Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
189. Mendekati seorang gadis


__ADS_3

"Zahira!"


"Om." Zahira sedikit terkejut dengan kedatangan Ricky di pagi itu.


"Wow, sarapan yang enak!" Ricky melihat anak-anak sedang sarapan kentang, susu dan ayam tepung seperti kesukaan ibunya.


"Apa kau mau?" Satria menyodorkan potongan ayam kepada Ricky.


"Boleh juga, tapi di bungkus saja." Ricky duduk di samping anak-anak sahabatnya itu.


"Apa kau tidak malu, membawa bungkusan ayam ke kantor?" Satria paling bisa membuat orang salah tingkah.


"Memangnya kau membawa bekal apa?" Ricky menyukai cara berbicara Satria.


"Tidak. Aku sudah kenyang jadi tak perlu membawa apapun." jawabnya melepaskan sarapannya yang sudah habis.


"Tentu saja kenyang, Ayam sepotong dengan roti tawar dan susu satu gelas penuh! Itu makanan orang dewasa!" Ricky menunjuk piring Satria.


"Aku butuh banyak energi untuk berpikir." jawabnya tak pernah kehabisan kata-kata.


"Apa yang bisa dipikirkan oleh anak-anak sepertimu?" Ricky belum berhenti mengajaknya bicara.


"Mencari pengganti asisten Ayahku jika nanti aku menjadi Bos!" jawabnya meninggalkan meja makan, meraih tangan Jia untuk segera pergi sekolah.


"Dasar bocah!" gumam Ricky kesal, pria itu mengambil ayam dan memakannya.


"Maaf!" Zahira tersenyum menatap wajah Ricky yang di tekuk.


"Dia tidak seperti ayahnya." Ricky memperhatikan Sadewa yang sedang mencium tangan Zahira, juga tangannya sebelum pergi.


"Tapi suamiku menyukainya." Zahira tertawa dengan membuka piring dan ikut sarapan.


"Ya, dia seperti ayahmu. Dulu kami semua berteman jadi kami mengenalnya sangat baik. Pintar, berani, jujur, dia tidak takut apapun." jelas Ricky membicarakan ayah Zahira.


"Mas Anggara juga mengatakan hal yang sama." Zahira mengunyah makanan, ia suka dengan kedatangan Ricky, mengenang suaminya bersama-sama.


"Aku menjemputmu untuk bekerja hari ini, agar kau tidak bosan di rumah. Mungkin sekaligus belajar dan melupakan kesedihanmu." Ricky meletakkan tulang Ayam di piringnya, dia sudah selesai.


"Tapi aku harus cek ke dokter kandungan." Zahira tampak berpikir.


"Pergilah, biar nanti Bibi minta Dokter Amelia untuk datang ke rumah." Bibi membereskan piring yang sudah kotor, memberikan pada asisten rumah tangga yang lain.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan bersiap." Zahira beranjak dari meja makan, naik kelantai Dua bersiap pergi ke kantornya.


"Itu lebih baik, Bibi kasihan melihat Non Zahira setiap hari dia hanya melamun dan menangis." ucap Bibi kepada Ricky.


"Aku tahu Bi." Rikcy menyandar sambil menunggu Zahira.


Sementara di tempat lain.


Radit sedang menuju sebuah area pertokoan, dia berpakaian rapi dan tampan seperti biasa. Pria itu membeli sebuah tempat di sana, sengaja untuk mendekati seseorang yang pagi ini akan ia jumpai.


Radit turun dari mobilnya, dengan langkah pasti ia memasuki Toko besar yang menjual alat elektronik lengkap. Pegawainya juga sengaja direkrut dari kantor agar tidak perlu belajar untuk mengatur semuanya.


Seorang wanita juga baru saja datang, ia turun dari mobilnya dan menoleh ke arah Radit. Tapi pria tampan itu sedang fokus dengan ponselnya, dia juga tidak memperhatikan sekitar yang sudah mulai ramai.


"Radit!" panggilnya setelah beberapa saat memandangnya dari jauh.


Radit menoleh, tapi kembali fokus menatap ponselnya. Ia tak peduli dengan wanita yang kini berdiri dibelakangnya, bahkan sudah beralih posisi di sampingnya.


"Bukankah kau pengusaha kaya, mengapa sampai membuka toko di sini?" tanya Merry memicingkan mata. Ini adalah pertemuan ke tiga kalinya.


"Ini tempat umum, siapa saja bisa membelinya. Apalagi harganya sangat murah jika dibandingkan ruko di tengah kota. Apa ada masalah?" tanya Radit menatap Merry curiga.


"Ah, ti-tidak." jawabnya gugup.


"Radit!" panggilnya lagi.


"Aku sibuk." Radit pergi dari tempat itu tanpa menoleh siapapun.


"Untuk apa dia datang kemari? jika untuk menemui ku mengapa malah benci saat aku mendekatinya, harusnya dia suka?" Merry bergumam dengan pertanyaan banyak mengisi kepalanya.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya seorang pegawai di toko Radit.


"Tidak, aku mengenal Bos kalian, tapi sepertinya dia sedang sibuk." Merry tersenyum canggung.


"Oh, dia memang sibuk. Kami sedang mencari beberapa ruko yang akan dijual, mungkin Lima tempat, untuk membuka cabang lebih besar. Karena jika hanya satu maka barang yang terjual terlalu sedikit." jelas pegawai Radit.


"Begitu." Merry meninggalkan tempat itu, kembali ke Butik miliknya.


Seharian ia berpikir tentang pertemuannya dengan Radit, ia jadi terganggu dengan adanya pria tampan yang masih didambakannya. Sempat terpikir untuk pergi ke luar negeri, tapi ia tak bisa bahkan hanya sekedar keluar kota, statusnya masih tahanan.


"Tapi, jika dia sedang mendekati aku, harusnya tidak menghindar. Dan lagi dia tidak suka berbicara padaku, untuk apa pula dia membeli banyak ruko jika niatnya bukan untuk berbisnis." Merry berbicara sendiri.

__ADS_1


"Nona sedang membicarakan siapa?" seorang pegawai butiknya mendengar Merry berbicara sendiri.


"Ah, pemilik toko sebelah, aku mengenalnya." jawab Merry.


"Oh, laki-laki yang putih dan tampan itu?" tanya pegawai itu lagi.


"Kau mengenalnya?" tanya Merry heran.


"Dia sedang mendekati tetanggaku, seorang gadis berkerudung yang baru saja selesai menempuh pendidikan di Malaysia." ungkapnya, berhasil membuat mata Merry membulat seperti akan melompat keluar.


"Kau bercanda?" tanya Merry menatap tak suka.


"Aku tidak bercanda, namanya Nara, sepertinya mereka sudah lama kenal." jawab pegawai Merry sangat yakin.


Merry menghempas tubuhnya di sandaran kursi. Ia kesal sekali mendengar kabar itu, bisa-bisanya Radit mendekati seorang wanita sampai membeli banyak ruko di sekitar rumah wanita yang di dekatinya. Ia sungguh penasaran, ingin melihat bagaimana wajah wanita itu.


*


Di kantor Anggara, Zahira baru saja selesai berkutat dengan berkas yang di sodorkan Ricky. Meski hanya membaca dan tanda tangan saja, tentu membuat lelah, terlebih lagi untuk ibu hamil muda seperti Zahira.


"Ibu Zahira, ada yang datang ingin bertemu." sekretaris wanita itu memberi tahu.


"Siapa?" tanya Zahira.


"Rekan bisnis Pak Anggara, Anda sudah bertemu dengannya. Namanya Pak Reza."


"Biarkan dia masuk."


Sekretaris itu mengangguk. Tak lama kemudian pintu kembali di ketuk, dan di buka.


"Masuk Pak Reza." Zahira tersenyum ramah mempersilahkan laki-laki teman suaminya, berusia sekitar 38 tahun.


"Hai Zahira, lama tak bertemu." sapanya akrab.


"Ya, apa kabar?" Zahira mempersilahkan ia duduk.


"Aku baik-baik saja, justru aku khawatir kau sedang tidak baik-baik saja. Kehilangan Anggara membuatmu sangat bersedih, aku melihatmu saat itu, di pemakaman sahabatku." ungkapnya.


"Terimakasih atas kehadiranmu, tapi sungguh aku tak melihatmu saat itu." ucap Zahira bersungguh-sungguh.


"Tidak masalah."

__ADS_1


"Apa ada yang bisa ku bantu?" tanya Zahira lagi.


"Oh, tentu saja. Aku datang kemari untuk mengajakmu ke panti asuhan besok pagi. Kerja sama perusahaan kita berhasil mendapatkan keuntungan di atas Lima puluh persen. Jadi sisanya kita akan menyumbang ke beberapa panti asuhan."


__ADS_2