Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
07. Bayi ingin menikah


__ADS_3

"Non, makan dulu ya mbok udah siapin di meja. "Mbok Tuti menunjuk meja yang tak jauh dari pohon mangga.


Zahira tampak senang sekali dan mengajak Radit untuk makan. "Mbok, papa ada dimana?" Zahira menanyakan David.


"Pak David keluar sebentar non." Mbok Tuti menyiapkan minum untuk dua orang anak muda yang sudah duduk di posisi masing-masing, sungguh posisi duduk itu mengingatkan mbok Tuti pada masa itu, nona majikannya duduk di sana bersama suaminya yang tampan, makan dengan lahap dan bahagia. Sesekali mbok Tuti melirik pria tampan di samping Zahira, ada cinta yang luar biasa di matanya ketika menatap nona cantik anak majikannya. Mbok Tuti tersenyum seolah kembali ke masa lalu, menyaksikan cinta luar biasa yang membuat mbok Tuti meleleh kala itu.


"Apa tidak bosan makan ayam terus menerus?" Radit melihat Zahira mengambil paha ayam.


"Ini enak Radit." gerutunya.


"Ya sudah, makanlah yang banyak agar kau sedikit gendut." Radit tersenyum dengan sudut mata tak berhenti meliriknya.


"Kalau gendut aku akan terlihat jelek." Zahira menjawab sambil mengunyah.


Radit menatapnya dengan tersenyum, membiarkan gadis itu makan apa saja yg dia suka, sepertinya masakan mbok Tuti pas dengan selera Zahira. Tentu membuat mbok Tuti senyum-senyum bangga.


"Kalian sedang makan?" suara David membuat kedua orang itu menoleh.


"Papa ayo makanlah, aku lapar jadi tidak menunggu papa." Zahira menepuk kursi di sampingnya meminta David duduk di sana.


"Baiklah, Papa juga sudah lama tidak makan di rumah ini." David menurut duduk di dekat Zahira.


"Apa Papa sering datang ke sini?" Zahira menatapnya penasaran.


"Tentu, bahkan Papa sempat tinggal disini bersama ayahmu saat kami belum menikah. Cukup lama, hingga ayahmu menikahi ibumu ayah pulang ke rumah kita. Rumah ini di berikan ayahmu sebagai mahar pernikahannya." David menunda aktifitas makannya, dia terlihat bersemangat menceritakan masa lalu.


"Ayahku sangat mencintai ibu." Zahira terharu mendengar ceritanya, dia membayangkan kelak dirinya mendapatkan cinta yang tak kalah besar dari yang ayahnya berikan pada ibu.


"Kelak kau akan mendapatkan cinta yang lebih besar dari itu." Radit menyahut tanpa menatap wajah siapapun.


David tersedak mendengar ucapan anaknya yang seperti sedang menyatakan cinta, "Dasar bayi, tidak tau tempat sudah mengatakan cinta-cintaan." gumam David di dalam hati. Dia minum air putih miliknya sampai habis.


Zahira menuangkan lagi air putih kedalam gelas David. "Pelan-pelan Papa." ucapnya. Zahira sudah selesai lebih dulu, dan meninggalkan ayah dan anak itu berdua.


"Radit, Papa tau kau mencintai zahira, tapi papa harap kau menjaganya. Hingga waktunya tiba, kau bebas melamarnya atau menikahinya jika dia setuju. Papa tidak melarang, tapi Papa minta jaga batasan kalian, dan papa pikir Zahira belum tau jika kau dan dia tidak ada hubungan darah." David bicara serius.

__ADS_1


"Aku tau Papa, Papa tidak perlu khawatir." Jawab Radit begitu yakin.


"Ayah Zahira sangat menjaga ibunya karena dia sangat mencintainya. Papa harap kau juga melakukan hal yang sama. Itu akan sangat membuat Papa bangga." David menambahkan nasehatnya.


"Aku mengerti." jawabnya lagi.


"Papa, ayo kita pulang." suara Zahira terdengar manggil David.


"Iya sayang." David meninggalkan meja makan dan mengucapkan terima kasih pada mbok Tuti lalu kemudian mereka bertiga pulang ke rumah David.


***


Keesokan harinya, Kedua suami istri itu tampak sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja, Zahira juga Radit sudah sarpan lebih dulu. Tampak begitu sempurna keluarga ini, bahagia mendengar sapaan dan candaan yang penuh kasih sayang. Terlebih lagi Zahira yang selalu terlihat manja dengan semua orang.


"Sayang hari ini kau kembali ke kantormu, dan Radit ikut Mama di kantor Mama." David membagi tugas kedua anaknya.


"Papa aku ikut Zahira saja." jawabnya mengakhiri sarapan pagi.


"Tidak Radit, perusahaanmu yang di pegang Mama, itu mutlak milik Zahira. Ada lagi Cafe yang bisa kalian kelola berdua seperti Papa dan Ayahmu dulu." David menatap keduanya.


"Sepertinya itu menarik." Radit menjawab tak acuh.


Membuat semua orang menatapnya tidak percaya, kecuali Radit yang memang sudah tau segalanya tentang Zahira.


"Ah baiklah, mari kita berangkat." Ayu tidak ingin membahas hal yang sama dengan putri kakak angkatnya yang manja itu, dia akan selalu menemukan jawaban jika di ajak berdebat.


"Mama." Panggilnya manja, sungguh tatapan memohon itu membuat ayu tak tega.


"Ah Zahira akan berangkat bersama Papa." David mengalihkan perhatian.


"Oke." Ayu berlalu dengan cepat, walaupun hatinya ragu.


Seperti biasa, tiba di kantor Zahira kembali belajar tentang berkas-berkas yang membuatnya jenuh. Matanya tidak fokus dan dengan sesekali bibir mungil itu menggerutu.


"Ada apa?" Anggara bertanya dengan meliriknya.

__ADS_1


"Tidak." jawab Zahira. Dekat dengannya membuat Zahira irit bicara.


"Kenapa kau tidak suka bekerja, bukankah wanita akan terlihat tangguh dan anggun jika dia memiliki karier yang bagus. Itu nilai yang lebih untukmu." Anggara mengajaknya bicara.


"Aku tidak ingin menjadi wanita yang tangguh dan anggun, aku ingin menjadi wanita yang dicintai suamiku, mengurus suami dan anak-anak saja di rumah. Tidak perlu repot mengurus kertas-kertas yang menjengkelkan ini." dia menunjuk kertas di hadapannya.


"Kau ingin menikah muda." Gara tertarik dengan obrolan gadis manja yang masih belasan tahun.


"Iya." jawabnya singkat.


Anggara tersenyum melihat wajah yang lucu itu, menggeleng-gelengkan kepalanya merasa aneh sekali di zaman modern seperti ini masih ada wanita muda yang berfikiran seperti itu.


"Jangan menertawaiku." Zahira menggerutu.


"Tidak, aku hanya heran." Anggara semakin melebarkan senyumnya.


Zahira menoleh, 'Aih kenapa dia tersenyum begitu menatapku.' ucapnya di dalam hati. Pura-pura tidak melihat adalah pilihan aman untuknya. "Berapa umurmu, kenapa kau malah ingin membahas tentang keinginanku?" tanya Zahira kemudian.


"Aku 38 Tahun. Aku menyelesaikan pendidikanku lebih cepat dari orang lain, Sekolah dasarku hanya lima tahun, Sekolah menengah pertamaku dua tahun, dan sekolah menengah akhir ku dua tahun juga." Jelasnya.


"Kau hebat sekali, apa kau sudah menikah?" Zahira bertanya tanpa berpikir apapun.


"Belum." jawabnya singkat.


"Kenapa belum?" Zahira menatapnya dengan penasaran.


"Kau sangat penasaran, apa kau sedang berpikir ingin menjadi istriku?" tanyanya dengan mengangkat sedikit wajahnya.


"Kau percaya diri sekali." Zahira memutar kedua bola matanya.


"Kau memang sedang mencari suami bukan, agar terbebas dari pekerjaanmu ini." Anggara mendekat dan menunjuk kertas yang di bawah tangan kecil itu.


"Tapi tidak tua sepertimu!" Zahira memanyunkan bibirnya.


"Tapi aku sangat tampan, wanita di luar sana banyak yang mengejarku." Anggara semakin menggodanya.

__ADS_1


"Aku ini masih bayi." ucap Zahira menghindar.


"Apa ada bayi yang sudah sangat ingin menikah?" Anggara membuat wajahnya bersemu merah.


__ADS_2