
"Tidak ada hubungannya dengan Vino." ucap Merry dengan mata yang nyaris menangis.
"Harusnya kau tidak memintaku untuk menikahimu jika ada orang lain yang menyumbang benih di dalam perutmu itu." Radit menatap sinis dan menunjuk perut Merry.
"Kau tega sekali mengatakan itu." ucapnya lirih, ia menangis dengan penuh kesedihan, juga karena sedang ketakutan sehingga tubuhnya terasa lemah dan sedikit gemetar.
"Kau yang lebih tega, kau bahkan menghancurkan hidupku. Membuat Aku gila, membuat Papa sakit dan bersedih, membuat Mama terpukul hingga menangis setiap hari, karena kehilangan Zahira, kau tidak mengerti betapa berartinya Zahira untuk keluargaku, kau tidak akan pernah mengerti!"
"Lagi-lagi wanita itu, apa tidak bisa kau menghargai aku sedikit saja. Kau dan ibumu! Kau bilang seribu orang wanita sepertiku tak akan bisa menandingi Satu orang Zahira! Kau menyakitiku Radit! Kau menghinaku!" teriak Merry sungguh emosi.
"Memang itu kenyatannya, kau hanya wanita licik yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan seorang laki-laki. Bahkan kau rela ditiduri orang berkali-kali hanya untuk menjebakku dalam pernikahan tidak sehat ini!" bentak Radit menunjuk lantai tempat mereka berdiri.
"Kau hanya tidak tahu bagaimana kelakuan mantan istrimu di belakangmu, dia bahkan sudah dekat dengan pria tua itu sebelum kalian berpisah." Merry ingin membuat Radit kesal.
"Dia tidak seperti itu, dia wanita baik-baik yang tidak akan mau menerima laki-laki lain selain suaminya. Jangan harap aku akan percaya pada wanita penipu seperti dirimu, dan kau dengar baik-baik! Sore ini aku sedang menunggu hasil tes DNA Laura, jika hasilnya tidak cocok maka aku akan segera menyeretmu ke penjara." Radit menunjuk wajah Merry yang semakin tegang, ia berlalu menuju kamarnya tanpa peduli Merry ataupun Laura.
"A-apa? Tes DNA?" mata bulatnya kembali mengeluarkan air mata, sejenak kemudian ia menatap Laura.
"Tidak!" Merry menggeleng dan menangis, ia kembali masuk ke dalam kamar dan mengemas sebagian pakaian Laura juga pakaiannya. Ia meraih tas dan menggendong Laura, kali ini ia meraih kunci mobil Radit dan membawanya melaju bersama Laura.
Sedangkan di lantai Dua, Radit baru saja keluar dari kamar mandi dan ia menajamkan telinganya saat deru mobil keluar dari halaman rumah itu. Karena penasaran ia melihat dari jendela dan betapa terkejutnya ia ketika mobilnya sudah melaju melewati pertigaan gang di depan rumahnya.
"Merry!" geramnya mengepalkan tangan dan segera mengganti pakaian sambil menghubungi seseorang.
"Halo!" jawaban dari seberang sana.
"Merry kabur membawa mobilku, baru saja ia pergi. Aku minta padamu untuk segera mengejar dan mengepungnya." ucap Radit sambil memakai kaos dan celana pendek dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Apa kau tidak mengejarnya?" pertanyaan yang membuat Radit geram.
"Hey, yang di bawa Merry adalah mobilku, aku harus mengajarnya pakai apa?" Radit kesal sekali, ia masih menelepon dengan menuruni tangga.
Panggilan ponsel terputus.
"Dasar tua bangka!" umpat Radit sambil keluar dari halaman rumahnya.
Sedangkan di tempat lain Anggara sedang menghubungi banyak anak buahnya, ia meminta untuk segera menemukan Merry dan Laura. Ia juga menghubungi polisi kali ini, ia tidak ingin menunda lagi, sudah waktunya mereka semua bertemu di hotel mewah, makan gratis dan tidur gratis di balik jeruji besi, membayar rasa dinginnya Zahira saat hanyut di sungai dengan nyawa hanya tinggal sedikit, dan koma berbulan-bulan.
"Sayang, aku keluar sebentar!" Anggara mendekati Zahira yang sedang bersantai dengan banyak makanan yang di siapkan Bibi.
"Kenapa harus keluar, ini sudah hampir Maghrib." tentu saja tak mudah untuk keluar rumah jika sudah di dekat Zahira.
"Ada urusan sebentar sayang, kau tak boleh ikut ini sudah terlalu sore." rayu Anggara, ia tahu jika Zahira tak suka suaminya pergi lagi setelah pulang bekerja.
"Lagi pula makanan ini sudah di hidangkan Bibi, aku janji tidak akan lama." ucap Anggara lagi, meraih dan mengecup pucuk kepala Zahira.
"Baiklah." jawab Zahira mengalihkan perhatiannya pada banyak makanan kesukaannya, ia selalu menghabiskan banyak makanan, bahkan jika itu telur dia akan meminta dua untuk sekali makan. Semuanya harus dua walaupun akhirnya tidak di habiskan.
"Jangan keluar! Ingat untuk selalu bersama Jia." pesan Anggara, ia masih khawatir dengan anak buah Anwar yang mungkin saja bisa terjadi sesuatu di luar dugaan.
"Iya." Zahira tersenyum menikmati ciuman di keningnya.
Anggara berjalan menuju keluar. " Jia jangan tinggalkan Zahira, hubungi aku jika ada sesuatu." Anggara juga berpesan pada bodyguard wanita itu.
"Baik." jawab Jia menunduk mengerti, wanita bertubuh kecil itu langsung berbalik menuju meja makan Zahira dan berdiri di sampingnya.
__ADS_1
*
"Aku rasa dia akan ke rumah ayahnya." tebak Radit yang juga sedang mengemudi, ia berhasil meminjam mobil tetangga dengan jaminan surat pengendara miliknya.
Begitu juga dengan anak buah Anggara, mereka menyebar dan mencari jejak mobil Radit melalui CCTV jalan dan cara yang lainnya.
Sedangkan polisi sibuk dengan menutup jalan dan memeriksa setiap kendaraan juga pengemudi di seluruh persimpangan. Dapat di pastikan jika Merry tak akan bisa lolos.
Tapi berbeda di tempat lain. Anwar sedang sangat tegang mendengar kabar bahwa putrinya sedang melarikan diri, pria itu sungguh takut dan bersedih. Ia nyaris tak bisa berpikir harus melakukan apa untuk menolong putrinya, ia sungguh tak dapat membayangkan jika sampai Merry harus di tangkap polisi.
Pria tua itu meraih ponselnya.
"Kau bawa dia padaku, jika masih ingin melihat ibumu!" ucapnya dengan nada mengancam.
Kemudian Anwar menutup ponselnya, tapi sejenak setelahnya ia kembali menghubungi seseorang.
"Kau ada di mana Nak?" ucapnya dengan wajah bersedih, nafasnya berat sekali.
"Sial!" Merry mengumpat di tengah jalan Raya itu dia melihat polisi sedang memeriksa setiap kendaraan, juga memperhatikan warna dan juga jenis kendaraan roda empat yang lewat. Merry memutar arah, ia memilih jalan yang lebih sepi, mungkin dengan begitu akan bebas dari pengawasan polisi.
Namun tidak sesuai dengan harapan, Merry juga melihat ada beberapa orang polisi berjaga di persimpangan setiap jalan bahkan di gang-gang.
"Anggara!" pekiknya, ia sudah bisa menebak jika yang bisa melakukan itu hanyalah pria tua itu.
Merry mencoba pergi ke arah lain, kali ini jalanan yang jauh dari keramaian. Dan benar saja di sana tak ada polisi.
"Hahahah! Akhirnya." teriak Merry, namun teriakan bahagia itu malah membuat Laura menangis.
__ADS_1
Dan yang lebih membuat Merry khawatir adalah dua mobil mengejarnya dari belakang, dia mulai panik, ia bingung harus bagaimana sedangkan Laura terus menangis entah mungkin karena lapar atau bayi itu takut karena mobil mereka melaju dengan tidak stabil.