
'Malam selalu memberikan waktu untuk menikmati rasa yang tak sempat di sadari pada siang hari. Begitu sulitnya hari-hari ini terlewati tanpa sosok suami sempurna seperti dirimu. Bahkan setelah aku mulai merasa terbiasa, tetap saja aku tak bisa menghapus rasa. Putihnya langit-langit rumah sakit kembali ku rasakan, tanpa dirimu lebih menggelisahkan. Dulu kau menemaniku tanpa peduli siang dan malam, kau datang tanpa kenal jarak dan lelah. Maafkan aku yang terlalu merindukanmu, hingga mencari seseorang untuk ku jadikan dirimu. Tentu semua berbeda Mas, tak ada laki-laki yang setia seperti dirimu. Hanya dirimu.'
Separuh malam yang sudah terlewati, Zahira belum juga bisa terlelap. Mata beningnya menatap ke kiri kanan dimana Ayu dan Jia setia menunggu di sampingnya hingga terlelap. Tangan halusnya terangkat, mengelus rambut Ayu, kemudian Jia bergantian. Memiliki banyak orang tak membuatnya cukup untuk mengobati kesepian, tapi memiliki mereka membuatnya merasa tidak sendirian.
Sepasang mata Jia terbuka tanpa bergerak, merasakan tangan halus Zahira membelai rambutnya. Sudut bibirnya tertarik, yakin jika hubungan mereka tak hanya sebagai anak buah dan majikan, tapi ada kasih sayang di dalamnya. Jia kembali memejamkan mata.
...***...
Pukul Tujuh pagi, semuanya sudah terbangun kecuali Zahira, tentu Jia tahu jika wanita cantik itu tidak bisa tertidur hingga sepertiga malam. Bahkan saat dokter sudah datang untuk memeriksa ia tetap menikmati tidurnya.
"Dok, apakah sudah dia baik-baik saja?" tanya Ayu masih terlihat khawatir.
"Dia baik-baik saja, hanya untuk lain kali hindari benturan atau apapun yang mengakibatkan cidera kepala. Emosinya juga masih perlu di jaga, mengingat almarhum Tuan Anggara selalu melakukan itu." Dokter Ana sedikit mengenang.
"Karena dia terlalu sempurna, Tuhan cepat mengambil nyawanya." Ayu juga ikut mengenang dengan Dokter Ana.
"Nyonya, bangunlah! Dokter sedang memeriksamu." Jia membangunkan Zahira.
Tampak Zahira menarik nafas lebih dalam, mempersiapkan tenaga untuk membuka mata.
"Sepertinya Nyonya Zahira tidur larut malam." ucapan Dokter Ana lagi.
"Benar Dokter." Jia menjawab.
"Dokter." panggil Zahira di pelan, membuka matanya.
"Selamat pagi Nyonya." sapa dokter tersebut, dengan senyum ramah.
"Maaf." ucap Zahira lagi, setelah benar-benar jelas melihat siapa saja yang ada di ruangan itu.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu kabar Anda Nyonya. Apakah masih ada keluhan?" Dokter Ana memegang bagian lebam di sudut matanya.
"Tidak Dok, hanya aku masih merasa pusing jika bangun mendadak, atau berdiri mendadak." jawab Zahira memegang pelipisnya.
"Itu hanya butuh istirahat yang cukup Nyonya, aku akan memberikan obat dan vitamin untukmu. Agar bisa beristirahat dengan tenang di rumah. Aku harus kembali ke rumah sakit Jakarta hari ini, ada pasien menungguku di sana." ucap Dokter Ana masih mengelus bagian yang memar.
"Terimakasih Dokter, maaf sudah membuatmu datang kemari." ucap Zahira merasa tak enak hati, mengingat kesibukan Dokter Ana di rumah sakit tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Tidak masalah, Tuan Ricky sangat baik, sama seperti almarhum suami Anda, aku selalu mengingatnya."
"Sekali lagi, terimakasih." Ayu ikut menyahut.
"Kalau begitu aku permisi, sekalian akan langsung berangkat pagi ini." Dokter ana menyimpan alat medis miliknya, kemudian berlalu dengan sekali membungkuk hormat pada semuanya.
"Artinya aku sudah bisa pulang." ucap Zahira senang.
"Ya, tapi harus pakai kursi roda, Anda belum boleh terlalu lelah." Jia sudah menyiapkan kursi roda.
"Ternyata sebuah pukulan membuatku lumpuh." Zahira tertawa sedikit, bangun dari tidurnya di bantu oleh Jia dan Ayu.
"Mama akan menebus obat." Jia mengangguk, setelah mengatur posisi Zahira di kursi roda.
Mereka semua pulang ke rumah Anggara.
Sedangkan ditempat lain.
"Jam berapa aku bisa pulang?" Radit bertanya pada petugas yang membuka pintu tahanan.
Radit menoleh Reza Mahendra. "Kau mau di bebaskan atau tidak?" berada dalam satu ruangan dan membahas hal yang sama membuat keduanya kembali berdamai.
Reza tak menjawab, matanya menatap Radit dengan bingung.
"Ya sudah, lagi pula di sini gratis." Radit berlalu meninggalkan pria yang sedang putus asa tersebut, dia sedang pusing memikirkan dirinya sendiri.
"Keruangan sebelah sana." petugas yang membawanya mengarahkan Radit masuk keruangan yang agak jauh.
Radit mengikuti arahannya, sekilas mata sipitnya menangkap, melihat ruangan khusus yang ada dokter di dalamnya bersama seseorang yang memakai masker.
"Radit!" suara seseorang memakai masker memanggil dengan lumayan keras, kemudian di iringi dengan jeritan dan keributan di ruangan tersebut.
Radit menoleh ruangan yang telah dilaluinya, sepertinya dia kenal suara itu, Merry Sandra. Ya, wanita itu juga ada di sana, ternyata belum di pindahkan ke tempat lain.
"Pak, saudari Merry Sandra yang terkena gangguan jiwa masih di tahan di sini?" tanya Radit kepada petugas yang membawanya.
"Ya, dia sedang di tangani kejiwaannya." jawab petugas tersebut.
__ADS_1
Sedikit menyesal sampai melewati ruangan tersebut, tapi Radit tak terlalu ambil pusing. Lagi pula dia sedang depresi berat, bisa di katakan sakit jiwa. Merry Sandra tak akan bisa macam-macam.
"Masuklah." petugas tersebut meminta Radit masuk, tampak seseorang sudah menunggu bersama Polisi.
"Om?" Radit melihat Ricko di dalam.
"Ayo pulang." ajaknya langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Tapi_" Radit menoleh Polisi senior yang masih duduk tenang menatapnya.
"Mau pulang atau tidak?" Ricko berlalu meninggalkan Radit.
"Tentu saja." Radit mengikutinya keluar, dia sudah tidak sabar menemui Zahira.
"Apakah Zahira baik-baik saja?" tanya Radit kemudian.
"Ya, dia sudah pulang." Jawab Ricko memasang kaca mata hitamnya. "Lain kali jika kau membuat ulah, aku tidak akan melepaskan mu." Ricko memasang wajah datarnya.
"Aku hanya ingin menjaganya, kau tahu jika aku masih belum benar-benar merelakan Zahira. Aku hanya mengalah selama ini, Lima tahun pergi ke Malaysia hanya untuk membiarkan dia hidup tenang. Selanjutnya aku mencoba ikhlas, walaupun itu bohong." Radit ikut masuk ke mobil Ricko.
"Haha! Kau benar sekali. Mana ada orang di dunia ini mengikhlaskan orang yang di cintainya bahagia bersama orang lain. Itu hanya ungkapan kepasrahan yang tidak sanggup untuk memperjuangkannya lagi." Ricko menyukai ungkapan Radit.
"Hem, begitulah." Radit menyandar lelah, semalaman ia sulit tidur di dalam sana.
Mereka berlalu tanpa mendengar kehebohan yang terjadi di belakang mereka. Terjadi kejar-kejaran dengan seorang wanita memakai baju tahanan, dan masker di wajahnya. Wanita itu tampak lincah bergerak dan bersembunyi.
"Ada apa Pak?" tanya Reza berdiri dari duduknya menatap seorang petugas yang tegang.
"Seorang tahanan melarikan diri." terangnya masih menatap lurus rekannya yang berlari keluar.
"Siapa?" tanya Reza mengernyitkan keningnya.
"Seorang wanita yang terlibat kasus pembunuhan konglomerat beberapa waktu lalu." jelasnya lagi.
"Anggara?" tanya Reza menebak, matanya melebar dengan wajah khawatir.
"Ya." jawab petugas tersebut dan membuat Reza lebih terkejut lagi.
__ADS_1