Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
150. Tidak bisa punya anak


__ADS_3

"Radit sedang apa?" suara lembut nan damai itu menyapa.


Radit menoleh, namun kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedikit mengusap mata sipitnya telah basah.


"Radit masih mencintai Zahira?" tanya Nurul pelan, ia terus mendekat.


"Tentu Umi, aku ingin sekali merebutnya kembali. Dan-" Radit menoleh seperti menemukan sesuatu yang amat berharga di wajah Nurul.


"Ade ape?" tanya Nurul heran.


"Umi! Zahira menggugat cerai aku saat itu, aku bersikeras tidak mau. Dan pada sidang ketiga hasil putusan itu di tunda." Radit menjeda ucapannya.


Nurul masih terlihat menyimak, kini wanita bertubuh mungil itu duduk di pinggiran taman kecil.


"Dan pada hari itu Zahira kecelakaan. Tapi aku masih meragukan akta cerai yang di miliki suami Zahira Umi, walaupun Zahira mengatakan jika perceraian itu dia yang menginginkannya, tapi hati ini rasanya tidak terima." ungkap Radit sedih.


"Umi tak tahu prosesnye macam mane, tapi menurut Umi, bile perempuan gugat cerai suami dengan alasan yang memang sesuai dengan tuntutan, maka pengadilan berhak mengabulkan."


"Tapi aku tidak pernah menyetujuinya Umi!"


"Meskipun Radit tak setuju, suke atau tak suke, bile alasan dah tepat maka pengadilan tetap akan putuskan, pihak perempuan punya hak mengajukan tuntutan perceraian."


"Tapi dia sempat menghilang Umi, bahkan kami semua sudah menganggapnya meninggal." Radit masih belum mengerti.


"Tiga bulan berturut-turut kau tak beri nafkah lahir batin pada istrimu, maka jatuhlah talak Satu. Tapi bile engkau beri nafkah barang seringgit, maka kalian masih suami istri."


"Aku tidak tahu jika dia masih hidup Umi?"


"Pasal tu, boleh Radit tanye para ulama yang dah matang. Tapi menurut Umi, dari persidangan dan perpisahan yang lebih dari tiga bulan, bile bertemu kembali pun boleh bersame, tapi mesti kawinkan balik. Sebab Zahira dah beri kuase pada Pengacara, dan itu resmi permintaan die untuk bercerai. Mereka tidak menipu, melainkan menjalankan tugas yang di minta Zahira. Anggara tak mungkin salah mengambil keputusan, jelas terlihat jika mereka saling mencintai."


"Umi!" Radit menatap sedih, ingin sekali dia mendengar jika perceraian Zahira tidak sah.

__ADS_1


"Umi belum tanye perihal perceraian itu pada Zahira, tapi Umi yakin jika anak perempuan Umi tidak akan menyalahi aturan, apelagi aturan agama." menepuk pundak Radit dan sedikit tersenyum.


Nurul tahu jika apa yang ia ucapkan menyakiti hati Raditya, tapi dia tak mungkin berbohong dan membuat Radit salah jalan.


Radit duduk menyandar di pohon mangga yang tidak berbuah, menatap langit sedang mendung. Meratap mungkin dengan hidup yang di rasa tak adil, harus kecewa dan kecewa lagi. Dan tentu saja yang membuatnya sangat kecewa adalah kehilangan Zahira.


Langit semakin gelap, Radit bersedih tapi Zahira sedang bahagia. Mendung yang menyelimuti sejak tadi menggambar hatinya yang juga gelap, berkabut.


"Jika kau mencintai seseorang biarkan dia pergi, jika dia kembali maka dia adalah milikmu. Tapi jika dia tidak kembali maka ketahuilah bahwa dia bukan milikmu." Nurul mengingat kata-kata yang pernah ia baca.


"Aku sedang membiarkan dia pergi Umi, tapi apakah dia akan kembali?" mata sipitnya kembali basah, hanya tidak terlihat karena pencahayaan yang terhalang pohon mangga.


"Jangan berharap pada manusie, tapi berharaplah pada Yang Maha Kuase. Berdoa agar kelak Allah satukan kalian lagi." Nurul tak ingin membuat Radit putus asa.


"Mana mungkin tua bangka itu melepaskan Zahira Umi, dia terlalu berharga untuknya." Radit tersenyum getir.


Nurul tersenyum lebar, ia seakan menemukan jawaban atas kegundahan Radit. "Tapi die dah tue!" jawab Nurul meninggikan suaranya.


"Kalau begitu, habiskan waktu untuk memperbaiki diri. Lanjutkan pendidikan dan belajar banyak hal, Radit seorang direktur 'kan? Mestilah pandai. Kalau nak saingkan Anggara, Radit harus menjadi lebih baik dari die orang, atau paling tidak punya kesamaan, baik pendidikan, dan kekuasaan. Radit pasti lebih hebat, sebab usia masih mude ."


Radit seperti sedang merekam kata-kata Nurul, ada benarnya jika saat ini Radit bukanlah apa-apa. Tentu saja Zahira tidak akan memilih pria egois, labil, dan sangat jauh dari kata dewasa.


"Itu benar Sayang." Ayu mendekati mereka berdua. Rupanya sejak tadi ia ada di situ, mendengarkan pembicaraan serius Nurul dan Radit.


"Aku sedang memikirkannya Mama." jawab Radit.


Ayu tersenyum kepada Nurul, wanita itu memang selalu bisa di andalkan.


"Esok, Nurul nak tengok sanak yang sedang sakit." ucap Nurul lagi.


"Boleh aku tahu saudaramu itu sakit apa?" Ayu duduk di samping Nurul.

__ADS_1


"Dia cidera di ************ yang mengharuskan operasi. Dia tidak bisa punya anak." jawab Nurul pelan.


Entah mengapa ucapan Nurul membuat Radit menoleh, hatinya seakan sedang di colek oleh ucapan terakhir itu.'Tidak bisa punya anak?' ulangnya di dalam hati.


"Dia seorang pria?" Ayu penasaran, hingga mengerutkan keningnya.


"Iye, isterinya dah tinggalkan pergi sejak menerima hasil pemeriksaan." jelas Nurul lagi, ia tampak bersedih.


"Kalau begitu sebaiknya kita istirahat, aku akan mengantarkan Umi besok pagi." Radit beranjak lebih dulu, meniggalkan dua orang wanita yang masih larut dalam obrolan mereka.


'Tidak bisa punya anak?'


Lagi, kalimat itu mengganggu pikiran Radit, hingga di ranjang empuk itu ia merubah posisinya berkali-kali. Kegelisahan tentang Zahira saja tak pernah selesai, sekarang malah ada hal yang semakin membuat ia gelisah setengah mati. Entah mengapa bayangan buruk itu seakan nyata.


"Bagaimana jika benar?" Radit berdiri, berjalan menuju balkon kamarnya, menatap ke atas sana dengan perasaan semakin kacau. Langit masih saja gelap walaupun hujan belum pasti turun.


Perpisahan yang tak di inginkan, namun membuat ia tak bisa berjalan seiring dengan Zahira lagi. Kehilangan di saat cinta itu membuncah begitu hebat, pupus di saat harapan bersemi indah.


Taukah bagaimana rasanya terluka? Orang yang tidak pernah terluka bukanlah orang yang paling bahagia di dunia. Mungkin saja bahagia itu datang setelah sekian luka itu sembuh semua, dan hanya waktu yang bisa menyembuhkannya.


Mungkin benar, jika saat ini yang bisa dilakukan adalah pasrah. Biarlah Tuhan saja yang menentukan akhir dari cerita hidup yang tak indah ini.


*


Rintik halus gerimis melembabkan udara pagi, menyambut dengan cahaya suka cita meskipun sang Surya masih tertutup wajahnya.


Teringat semalam ada Zahira di sana, sungguh bayangan wanita istimewa itu tak pernah dapat di lupa, pagi, siang, malam dan di setiap waktu dia selalu ada.


"Sepertinya aku juga harus memeriksakan kesehatanku." Radit bergumam sendiri, ia tengah memakai kemeja biru tua, bersiap mengantarkan Nurul ke rumah sakit Jakarta.


Menarik nafas sejenak, bersiap dengan segala kenyataan terburuk. Percaya jika Allah akan selalu bersama dengan orang yang ingin berbenah diri. "Seperti aku!" Radit mencoba menguatkan hati.

__ADS_1


__ADS_2