
Ketika suara Adzan berkumandang, terdengar pula suara halus khas bayi perempuan, tangan kecilnya bergerak-gerak dan mengganggu tidur nyenyak sang ayah. Jari kecilnya terasa halus menyentuh hidung dan pipi Raditya, membuat mata yang terpejam itu segera terbuka.
"Oh Sayang, kau sudah bangun." ucap Radit memeluk tubuh mungil di hadapannya.
"Aaaaaaa..aa." suaranya terdengar lagi seolah mengerti apa yang sedang di bicarakan ayahnya.
Radit tersenyum menatap wajah mungil, halus dan cantik itu, betapa ia kagum dengan anugerah yang diberikan Allah untuk dirinya.
Menatap lagi betapa cantiknya Zahira saat tertidur pulas. Dia pasti lelah sekali, begadang hingga tengah malam.
Tangan hangatnya terulur mengusap wajah cantik istrinya, senyum bahagia itu tak pernah lepas lagi semenjak kedatangan Zahira ke rumah itu, hingga kembali menjadi istrinya dan sekarang mendapat seorang putri cantik sekali.
Pintu di ketuk dari luar.
"Masuklah Sayang." jawab Radit, tahu siapa yang datang.
"Paman apakah Ameera sudah bangun?" tanya Satria dan Sadewa masih lengkap dengan pakaian tidur khas keduanya.
"Sudah. Kalian di sini saja." Radit menepuk kiri dan kanan Ameera, agar kedua putranya bisa dekat dan bermain dengan Ameera.
"Lihatlah, dia lucu sekali." Sadewa memegang kaki kecilnya yang bergerak lincah, bahkan menendang tangan Sadewa.
"Dia mirip seperti ku." Satria memperhatikan Ameera sangat lama.
"Benar, tapi tidak ada yang mirip denganku." ucap Sadewa sedikit kecewa.
"Wajahmu sangat langka." Satria semakin menggoda saudara kembarnya.
"Aku tampan seperti Ayah." jawabnya bangga.
"Aku juga tampan!" Satria tak mau kalah.
"Siapa yang mengatakannya?" tanya Sadewa membalas Satria.
"Ibu." jawabnya membuat Sadewa tertawa terbahak-bahak.
"Mengapa kau tertawa?" tanya Satria tak peduli, dia terlihat seru memegang tangan Ameera.
"Tentu saja semua ibu akan mengatakan anaknya tampan." Sadewa masih terkekeh geli.
"Kau tidak percaya, lihat saja nanti aku akan lebih tampan darimu." kesalnya lagi melihat Sadewa masih menertawai.
"Anak-anak Paman memang tampan." Radit baru saja selesai sholat dan mendengarkan Satria dan Sadewa berbicara. "Sadewa tampan sekali, seperti ayahmu. Semua orang mengakuinya, Paman saja sempat iri dengan ayahmu. Dan Satria Tampan seperti Ibumu, tepatnya seperti Kakekmu. Kau tahu, dulu ayah kalian iri sekali dengan Kakek kalian. Dia tampan dan sombong."
"Benarkah?" Keduanya menatap Radit hingga mulut mereka terbuka.
__ADS_1
"Benar, kalau tidak percaya kalian bisa tanyakan saja kepada Kakek." lanjut Radit lagi.
"Artinya hanya adik yang cantik di sini." Satria tak lagi kesal.
"Dia yang paling cantik." keduanya kembali akur.
"Ramai sekali." suara khas bangun tidur, Zahira menggeliat dan membuka matanya.
"Kau masih mengantuk?" tanya Radit mengelus kepala Zahira.
"Tidak, sudah lebih baik." Zahira meraih kedua putranya, memeluk dan menghirup aroma khas di punggung mereka.
"Ibu lelah?" tanya Satria menoleh dan memegang pipi ibunya.
"Tidak Sayang, itu sudah biasa. Sama seperti Ibu mengurus kalian saat kecil. Lelah tapi bahagia." Zahira mengecup tangan kecil Satria.
"Aku sayang Ibu." ucap Satria ikut berbaring memeluk ibunya.
"Ibu juga." Zahira tertawa lepas dengan pelukan hangat dari putranya.
Dia masih ingin di manja, di peluk dan si sayangi. Begitu juga Radit yang tak mau ketinggalan membagi kasih sayangnya kepada Sadewa, dia tampak lebih sensitif dan haus kasih sayang seorang ayah.
Tak sekali dua kali ia menyebut dan selalu bercerita tentang ayahnya, itu membuat Radit ikut bersedih. Walau terkadang terselip cemburu, namun kembali lagi mengingat bagaimana laki-laki hebat itu mengorbankan nyawanya untuk Zahira.
"Aku bisa apa?" begitu Radit terkadang pasrah.
Begitulah kehidupan terkadang dituntut untuk ikhlas walaupun sulit bahkan tak bisa. Tanpa Anggara mungkin Zahira sudah tak ada, tanpa Anggara Satria dan Sadewa juga tak ada, tanpa Satria dan Sadewa, Ameera juga tak ada.
Tak mungkin menghapus jejak yang sudah terpahat dan terbelah di hati Zahira, juga luka yang sempat menganga walau di jahit tak akan utuh seperti semula. Satu-satunya cara adalah berusaha untuk tidak mengulanginya.
Seiring hari berlalu, bulan dan tahun pergi. Mencintai seseorang yang mencintai orang lain itu sakit.
Tapi yang terlihat dari Zahira tidak seperti itu, hatinya terbagi.
Satu sisi untuk cinta yang abadi. Itu pantas setelah apa yang terlewati.
Dan satu sisi dia juga mencintai Radit sebagai suami, cinta pertama dan sosok yang sangat tulus. Di besarkan bersama hingga takdir mengembalikan dirinya, menua bersama Raditya.
"Sayang, lihatlah Ameera sudah bisa berjalan."
Suara Radit terdengar bahagia di hari-hari mereka, tak henti mencintai dan menyayangi semuanya.
"Dia mirip sepertimu."
tawa Zahira juga tak kalah bahagia di hari-hari mereka, menyaksikan bagaimana tumbuh kembang seorang putri buah cinta mereka.
__ADS_1
"Bahagianya Ayah memiliki anak perempuan yang cantik."
Radit mengendong dan mengangkat tubuh mungil itu sangat tinggi.
"Aku juga sangat bahagia melihatmu bahagia Radit." ucap Zahira di sela tawa mereka.
"Terimakasih Sayang." Radit memeluk keduanya begitu erat, menyaksikan sore yang cerah di halaman rumah dimana mereka di besarkan.
"Kami tidak di peluk?" teriak kedua anak laki-laki yang lelah bermain tersebut, mendekat dengan keringat bercucuran.
"Kau bau sekali!" Radit mengernyitkan hidungnya, menggoda anak-anak tampan tersebut.
Mereka tak peduli, tetap ikut berpelukan hingga keringat mereka ikut menempel di wajah Radit dan Zahira.
"Ah, Sayang. Ini basah dan bau." ucap Zahira, mengelus rambut keduanya yang tampak seperti habis mandi.
Mereka tak peduli tetap ikut berpelukan, nafas lelah mereka terdengar memburu.
"Paman, besok pagi semua orang akan membawa orang tua masing-masing. Kami mengikuti lomba matematika antar sekolah se-Indonesia. Apakah kau bisa datang untuk_" ucapan Sadewa terpotong dan terlihat sedang berpikir.
"Paman akan datang bersama ibumu. Kau tak perlu khawatirkan apapun." jawab Radit mengerti kekhawatiran kedua putranya.
Hingga keesokan harinya.
Lomba sudah di mulai tapi Radit belum juga datang, hanya Zahira yang tampak sudah menduduki kursi undangan.
"Kita harus menang." jawab Satria mengerti kekhawatiran saudara kembarnya.
Sadewa mengangguk.
Benar saja mereka berhasil menjuarai lomba, mereka tampak bahagia tapi mata keduanya mencari-cari kehadiran Radit.
"Apa yang kau lihat Sayang?" tanya Zahira memeluk kedua putranya.
"Paman Radit tidak datang." jawab mereka dengan wajah menekuk.
"Kata siapa Paman tidak datang?"
Radit sudah berdiri di belakang mereka, dengan senyum mengembang dan tampan sekali.
Satria dan Sadewa memeluknya begitu erat.
"Terimakasih Ayah." ucap Sadewa pelan.
Radit semakin memeluk erat kedua anak Anggara, mata sipitnya sedikit mengabur mendengar panggilan yang tak pernah dimintanya.
__ADS_1