
Hampir kehilangan Satria dan Sadewa membuat jantung Anggara lumayan berolah raga hari ini. Malam yang sedikit mendung, tapi rumah Anggara tampak ramai di bagian depan. Bodyguard yang akhir-akhir ini berjaga sepanjang malam bergantian sering membuat acara-acara sederhana di halaman rumah Anggara. Bakar ikan, ayam, jagung dan sebagainya sengaja mereka buat untuk menemani aktifitas berjaga. Tak seperti biasanya malam ini mereka mulai di jam yang masih tergolong sore.
Kedua anak Anggara tampak ikut meramaikan dengan membakar jagung bersama para bodyguard ayahnya. Zahira dan Jia, juga asisten rumah tangga tampak sedang menyiapkan banyak makanan.
"Jika setiap hari seperti ini, kita bisa gendut dan lambat." seorang bodyguard Anggara memulai obrolan.
"Benar!"
Mereka tertawa dan bercanda menciptakan suasana hangat dan ramai.
"Ini hanya sementara, aku rasa semuanya akan berakhir tidak lama lagi." Anggara menyahut dengan suara penuh wibawa.
"Bukankah tadi kau bilang akan memikirkan untuk pergi Mas?" Zahira mendekati suaminya, suasana yang dingin membuat wanita cantik itu manja dan menempel dengan Anggara.
"Ya, itu alternatif lainnya. Dan ku rasa anak dan istriku masih aman." Anggara memeluk dan mengecup keningnya.
"Kau juga harus aman, aku tidak mau sampai sesuatu terjadi padamu." Zahira masih bergelayut manja, dengan jagung bakar mereka makan dengan mengigit bersama-sama sehingga terlihat sangat romantis.
"Aku bisa menjaga diri Sayang." Anggara memeluknya mesra sekali.
"Ayah!" Sadewa mendekat, mengulurkan tangannya ke atas ingin di gendong Anggara.
"Kau sudah besar, masih suka di gendong." Anggara mengangkat tubuh Sadewa.
"Aku menyukai ketika Ayah menggendongku." Sadewa memeluk leher Anggara.
"Dengar Sayang, kau harus menjadi anak yang baik dan selalu menyayangi ibu juga saudaramu. Tetaplah menjadi anak yang sopan dan dewasa." Anggara memang selalu menyukai sikap Sadewa yang lebih pendiam dari Satria.
"Ayah hanya menyayangi Sadewa saja!" teriakan kecil itu membuat Anggara mengalihkan pandangannya, di bawanya tampak anak laki-laki cantik yang sedang cemberut.
Anggara menurunkan Sadewa dan ganti menggendong Satria. "Tentu saja sama Nak! Kau kesayangan Ayah, kau berani, lincah tidak bisa di bohongi, kau akan menjaga ibu dan saudaramu juga dengan baik. Ayah menaruh harapan besar pada kalian berdua." Anggara berjongkok memeluk keduanya.
"Ibu punya balon air." Zahira meniupkan balon air sehingga gelembung-gelembung kecil itu berhamburan di atas pria-pria tampan kesayangannya.
"Lagi Ibu!" Satria berteriak dan melompat-lompat senang sekali.
"Aku juga Ibu." Sadewa meminta di tiup ke arahnya.
__ADS_1
"Ayah juga mau!" Anggara tak mau ketinggalan, masih dalam posisi duduk ia mengulurkan tangan dan menghadang gelembung kecil itu.
"Aku lebih banyak!"
"Aku juga!
Khas suara anak-anak terdengar meramaikan halaman rumah Anggara hingga larut.
Pada akhirnya, aktivitas seru mereka selesai dan tidur nyenyak dengan hati yang selalu bahagia.
Malam tak pernah bohong dengan janji bahwa esok akan datang, matahari pun tak akan ingkar jika besok ia pasti datang. Rembulan bersinar redup, meski tak jelas terkadang ada masanya habis cahaya. Kehangatan yang singkat sungguh berharga.
Lelap dalam rasa, berharap esok akan lebih baik dan bebas dari rasa cemas. Ingin segera berkahir kekhawatiran atas orang-orang yang dia cintai.
Tok...tok...tok.
Dor...dor...dor.
"Nona!" suara Jia berteriak keras di depan kamar Anggara.
"Nona bangun, Nona Zahira!" suara Jia semakin keras dan terdengar ketakutan.
"Mas!" Zahira membangunkan Anggara dengan setengah kesadaran, bahkan matanya belum sepenuhnya melihat.
"Mas?" ternyata Anggara sudah tidak ada di tempat tidurnya, itu membuat mata Zahira terbuka lebar, ia terkejut dan segera keluar.
"Nona, cepat keluar! Rumah kita kebakaran!" Jia menarik tangan Zahira dengan segera.
"Sadewa! Satria!" Zahira langsung membuka pintu kamar anak-anak dan melihat Dua orang bodyguard sedang menggendong anak-anaknya.
"Kita harus cepat, api sangat besar di bagian belakang!" Jia kembali menarik tangan Zahira.
"Tunggu! Dimana suamiku?" tanya Zahira panik.
"Tuan ada di depan sedang-"
"Sedang apa?" Zahira memekik khawatir. Kemudian meraih dua ponsel yang tergeletak di atas meja ruang keluarga dan segera keluar menyusul Dua orang bodyguard yang menggendong anak-anaknya.
__ADS_1
Tanpa di duga di luar terjadi perkelahian antara banyak bodyguard Anggara dan orang-orang tak dikenal. Mereka berbaku hantam sekuat tenaga dengan tatapan ingin membunuh.
Hiko tampak lincah dengan gerakan pedang yang mengayun cepat, tampak beberapa orang disekelilingnya sudah tergeletak tak berdaya dengan luka menganga sangat mengerikan.
Di luar juga warga yang sudah keluar sibuk memukul beberapa orang asing. Mereka membawa peralatan rumah yang dapat di isi air, menyiram di bagian rumah Anggara yang sudah terbakar.
Dan di bagian sudut teras, Anggara sedang berkelahi dengan laki-laki besar dan tinggi. Namun sejenak kemudian Anggara berhasil mengalahkan pria besar itu, memukul hingga pingsan.
Zahira menoleh Jia, ia heran wanita yang terlihat bengis itu tidak bergerak. Mata bulatnya menajam di segala arah. Ia mencari sesuatu tapi masih tak menemukan sehingga wajah cantiknya terlihat tegang.
"Bibi!" Satria mendekati Jia.
"Diam di tempat, jangan menjauh dari Sadewa dan ingat apa yang sudah Bibi katakan." Jia menatap Satria sekilas. Anak laki-laki tampan itu mengangguk.
"Tuan kami akan masuk!" suara warga berteriak ingin menerobos gerbang rumah Anggara, tapi beberapa pria asing itu menghalangi dan terjadi pukul-pukulan dengan warga. Komplek perumahan yang memang belum terlalu ramai itu semakin mencekam.
Dor
Terdengar suara tembakan senjata api, Anggara langsung berlari mendekati Zahira juga anak-anak mereka. Ia begitu takut seseorang akan membidik anak-anak juga istrinya.
"Mas, aku takut!" Zahira memeluk Anggara dan juga merapatkan kedua anak mereka bersamaan.
"Tenanglah." Anggara memeluk ketiganya, tapi mata cokelatnya terlihat waspada.
"Kau di depan." Jia memerintah Hiko yang baru saja mendekat. Jia sendiri berdiri tegap di belakang Empat orang majikannya itu.
"Di balik Cikeas!" ucap Jia pelan tapi cukup di dengar Anggara juga Hiko.
Zahira semakin bergidik ngeri dengan semua itu, selama hidupnya ia tak pernah terlibat dengan senjata api. sekalipun pernah melihatnya itu adalah di film-film laga saja. Tapi berbeda dengan kedua anaknya, mereka tampak menajamkan mata dan merekam setiap apa yang terjadi.
Hiko membidik dengan pedang yang siap diayunkan. Juga Jia siap dengan lemparan yang tak pernah meleset, wanita itu tampak sigap mengambil batu dengan alat sederhana di tangannya.
Dor!
Ledakan yang membuat kedua bodyguard handal itu menoleh cepat pada Tuannya.
"Aku sudah tidak tahan." ucap Anggara dengan mata menatap lurus pada sosok bersembunyi di balik bunga hias itu.
__ADS_1