Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
215. Bukan aku


__ADS_3

"Halo!" jawaban dari seberang telepon.


"Assalamualaikum." jawab Zahira halus.


"Wa-wa'alaikum salam." suara Reza terbata mendapat salam yang merdu Zahira.


"Maaf mengganggumu." Zahira kembali berkata dengan sangat lembut.


"Tidak, tentu aku sangat senang mendapat telepon dari wanita cantik seperti dirimu." mendapat sela sedikit, sebuah pujian tak akan ketinggalan dia sematkan.


"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih." Zahira tampak ragu, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja.


"Terimakasih untuk apa, Hem?" suara beratnya terdengar memanjakan telinga.


"Sudah menjadi hantu semalam. Walaupun senang dengan melihat orang menderita itu salah, tapi aku tak bisa berbohong jika sekarang aku senang sekali. Terimakasih banyak." ucap Zahira bersungguh-sungguh.


"Tidak perlu berterimakasih, aku senang melakukannya. Semalam juga aku tidak sendiri. Ada Radit juga di sana, jadi kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan sampai tergoda dengan janda cantik itu." Reza menanggapinya dengan sedikit bercanda.


"Kau masih mengingatnya." Zahira tertawa.


"Tentu saja, aku mengingat semua yang kau ucapkan." Reza benar-benar berusaha membuat Zahira meleleh.


"Kalau begitu terimakasih, untuk menjadi hantu yang sudah menyita waktumu. Dan,"


"Dan apa?" tanya Reza tak sabar.


"Kiriman bunganya." ucap Zahira mengigit bibirnya sendiri.


"Bunga?" tanya Reza terdengar penuh tanya.


"Iya."


"Aku tidak mengirim bunga?" jelasnya masih terdengar bertanya.

__ADS_1


"Hah! Lalu siapa yang mengirim bunga ini?" tanya Zahira memijat keningnya, malu sekali sudah menduga Reza adalah pengirimnya.


"Bisa kirim foto bunganya?" pinta Reza terdengar penasaran.


"Iya. Ehmm, maaf." Zahira menjadi salah tingkah, lagi-lagi dia salah menduga. Pria tampan itu terlalu lincah untuk di tebak apa maksudnya. Jarinya sampai gemetar gugup karena salah menebak, mengirim gambar bunganya sesuai permintaan Reza.


"Aku akan memberikan bunga yang lebih cantik, atau lebih dari sekedar bunga." rayu Reza lagi setelah melihat gambar dan nama berinisial R pengirimnya.


"Jangan bercanda, aku sedang malu karena berpikir kau yang mengirim bunga ini." Zahira benar-benar merasa bodoh. Harusnya dia tidak begitu yakin jika R hanya Reza Mahendra saja. Sama artinya jika saat ini Zahira menunjukkan bahwa dia menyukai kiriman bunga itu jika seandainya benar dari seorang Reza.


"Mengapa harus malu? Aku juga perlu tahu siapa yang sudah berani mengirim bunga pada kekasihku." ucap Reza semakin menggoda Zahira.


"Kekasih siapa?" Zahira mulai kesal dengan godaan yang selalu tanpa berpikir.


"Tentu saja dirimu, kekasihku." semakin menggoda dengan suara beratnya.


"Baiklah, selamat bekerja." Zahira segera menutup ponselnya, sungguh berbicara dengan pria itu membuatnya bergidik ngeri. Baru saja berbicara serius, selanjutnya akan berakhir dengan ucapan yang menggelikan, dan berakhir dengan salah tingkah. Zahira selalu saja di buat tak berkutik oleh seorang Reza Mahendra.


"Lalu siapa?" Zahira kembali meraih bunga dan kartu pengirim berinisial R tersebut. Lama berpikir lalu menyingkirkan bunga itu, lagi pula dia tidak mengenal orangnya.


"Papa, darimana saja?" ucapnya setengah menangis, wajahnya pucat dan ketakutan.


"Aku membeli makan dulu untukmu. Dokter bilang kau harus makan setelah bangun." Anwar membuka bungkusan makanan.


"Dimana Radit Papa?" tanya Merry dengan bibir sedikit bergetar.


"Dia sudah pulang semalam." Anwar menyendokkan makanan dan menyuapi Merry.


"Papa mengusirnya? Dia tidak salah Papa!" Merry menangis dan tidak mau makan.


"Demi kebaikanmu, Papa mohon jauhi dia. Jika kau ingin menikah Papa akan mencarikan pria lain untuk menjadi suamimu, bisa lebih tampan atau kaya asal jangan Radit. Papa merasa dia tidak sebenarnya mencintaimu, Papa curiga." jelas Anwar tetap menyuapkan makanan ke dalam mulut Merry dengan paksa.


"Aku hanya ingin Radit." ucapnya mulai makan sedikit.

__ADS_1


"Sudahlah, sebaiknya kau makan dulu dan setelah itu kau hubungi sendiri. Tapi, Papa akan tetap mengawasimu. Papa yakin Radit memiliki maksud lain." Anwar tidak tau harus berbuat apa ketika Merry tetap bersikeras ingin dekat dengan Radit.


"Radit tidak jahat Papa." ucap Merry menghapus air matanya.


Anwar tersenyum sedikit, perasaan bersalah ikut hadir di hati terdalam pria tua itu. Sadar jika salah mendidik, terlalu memanjakan juga sebab terlalu menyayangi. Hanya Merry yang dia punya di dunia ini. Rasa takut kehilangan terus menghantui mengingat kesalahan-kesalahan yang telah putrinya lakukan, menimbulkan balas membalas pada akhirnya tetap Merry juga yang akan terkena akhir dari semua pembalasan.


Entahlah, sekuat apapun Anwar melindunginya. Hukum salah dan benar tentu tak bisa di bantah, yang benar selalu menjadi kuat, dan salah selalu membuat lemah.


Membesarkan seorang anak tanpa istri, membuatnya merasa kesepian dan hanya menumpuk kasih sayang hanya kepada Merry. Pengkhianatan! Ya kata yang sulit di jabarkan batas kekecewaannya. Sayang sekali putrinya malah menjadi penyebab banyak penderitaan bagi orang lain. Namun sekali lagi, seorang ayah tentu akan melindungi putrinya sekuat hati, bahkan sampai mati.


"Mana ponsel ku Papa?" rengek Merry yang entah saat ini jiwanya sedang kacau, membuat Anwar berpikir jika putrinya memang bersalah, dan Zahira tidak berbohong perihal penembakan Anggara. Lalu dimana putrinya menyembunyikan senjata Daniel?


"Pakai ponsel Papa saja Nak." lirih suara pria tua itu terdengar sedih. Merry sedikit tercekat menatap wajah tua yang selalu setia menjaga dan rela melakukan apa saja untuknya.


"Papa sedih?" tanya Merry merasa bersalah.


"Ya, takut kau menderita, tapi Papa tak bisa menolak takdir jika yang di atas inginkan kau menderita saat ini. Papa sudah berusaha keras Nak, jika sampai pria tua ini meninggalkanmu, maka habis sudah orang yang akan melindungi mu." ucap Anwar sedih.


"Papa tidak boleh meninggalkan aku." Mery memeluk Anwar.


"Anggara saja bisa mati di usia masih muda, apalagi Papa yang sudah tua ini." ucap Anwar mengelus kepala putrinya.


"Harusnya bukan Anggara Papa! Tapi Zahira." jawabnya masih memeluk Anwar.


Anwar menunduk. "Dimana senjata itu kau sembunyikan?" tanya Anwar pelan tapi penuh tekanan.


"Papa!" Merry tetap tidak mau mengaku.


"Jujurlah Nak, karena pilihanmu hanya sedikit. Mati di tangan mereka atau meringkuk di penjara selamanya." sedih Anwar hingga menjatuhkan air mata.


"Tidak Papa, aku tidak mau! Bukan aku pelakunya." Merry sungguh ketakutan.


Anwar tak menjawab, hanya menikmati aliran air mata yang tak bisa berhenti. Entah jika saat ini Anwar sedang menyesali?

__ADS_1


"Papa!" panggil Merry merengek memeluk laki-laki tua itu.


Jika melawan tak mungkin menang, maka menyerah adalah pilihan. Tentu semua ada resikonya, hanya ada yang besar dan ada yang lebih kecil.


__ADS_2