Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
118. Tanpa alasan


__ADS_3

"Apa maksud Papa?" tanya Merry dengan wajah heran.


"Kalian bertengkar bukan? Harusnya kau merayu dan mengalah untuk mengambil hatinya. Perusahaan kita sekarang nyaris tutup karena Anggara menarik sahamnya, papa sedang kesulitan." ungkap Anwar pada Merry.


"Papa sedang bercanda." Merry tak percaya apa yang di katakan ayahnya.


"Itu benar, Papa sedang tidak bercanda. Jika kau bisa bertahan maka kita bisa memanfaatkannya." Anwar duduk menyandar lelah.


"Aku hanya tidak suka dia masih saja memikirkan wanita sialan itu, harusnya dia sudah mati." ungkap Merry kesal sekali.


"Sayang, saat ini Anggara sudah tahu tentang kejahatanmu. Dia mengancam Papa dan meminta Papa memasukkan mu ke dalam penjara, tapi Papa memohon untuk tidak saat ini."


"Bagaimana dia bisa tahu Papa?" tanya Merry terlihat sangat ketakutan.


"Papa tidak tahu, tapi sepertinya dia memiliki alasan lain sehingga belum membawamu ke penjara. Papa sangat takut sekali, Papa sedang memikirkan rencana untuk menyerang balik Anggara agar tidak membawamu ke penjara, tapi Papa sedang kesulitan uang." ungkapnya sedih.


Merry terduduk di sofa ruang tamu itu, jantungnya sedang berolah raga seperti gendang yang sedang di tabuh. Rasa takut itu menyelimuti hatinya, teringat saat di rumah sakit pria itu mengatakan akan bertemu di kantor polisi. Artinya Anggara sudah bersiap untuk membawanya, Merry benar-benar pusing memikirkan nasibnya ke depan. Bagaimana dengan Laura, Radit pasti akan marah besar.


"Besok Papa akan mengantarmu kembali ke rumah Radit." ucap Anwar lagi.


*


"Mas, aku mau pulang." pinta Zahira pada Anggara, tangan yang terus berada dalam genggaman itu sedikit memberontak.


"Besok ya, kau butuh istirahat Sayang." Anggara membelai wajah cantiknya.


"Bukankah aku bisa istirahat di rumah saja? Di sini bau obat, aku tidak suka." rengekan manja itu selalu saja menyentuh hati Anggara.


"Kalau di rumah kau tidak akan istirahat Sayang, kau akan sibuk denganku dan akan kelelahan setelahnya." goda Anggara sesekali mengecup jari lentik Zahira.


"Itu membuatku sangat nyaman, kau selalu membuatku tenang." ucap Zahira dengan mata sendu.


"Apa jika aku tidak memelukmu ada yang membuatmu tak nyaman?" tanya Anggara ingin tahu apa yang dipikirkan istrinya.

__ADS_1


"Aku merasa ada yang selalu datang mengganggu pikiranku, di setiap malam aku sering terbangun dan merasa ada yang menyesak di dadaku."


"Sayang dengarkan aku, setiap orang memiliki masa lalu, baik itu menyenangkan atau menyedihkan. Kau, aku, dan semua orang memilikinya, pernah mengalaminya. Tapi tidak semua yang menyakitkan itu akan menakutkan, mungkin itu pelajaran untuk kita agar tidak menjadi lemah dan lebih waspada dengan hal serupa. Juga yang menyenangkan, kita tak dapat mengulang dan kembali menikmatinya sama seperti halnya yang menyedihkan, hal itu tidak akan kembali dan tidak akan terulang lagi. Apalagi sekarang ada aku, yakinlah aku tidak akan membiarkan apapun menyakitimu, aku akan menjagamu dengan nyawaku." Anggara berhenti sejenak.


Zahira masih tak berbicara, mendengarkan Anggara dengan memiringkan tubuhnya.


"Kita akan hidup bahagia Sayang, ada anak-anak kita yang akan memberikan kebahagiaan luar biasa, mereka akan sangat membutuhkan dirimu, mereka akan menjadi pelipur lara saat ingatan sedihmu kembali menyerang, mereka akan mengobati luka hatimu. Mereka akan memanggilmu ibu, dan aku ayahnya, itu sangat membuat aku bahagia. Memilikimu, memiliki anak-anak darimu, sungguh Allah baik sekali padaku, dan aku tidak mau kau bersedih hanya karena masa lalu. Anggaplah yang lalu itu sampah yang membuat hidungmu bau, dan singkirkan sejauh mungkin agar tidak menganggu."


"Sepertinya aku memang harus begitu, membersihkan sampah yang mengganggu itu. Termasuk wanita yang membenciku, aku ingin menyapu bersih semuanya." jawabnya kembali bersemangat.


"Aku bersedia menjadi sapu untuk membersihkannya." canda Anggara dengan tersenyum manis.


"Tidak, nanti kau malah tergoda dan membuat anak dengannya."


"Aku tidak tertarik, aku sudah memilihmu untuk menghabiskan sisa hidupku." Anggara mengelus tangan halus Zahira yang sedang meraih tengkuknya.


"Dimana Papa?" tanya Zahira tiba-tiba.


"Ada di luar, Papamu baru saja tertidur." jawab Anggara, pria itu selalu jujur.


"Tentu saja dia menghawatirkan-mu, dia sangat menyayangimu." Anggara tersenyum.


"Apa rumahnya jauh?" sikap selalu ingin tahu itu kembali terlihat.


"Tidak juga, mungkin tak sampai satu jam." jawabnya, tidak bisa menghindar dari tangan yang memeluk lehernya.


"Aku ingin ke sana."


"Asal kau selalu bahagia, aku akan menemanimu." Anggara mengelus kepala Zahira, meminta wanita cantik itu segera tidur.


"Tidurlah di sini, aku tidak mau sendiri." Zahira menepuk ranjang besar ruangan VIP itu.


"Aku takut khilaf." jawab Anggara masih dalam posisi duduk di kursi dan memeluk pinggang Zahira.

__ADS_1


"Aku menginginkan kau khilaf." jawab Zahira mulai menutup matanya, elusan hangat Anggara membuatnya nyaman sekali.


"Besok aku akan membuatmu tak berdaya Sayang." Anggara ikut memejamkan mata, sekilas senyum manis dari bibir merah merekah itu terbit, indah sekali seperti bulan sabit di mata Anggara.


Baru saja pria tampan itu memejamkan mata, ponsel di saku jasnya bergetar membuatnya terbangun dengan kepala sedikit pusing.


"Ada apa Jia?" tanya Anggara setelah menekan tombol hijau.


"Mata-mata Tuan Anwar berhasil lolos, kami tidak bisa mencari keberadaannya hingga malam ini." lapornya dengan nafas memburu.


"Apa yang mereka ingin tahu?" tanya Anggara.


"Mereka mengincar Nona Zahira." jawab Jia yakin sekali.


"Awasi laki-laki tua Bangka itu, kita tidak bisa menganggapnya remeh." Anggara merubah posisinya menjadi duduk, ia kehilangan rasa ngantuk karena kabar itu.


"Baik." Jia menutup panggilan ponselnya.


Anggara beralih menatap wajah cantik yang tidur miring di hadapannya, bibir merahnya mengerucut dengan nafas teratur mendamaikan hati. Anggara memeluknya dengan lembut, sungguh harta yang paling berharga baginya adalah dia, hanya dia saja.


Pukul 05:00 pagi Anggara beranjak dari duduknya, ia akan pergi ke kantor sesuai janjinya dengan Ricky.


"Kau mau kemana?" David yang baru saja selesai sholat menyapa Anggara.


"Aku akan sholat sebentar, tapi setelahnya akan ke kantor karena ada yang sangat penting. Aku titip Zahira, jangan tinggalkan dia walaupun hanya sebentar saja." Anggara berbicara serius.


"Ada apa?" David tahu persis jika Anggara sedang khawatir.


"Aku tidak bisa menjelaskannya." jawab Anggara meraih jaket yang dibawakan Jia, wanita itu baru saja tiba, segera masuk menjaga Zahira menggantikan Anggara.


"Kau bisa mengandalkan ku, dia putriku." David tersenyum, menerima kepercayaan dari teman lama itu, jelas terlihat jika Anggara tak berniat memisahkan mereka. Hanya dia terlalu menjaga Zahira, takut kehilangan istrinya.


"Putrimu sedang mengandung anak-anakku." Anggara tersenyum.

__ADS_1


"Pergilah." menepuk pundak Anggara, yakin bahwa Anggara adalah menantu yang baik.


Dalam hati David tertawa, tak menyangka takdir mempertemukan mereka, sudah pasti pernikahan itu terjadi bukan dalam keadaan yang tanpa alasan.


__ADS_2