Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
175. Bagaikan pengantin baru.


__ADS_3

"Mas." panggil Zahira lembut, ia memegang dan mengelus bahu Anggara mengisyaratkan bahwa tidak perlu bertengkar dengan Radit. Apalagi saat ini Sadewa dan Satria sedang berada dalam gendongan Anggara.


"Kami permisi, terimakasih dan mungkin besok lusa anak-anak akan kembali, mereka pasti merindukan rumah kalian." Anggara berbicara pada Ayu.


"Tentu saja." Ayu mengusap pipi kedua putra Anggara.


"Bye Nenek." ucapnya melambaikan tangan, dengan tangan sebelahnya memeluk Anggara. "Bye Paman." juga kepada Radit.


"Ya Sayang, jika bosan di rumahmu hubungi saja aku. Karena ayahmu lebih sayang dirinya sendiri daripada kalian." sindir Radit masih tak puas dengan pembicaraan pada Anggara.


"Ayah?" Sadewa menatap ayahnya meminta penjelasan.


"Pamanmu sedang bercanda." Anggara tersenyum manis kepada anak-anaknya. Sedikit melirik Radit dan hanya mendapat tatapan sinis dari pria muda itu.


"Hati-hati Sayang!" Ayu mengantar mereka hingga ke mobil.


"Assalamualaikum Mama." Zahira mengucap salam sebelum mobil mereka tertutup.


"Wa'alaikum salam." jawabnya melambaikan tangan pada Sadewa dan Satria.


Ayu masuk kembali, "Kau tidak boleh terlalu ikut campur, Mama takut terjadi salah paham jika terlalu sering berdebat dengan Anggara." Ayu menghampiri Radit yang hanya duduk di ruang keluarga.


"Aku khawatir anak-anak akan terkena imbasnya, walaupun aku sendiri tidak tahu dimana tempat yang aman untuk mereka." Radit menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar merasa resah dengan kabar kebebasan Merry dimana Daniel juga bersamanya. Sudah pasti mereka sedang berencana untuk membalas Radit, Anggara, dan yang paling Radit khawatirkan adalah Zahira dan anak-anak.


"Masih ada Tuhan yang lebih berkuasa, kau tak perlu terlalu khawatir dengan apa yang akan terjadi, jika ada yang hilang maka sudah pasti ada hikmah dalam kehilangan itu, jika ada yang sakit maka ada hikmah dari yang tersakiti. Seperti kau saat ingin menikahi Zahira, hingga dia hilang dan kembali sebagai istri Anggara, jika dia tidak kecelakaan maka tak ada Sadewa dan Satria saat ini. Allah mengaturnya dengan sangat baik, jadi apalagi yang membuatmu khawatir." Ayu menasehati Radit yang selalu gelisah.


"Apa Anggara sedang memikirkan hal yang sama seperti Mama?" tanya Radit menatap wajah Ayu.


"Ya, dia tidak takut apapun, yang dia takutkan adalah kehilangan Zahira dan anak-anaknya. Lagipula hampir semua asetnya ada di negara ini. Dia masih punya banyak kekuatan di sini." jelas Ayu lagi.


"Aku hanya khawatir." Radit kembali'mengusap wajahnya berkali-kali.

__ADS_1


"Dia orang yang sangat bisa diandalkan, sepanjang dia memimpin perusahaan besar itu, ia tidak pernah mengalami kegagalan." Ayu berharap Radit tidak bersikeras menekan Anggara lagi.


"Sepertinya akulah yang harus ikut bertindak, aku takut Merry melakukan hal nekat lagi. apalagi saat ini ia di dukung pria kejam seperti Daniel." Radit sedikit ngeri membayangkannya.


"Ya, kau selesaikan masalahmu. Kau sudah dewasa dan sudah waktunya kau menyelesaikan semua yang membuat hidupmu hancur. Jangan sampai Zahira kembali terkena imbasnya, kasihan dia."


"Aku tahu." sedikit lega, walaupun masih banyak khawatir. Ia sedang berpikir bagaimana menyelesaikan masalah hidupnya yang sudah terlanjur bermasalah dengan Merry.


Sedangkan di rumah Anggara, mereka baru saja tiba. Menyaksikan keseruan anak-anak yang sangat heboh, rindu dengan kamar mereka.


"Aku jadi mengantuk." Sadewa menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk itu, sejak di mobil memang dia sudah mengantuk.


"Mau tidur siang?" tanya Zahira lembut.


"Iya ibu, kami mengantuk." jawab mereka bersamaan.


"Baiklah Sayang."Zahira mengelus punggung kedua putranya penuh kasih sayang, hingga beberapa saat setelah mereka tidur nyenyak sekali.


"O, ternyata jagoan Ayah sudah tidur." Anggara masuk, berjalan menghampiri Zahira dan mengecup pipi kedua putranya bergantian.


"Aku juga rindu pada kehebohan mereka." jawab Anggara masih mengelus kepala keduanya.


"Bagaimana jika aku yang tidak di rumah? Apa kau juga akan rindu?" Zahira tersenyum menggoda suaminya.


Anggara melepaskan tangannya dari anak-anak, berpindah memeluk bahu Zahira dengan mesra. "Sedekat ini saja aku masih rindu Sayang." bisiknya pelan.


"Aku juga." jawab Zahira manja.


"Tadi Paman Daniel memegang tanganmu?" Anggara meraih tangan halus Zahira dan melihat semua sisinya.


"Aku sempat takut. Aku tidak suka Mas." ungkapnya masih dengan suara lembut dan manja.

__ADS_1


"Aku juga tidak rela, aku tidak mau. Kau hanya milikku dan hanya aku yang boleh menyentuhmu." Anggara semakin membuat suasana menjadi romantis, merayu dan membelai istri cantiknya dengan lembut.


"Aku memang milikmu." Zahira melingkarkan tangannya di bahu Anggara, meminta di gendong menuju kamar mereka.


Akhir-akhir ini mereka bagaikan pengantin baru yang selalu jatuh cinta, saling rindu dan saling mencintai dengan sama besarnya. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia ketika mereka sudah berdua. Hanya suara rengekan manja dan pujian penuh rindu yang terdengar dari keduanya. Mengulang dan mengulang lagi seakan esok sulit di temukan, ketika bersama anak-anak juga mereka tampak selalu ingin berdekatan. Tak hanya Anggara yang semakin tergila-gila tapi Zahira pun juga sedang di mabuk cinta dengan suami yang tak sedikitpun pernah membuatnya kecewa.


Siang hari yang terik, keduanya malah sedang asyik memadu cinta. Waktu yang hampir Dua jam itu tak mereka rasa hingga mengucur keringat membasahi tubuh lelahnya.


"Mas." Zahira masih merengek manja, membenamkan wajah cantiknya di dada bidang Anggara.


"Ada apa Sayang? Apa masih kurang?" tanya Anggara terdengar kembali menggoda.


Zahira tersipu malu, semakin erat memeluk Anggara, menikmati hangat dan damainya di pelukan suami tercinta.


"Tubuhmu berbeda Sayang." Anggara memeluk pinggang rampingnya dan mengusap perut Zahira.


"Apa yang berbeda Mas, apakah sudah jelek?" Zahira menatap wajah Anggara dengan bibir mengerucut.


"Bukan, hanya sedikit penuh menurutku saat memeluk dan mengusap perutmu." Anggara kembali mengulang usapan di perut Zahira.


"Mungkin aku gendut." jawabnya balas memeluk Anggara, ia menyukai belaian hangat itu.


"Aku rasa kau hamil." ungkapnya menatap mata bening Zahira. Mencari jawaban namun ia hanya menebak, tidak bisa di pastikan hanya sekedar perasaan.


"Benarkah?" Zahira tampak berpikir. "Aku akan kembali mengandung anakmu Mas, buah cinta kita." ucapnya tertawa senang.


"Kau akan kesulitan Sayang, kau akan lelah dan mengidam, kau merasa resah, pegal dan berat, itu dalam waktu lama." Anggara membelai wajah Zahira, benar jika dia ingin Zahira kembali mengandung, tapi ia juga kasihan dengan Zahira yang mengandung sangat besar ketika hamil Sadewa dan Satria.


"Lalu?" Zahira bertanya dengan bingung.


"Entahlah Sayang, aku dilema." ucapnya mengecup pipi Zahira.

__ADS_1


"Kenapa harus dilema, jika benar hamil maka kau harus selalu menuruti apa mauku." ucapnya kembali manja.


Anggara memeluknya erat, mata cokelat itu menerawang, entah apa yang sedang ia pikirkan.


__ADS_2