Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
182. Di hadang


__ADS_3

"Mama?" Zahira melihat mobil Ayu juga sudah ikut di belakang mobilnya.


"Nyonya sudah dua jam yang lalu ada disini Nona." jelas Jia.


"Mengapa tidak memberitahu aku?" Zahira masih memandangi mobil Ayu.


"Nyonya hanya ingin bertemu Satria dan Sadewa, tidak ingin mengganggu istirahat Nona." jelasnya lagi.


"Oh, baiklah. Nanti akan bertemu di bandara." menyandar, Ia masih mengantuk dan Anggara tahu itu, ia menggenggam tangan Zahira, meremas jari-jarinya sejenak namun penuh kehangatan.


Mobil mulai melaju, fajar di akhir bulan itu akan menjadi kisah baru, memulai hidup baru di negara yang berbeda. Tidak masalah, yang terpenting bagi Zahira keluarganya akan selalu bersama, bahagia bersama hingga maut menjemput. Ya, seperti itulah harapan wanita muda yang begitu menyayangi keluarganya.


"Ibu, Ayah tampan sekali." Satria melihat Anggara dari kursi belakang, anak laki-laki pintar itu berpegangan di jok tempat Anggara menyetir dengan wajahnya menyamping, mendekat di pipi sang ayah.


"Ayahmu memang selalu tampan Sayang." Zahira menatap jahil suaminya yang memang tampan, rahang tegas dengan hidung mancung, mata kecoklatan yang selalu menatap mesra, bibir tipis dengan bulu-bulu pendek di sekitar, Zahira selalu terhanyut jika mendapat ciuman darinya.


"Itu juga sebab ibumu semakin tidak mau jauh dari Ayah." Anggara balas menggoda Zahira. Meski hanya di tanggapi dengan senyum manis dan lirikan sayang dari Zahira.


"Jika besar nanti, aku ingin seperti Ayah, Sadewa ikut berdiri di belakang Zahira.


"Tentu saja Sayang, kalian anak-anak yang pintar dan hebat, seperti Ayah." Zahira memegang pipi halus kedua putranya.


Mereka tertawa dan bangga memiliki orang tua yang hebat, Satria memeluk Anggara, Sadewa memeluk Zahira, mereka kompak sekali memeluk melingkarkan tangan kecilnya di leher Zahira juga Anggara. Perjalanan yang tak seberapa jauh itu di selimuti dengan bahagia dan kasih sayang yang utuh.


"Kalian harus bisa menjaga Ibu, mana tahu sebentar lagi kalian akan punya adik." Anggara melirik Zahira lagi, tatapan sedikit nakal dengan senyum selalu mengembang.


"Sebentar, aku ingin memberitahukan sesuatu Mas." Zahira meraih tas yang ia letakkan di depan kaca. tangan kecilnya membuka resleting dan mencari sesuatu.


"Mencari apa Sayang?" tanya Anggara menoleh, tapi tetap fokus menyetir.


"Sebentar, tadi aku menyimpannya di dalam sini." Zahira terus mencari, sehingga Jia meraih tubuh kecil Sadewa untuk duduk.

__ADS_1


"Awas!" Jia berteriak melihat mobil hitam meluncur dari arah depan dengan begitu kencangnya. Anggara yang juga terkejut langsung membanting setir dan mobil menjadi tak terkendali, beruntung di sekitar jalan ada perkebunan sayur milik warga, sehingga mobil Anggara berhenti karena adanya galangan cabai yang beberapa rusak terlindas.


"Mas!" Zahira memegang dadanya, ia sangat terkejut.


"Satria, Sadewa!" Anggara menoleh cepat, tampak Jia memeluk kedua anaknya dengan meringis, sudah pasti di terbentur.


"Jia, kau terluka Zahira juga menoleh, bodyguard cantik itu masih meringis.


"Hanya terbentur sedikit." jawabnya mengusap kepala dan meluruskan kaki yang ia naikkan sebagai penahan agar Satria dan Sadewa tidak ikut terbentur.


"Kita harus keluar, naik mobil Mamamu atau Hiko saja." Anggara membuka sabuk pengaman.


Jia turun lebih dulu, melihat mobil rekannya sudah menunggu, tapi anehnya mereka terlihat fokus ke arah depan.


"Tuan sebaiknya tetap bersama Nona Zahira, Aku akan mencoba membawa mobil ini mundur." Jia segera mengambil Alih posisi Anggara, dan Anggara masuk ke belakang mendekati putra-putranya.


Tapi mobil Anggara kesulitan keluar dari lahan warga karena terjebak beberapa tanah perkebunan.


"Sial!" teriak Jia memukul setir mobil.


"Kau tetap bersama Jia dan anak-anak." Anggara membuka pintu, tentu ia ingin tahu apa yang terjadi. Hatinya berkata jika mobil-mobil itu sengaja menghalangi laju mereka, dan sudah pasti dalangnya adalah Daniel.


"Mas!" Zahira juga membuka pintu, namun di tahan oleh Jia.


"Akan lebih aman di dalam sini Nona." ucap Jia masih memegang tangan Zahira.


"Tapi Jia, suamiku sendirian." Zahira tetap ingin keluar.


"Hiko ada di luar, lebih baik menjaga anak-anak." Jia menoleh kedua putra konglomerat itu dengan khawatir, mereka masih terlalu kecil untuk melihat perkelahian orang-orang terdekat mereka. Itu sama sekali tidak baik, bahkan hanya sekedar menonton film laga mereka masih di larang.


"Bibi, mengapa banyak sekali orang jahat?" tanya Satria cepat memahami keadaan.

__ADS_1


"Itu karena mereka malas belajar, dulunya ketika anak-anak, mereka tidak mendengar kata ibu dan ayahnya. Sehingga ketika dewasa menjadi orang jahat dan tidak memiliki masa depan yang jelas. Bisa di katakan mereka tidak memiliki pekerjaan." Jia menjelaskan hal yang mungkin masuk akal.


"Kasihan sekali." gumam Sadewa.


"Mereka tidak untuk dikasihani, tapi di basmi!" ucap Satria geram sekali.


"Kau kejam sekali, bahkan di sekolah kau memukuli anak Ibu guru!" Sadewa tidak sependapat.


"Karena anak Ibu guru itu sombong dan nakal, dia pantas di pukul." jawab Satria dengan wajah sombongnya.


Zahira tidak memperhatikan obrolan anak-anak, tapi fokus dengan Anggara yang mulai berhadapan dengan seseorang, sedangkan di belakang Anggara, Hiko dan Dua temannya sedang menghadapi beberapa orang yang baru saja keluar dari mobil.


"Jia, mereka membawa senjata!" Zahira berteriak melihat dua orang keluar dari mobil pickup dengan membawa kayu dan memutar-mutarnya bersiap memukul Anggara.


"Jia, keluarlah dan bantu suamiku!"


"Dia tidak akan apa-apa, Nona tenang saja." Jia masih tak beranjak. Seperti biasa mata Jia menatap sekitar, ia akan mudah mengetahui orang yang sedang bersembunyi. "Kita keluar!" ucapnya berteriak, namun seseorang sudah ada di depan pintu keluar Zahira. Zahira memekik dan sungguh takut.


"Jia!" teriaknya, namun kemudian ia berusaha untuk tidak takut. Pria itu beralih ke pintu belakang dimana anak-anak berada dan mengeluarkan kayu untuk memukul kaca.


Jia keluar dengan cepat dan menyerang dengan gesit, perkelahian terjadi dan beberapa pukulan berhasil mengenai pria itu hingga pingsan.


"Kita keluar!" Zahira mengajak kedua anaknya, berpegangan tangan dan langsung menuju Anggara.


"Sayang!" Anggara yang baru saja mengalahkan Dua orang penjahat itu segera memeluk dan menjaga ketiga kesayangannya.


Jia mendekati kedua putra Anggara, menjaga dan mengawasi sekitar, menuju mobil lain di pinggir jalan.


"Mama!" Zahira melihat Ayu tidak bisa keluar karena mobilnya di apit dua mobil lain.


Ayu menunjuk kaca, ia meminta seseorang untuk memecahkan kaca mobil bagian depan. Tentu itu membuat Jia berpikir, melihat kayu dan memecahkan kaca sehingga Ayu dan David bisa keluar dan menolong anak juga cucu-cucunya.

__ADS_1


__ADS_2