisah yang tidak ada obatnya. Itu berlangsung bertahun-tahun dan aku hanya bisa mengusap dadaku menahan rasa cinta yang kau tidak pernah tau." Radit merubah posisinya menghadap Zahira, menikmati wajah cantik itu sangat dekat. Enam bulan mereka menikah dan setiap waktu mereka bersama saling melepaskan rindu dan menikmati cinta yang sedang merekah, namun tak sedikitpun kekagumannya pada gadis itu berkurang, rindunya malah semakin menggebu setiap melihat wajah cantik itu, semakin hari dia semakin cantik saja.


"Dan akhirnya aku menjadi milikmu, kamar ini juga milikmu, kita akan berbagi apapun." Zahira merayunya dengan ucapan yang begitu pelan, terdengar sangat romantis dan berhasil membuat suasana semakin hangat.


Malam panjang di rumah David terlewati dengan kemesraan yang tak pernah berakhir hingga pagi mulai menyambut. Suasana di kamar Zahira membuat Radit kembali mengingat masa dimana mereka masih menahan perasaan, cinta yang menggebu itu kembali terasa dan menciptakan rasa ingin memiliki sepanjang waktu. Semakin memandangi wajah istrinya keinginannya semakin menggila, hingga permainan itu tak pernah usai sebelum tubuh pria muda itu benar-benar lelah.


Radit masih memeluk dan mengecup kening istrinya, namun sudah tak ada respon gadis itu sudah tak berdaya, tidur dengan tanpa mengatakan apa-apa, nafasnya terdengar teratur dengan hembusan yang pelan. Radit mendekatkan telinganya di dekat hidung yang meruncing itu, sehingga dapat mendengar hembusan nafas itu seperti nyanyian yang begitu merdu. Dia benar-benar mencintainya, sangat-sangat mencintainya.


Bangun kesiangan, keluar dengan tubuh lemas dan lapar, melihat ke seluruh ruangan tak melihat ada siapapun. Langsung menuju meja makan dan mengisi perutnya yang laparnya tidak tertahankan. Dia tidak pernah merasa tinggal di rumah mertua melainkan menjadi putri kesayangan dari mertua. Ah apa dunia seindah itu? 😂


"Makasih Bi, Papa dan Mama pergi kemana?" Tanya Zahira sambil meraih susu dan meminumnya.


"Kurang tahu non, tapi perginya bareng tadi sama Papanya non." jelas ART itu.


"Kalau Radit?" tanya Zahira lagi.


"Tadi mas Radit keluar pakai mobil juga, tapi gak lama katanya beli sesuatu." lalu ART menunduk permisi.

__ADS_1


"Baiklah, aku sangat lapar." Zahira makan dengan sepuasnya baru setelah itu ia keluar menikmati suasana taman di samping rumah itu tempat ia sering bercanda dengan Radit sejak kecil. Hingga sudah dewasa mereka tetap menjadikan tempat itu sebagai favorit, masa-masa indah itu terlihat jelas di matanya.


Sementara di tempat lain Radit sedang duduk di sebuah cafe dan dia tidak sendiri melainkan bertemu deng Merry hari ini.


"Begini, aku ingin masalah ini kita selesaikan baik-baik Merry, seperti yang kau tahu aku sudah menikah, aku memiliki istri. Papa dan Mamaku sangat menyayangi istriku dan bisa ku pastikan mereka tidak akan menerimamu apalagi sampai menikahimu. Jadi ku harap kita bisa menemukan solusinya tanpa harus menyakiti istriku juga orang tuaku."


"Tapi aku tidak mau jika harus menanggung ini sendirian, aku hamil tanpa suami kau pikir itu mudah?" Merry mulai menunjukkan kesedihannya.


"Aku tidak lagi menyalahkanmu, tapi ku mohon padamu jangan sampai istriku dan orang tuaku tahu hal ini. Apa sebaiknya kau pindah keluar negeri saja, aku akan membiayai semua kebutuhanmu, berapapun!" Radit mencoba membujuknya.


"Tidak Radit, aku butuh kau bersamaku. Aku ingin merasakan punya suami saat mengandung anakmu." Merry tak berhenti, ia menangis dengan wajah memelas dan ucapan yang di buat manja.


Radit menunduk menahan kesal dan marah namun sungguh dia tak berdaya dengan adanya rekaman pendek itu. Jelas sekali Radit sedang memimpin dan begitu juga Merry sangat menikmatinya.


Ingin rasanya menghajar gadis itu hingga tak bernyawa, lalu membuangnya ke lautan luas menjadikannya sebagai santapan ikan hiu, Radit sungguh putus asa.


"Sudah ku bilang tidak mungkin Merry mengertilah!" pinta Radit memohon.


"Aku ingin kita menikah walaupun tanpa orang tuamu, atau jika tidak aku akan menyerahkan video itu pada mereka juga pada istrimu. Karena aku yakin, setelah mereka melihat rekaman itu kau juga akan dipaksa untuk menikah denganku." jelasnya lagi.


Benar juga, terutama Zahira. Dia pasti akan meminta Radit untuk menikahinya dan Radit akan kehilangan Zahira untuk selamanya. Itu tidak boleh terjadi!

__ADS_1


"Apa tak ada syarat yang lain selain menikah?" Radit berusaha menunjukkan sikap tenangnya.


"Tidak ada. Lagi pula kita hanya menikah Radit, tak ada yang salah juga tak ada yang tahu." bujuk gadis itu lagi, dengan berbagai rencana yang sudah ia siapkan Merry sudah tak mungkin melepaskan Radit, apalagi dengan wajah lemah dan pasrah itu Merry semakin bersemangat untuk memilikinya.


__ADS_2