
"Bisakah kakak menghubunginya, dia ada dimana?" Zahira menatap wajah asistennya.
"Baiklah, sekalian nomornya akan ku kirimkan ke ponsel anda." Tina tahu Zahira tak banyak memiliki banyak teman, semuanya serba terbatas, lebih tepatnya di batasi Radit untuk tidak berhubungan dengan banyak orang. Terkadang ia kasihan dengan calon direktur utama yang begitu polos, lugu dan baik hati ini. Bukankah seorang pemimpin harus memiliki banyak koneksi, baik itu rekan bisnis atau rekan-rekan lainnya, tapi jika di batasi terus-menerus dia akan terlihat bodoh. Namun sepertinya Zahira sedang berusaha menguasai pekerjaan, merubah cara pandang serta pergaulan, itu lebih bagus.
"Selamat siang pak Anggara!" suara Tina sedang menelepon.
"Nona Zahira ingin bertemu dengan anda?" ucapnya lagi.
"Oh baiklah, terimakasih."
"Bagaimana?" tanya Zahira begitu penasaran saat Tina selesai menelpon Anggara.
"Kita ke kantornya saja." jawab Tina begitu senang.
"Dimana kantornya?" Zahira tak pernah tahu, walau sebenarnya ia sangat penasaran.
"Kantornya sangat mewah dan besar, tidak sembarang orang bisa datang ke kantor itu." jawabnya terlihat sangat bersemangat.
"Baiklah, kita akan ke sana." Zahira segera beranjak di ikuti Tina di belakangnya.
Satu jam lebih mereka melaju dengan kecepatan sedang, dua wanita cantik beda usia itu tiba di sebuah gedung berpuluh tingkat. Keduanya sama takjub menyaksikan ANGGARA GROUP terukir mewah di atas gedung mewah itu.
"Aku jadi tidak percaya diri masuk ke dalam sana." Tina melihat semua karyawan yang keluar masuk tampil begitu mewah dan rapi.
Zahira tersenyum mengikuti mata Tina yang melihat kesana-kemari.
"Nona Zahira?" tanya seorang wanita mendekati mereka berdua.
"Iya." Zahira tersenyum ramah.
"Pak Anggara sudah menunggu." ucapnya tersenyum, meminta Zahira mengikutinya.
Naik lift saja memakan banyak waktu! Memangnya ruangan pria itu ada di lantai berapa? Tina memikirkan hal itu.
"Silahkan." suara wanita cantik itu meminta Zahira dan Tina keluar dari lift dan melangkah menuju ruangan besar.
"Masuklah beliau sudah menunggu." wanita itu membukakan pintu.
"Terimakasih." Zahira tersenyum.
"Akhirnya kalian tiba di kantorku." Anggara berdiri menyambut dua wanita itu baru saja masuk.
__ADS_1
"Maaf, aku mengganggu waktumu." Zahira menatap wajah tampan yang sering kali berdebat dengannya waktu itu.
"Tidak, aku senang kau ada disini." Anggara meminta mereka duduk.
"Terimakasih." ucap Zahira lagi.
"Apa kau butuh sesuatu sehingga datang menemuiku?" tanya pria itu, duduk tak jauh dari Zahira.
"Aku ingin tahu semua aset ayah dan ibuku, aku sedang berpikir untuk mengelola dan mengembangkannya." ungkap Zahira.
"Oh, aku hanya mengetahui, kalau berkasnya ku rasa di simpan oleh papamu. Tapi ada satu berkas yang aku miliki yaitu sebuah Vila di puncak B." jelasnya.
"Puncak?" tanya Zahira dia begitu tidak percaya.
"Iya, aku punya salinan berkasnya karena aku yang membelinya untukmu saat kau lahir ke dunia ini." Anggara beranjak menuju kemari besar penuh dengan berkas, sungguh berkas itu begitu banyak dan tersusun rapi. Pria itu mengambil satu dan memberikannya pada Zahira.
"Itu milikmu, kau bahkan belum pernah menginjakkan kaki di sana." jelasnya lagi.
"Aku ingin menempatinya suatu hari nanti." ucap Zahira melihat berkas yang baru saja diambilnya, di sana juga ada foto Vila yang di maksud.
"Tentu saja, kau bisa berlibur dan bersenang-senang di sana. Vila itu masih terawat dengan baik bahkan menghasilkan uang setiap akhir pekan, keuangannya di simpan penjaga vila itu sendiri. Nanti saat melihat kau datang dia akan mengenalimu."
"Aku akan memberi tahunya." Anggara tersenyum melihat gadis itu begitu polos dan menggemaskan.
Zahira ikut tersenyum menyadari kebodohannya.
"Kita makan siang bersama." Anggara berdiri dari tempat duduknya.
"Tapi_"
"Tidak ada tapi, kita akan makan bersama." Anggara tidak ingin di tolak.
"Sikap keras kepalanya kumat lagi." gumam Zahira.
"Aku mendengarnya!" Anggara melirik sekilas, membuka pintu dan menunggu dua wanita itu keluar lebih dulu.
"Kantormu besar sekali." Zahira melihat banyak ruangan tempat mereka berjalan.
"Karena orangnya juga banyak, pegawaiku ada ribuan." jawabnya masuk lebih dulu di ruangan besar.
"Aku jadi ingin memiliki kantor besar seperti ini." Zahira ikut masuk dan melihat itu adalah ruang makan.
__ADS_1
"Nanti kau akan memilikinya." ucap Anggara, 'Jika kau menjadi istriku." sambungnya dalam hati.
"Aku akan menunggu saat itu tiba." Zahira tersenyum bahagia.
"Tentu saja." Anggara tersenyum penuh arti, "Ayo makan."
Saat pria itu masuk ruangan, dua orang pegawai berseragam itu langsung menyiapkan makanan. Dia memang tuan besar yang kaya raya.
*
Berkali-kali Radit menghubungi Zahira namun ponselnya tidak aktif, lama hingga pukul lima sore, suara deru mobil memasuki rumah Zahira.
"Darimana saja seharian tanpa mengabari ku?" Radit berdiri di depan pintu dengan sengaja.
"Aku kekantor bersama kak Tina hingga sore, ada apa Radit?" Zahira meraih tangan Radit dan mencium punggungnya.
"Hanya sedikit heran kau pergi tanpa memberitahuku." Radit seakan tahu jika Zahira tak ada di kantor.
"Tadi aku keluar bersama kak Tina, sekalian belajar menyetir." ucapnya lagi, berusaha tenang dan tidak menampakkan kecurigaannya.
"Lain kali kau tidak boleh begitu, pergi harus memberitahu dan izin padaku." Radit memeluknya walau rasa kesal masih terlihat.
"Itu juga berlaku padamu Radit, kau juga tidak boleh pergi tanpa memberitahuku, dan jangan diam-diam pergi dengan ponsel yang mati." Zahira seperti mendapat celah untuk memberitahu sebagian kekesalannya.
"Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi." ucapan itu menyadarkan Radit.
"Dan aku tidak akan mengulanginya lagi." Zahira tersenyum manis sekali.
"Besok aku harus kerja full di kantor." Zahira memulai lagi pembicaraannya setelah duduk di kamar mereka.
"Kenapa harus full sayang, apa kau sedang belajar untuk tidak membutuhkan aku?" Radit menebak pikiran istrinya.
"Aku hanya belajar bekerja Radit, kau juga pasti akan sibuk setelah mama menyerahkan kantor milikmu." jawabnya lembut.
"Aku hanya tidak ingin jika istriku terlalu mandiri dan tidak membutuhkan aku lagi." Radit merengkuh tubuhnya, begitu ia menyayangi Zahira walau tanpa sengaja ia telah mendua. Tapi sungguh hatinya tak p pernah mendua, hanya ada satu nama yaitu Zahira saja.
"Aku selalu membutuhkanmu, hanya aku tak tahu apa kau akan selalu ada untukku Radit." ucapnya lirih di akhir kalimat, hatinya sungguh bersedih mengingat ucapan Ana tadi siang.
Bagaimana jika benar Radit memiliki wanita lain dan sedang mengandung anaknya? Zahira tidak bisa membayangkan itu. Dengan usia dan pergaulan yang sangat ia ketahui mana mungkin Radit bisa memiliki dua wanita sekaligus. Tapi, kembali lagi dengan apa yang di dengarnya, dia sedang berpikir untuk mengetahuinya.
"Kau memikirkan sesuatu sayang?" tanya Radit melihat wajah yang sedang menyandar di dadanya.
__ADS_1