Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
197. Mendapat amukan


__ADS_3

"Jika kau menyayanginya, maka jagalah dirimu dan anak-anaknya. Dia hanya punya dirimu untuk menjaga miliknya." hibur Reza lagi.


"Ya." hanya kata-kata itu saja yang bisa ia katakan bersamaan dengan air mata. Tangisnya terdengar seperti saat Anggara baru saja meninggal, hatinya teriris pedih, jantungnya terasa nyeri.


Reza kembali berdiri dengan mata tak beralih dari Zahira, dia benar-benar dibuat kagum dengan cinta yang dimilikinya.


"Mari saya antar ke ruangan Anda." Lili membantu Zahira berdiri keluar dari ruangan Ricky.


Sementara Ricky meraih telepon, "Datang keruanganku!" bentaknya pada gagang telepon itu.


Tak lama kemudian seorang mengetuk pintu ruangan.


"Masuk!" perintah Ricky lagi.


Sopir Zahira masuk dengan langkah pasti, pria besar dan tinggi itu menyapa Ricky yang terlihat marah.


"Apa maksudmu membiarkan Zahira berkelahi?" marah Ricky.


"Aku tidak membiarkannya Tuan, aku selalu ada memastikan Nyonya baik-baik saja." jawabnya tenang.


"Keterlaluan! Harusnya kau segera membawa Zahira masuk, bukan membiarkannya menganiaya seseorang!" bentak Ricky lagi semakin geram.


"Maaf Tuan Ricky. Aku sudah bosan melihat dan menyaksikan Nyonya menangis. Setiap hari Bibi menyuruhku membuang bantal Nyonya Zahira, karena selalu basah setiap paginya! Mungkin setelah ini, tugas membuang bantal itu tidak lagi akan terjadi." ungkapnya tenang.


"Tapi tidak membiarkannya menjadi orang gila! Mengapa tidak kau saja yang melakukannya, bila perlu kau seret wanita itu jauh dari sini dan menghukumnya!" Ricky semakin kesal berbicara dengan sopir tersebut.


"Itu tidak akan mengurangi tangisannya!" jawabnya tidak merasa gentar sedikitpun. "Aku tidak akan lalai menjaga Nyonya, tapi juga tidak tahan melihat kemarahannya selalu tertahan. Tuan Ricky tahu, Nyonya memikul tanggung jawab dan beban begitu besar."


"Sekali lagi kau membiarkan hal seperti ini terjadi! Aku akan memecatmu." geram Ricky tak menerima alasan apapun.


Sopir itu mengangguk, ia tidak membantah, tidak juga terlihat takut.


"Pergilah!" Ricky mengibaskan tangannya.


"Aku akan membantu menyelidiki penembakan Anggara." ungkap Reza, duduk santai namun terlihat berpikir.


"Jangan bilang karena kau menyukainya!" Ricky menatapnya penuh selidik.


"Anggara juga temanku, dia adalah rekan bisnis yang paling baik dari semuanya. Ku rasa membantu sedikit bukanlah hal yang berat bagiku." ucapnya bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Ya, jika kau punya waktu untuk membantu. Tapi jangan berharap terlalu banyak, sainganmu berat, lebih muda dan tampan. Itu juga dia belum tentu mau!" Ricky menyerahkan berkas untuk ditandatangani bersama.


"Radit maksudmu?" tanya Reza lagi.


"Siapa lagi?"


...***...


Sementara di mobil, Radit mengemudi tanpa berbicara, ia juga tak memperhatikan wanita disampingnya sudah sangat kacau. Pakaian terbukanya sudah semakin terbuka dengan robekan yang di ciptakan Zahira. Hingga ketika Radit tak sengaja melihat kaca bagian depan.


"Ada apa denganmu?" Radit melihat wajah Merry merah dan ada goresan di pipinya. rambut kusut meski Merry sudah berusaha merapikannya. Belum lagi pakaian yang robek di bagian lengan dan dada.


"Ini ulah mantan istrimu yang gila itu." jawab Merry kesal, ia juga meringis sudut bibirnya luka.


Radit mengernyitkan kening, menatap tak percaya jika Zahira sampai melakukan semua itu.


"Kau sudah melihat buktinya tapi masih tak percaya dia melakukan semua ini!" Merry benar-benar kesal kali ini.


"Ya, aku percaya! Aku juga mendapat amukan." jawabnya sambil terus melihat jalanan.


"Apa yang dia katakan?" tanya Merry khawatir.


"Lalu apalagi?" Merry sungguh penasaran.


"Tidak ada! Memangnya apa yang ingin kau dengar? Bukankah dia berkelahi denganmu?" Radit melambatkan laju mobilnya. "Sebenarnya apa yang membuat Zahira mengamuk seperti ini? Apa ada yang tidak aku ketahui?" tatap Radit penuh selidik.


"Tidak, tidak ada apapun. Hanya masih tidak terima dengan kejadian yang lalu, saat aku menjadi penyebab kecelakaan dan sudah merebut mu darinya." jawab Merry berusaha meyakinkan.


Radit memicingkan matanya, ia tidak percaya dengan apa yang di katakan Merry.


"Hanya itu!" teriak Merry kesal.


Radit kembali fokus pada jalanan, hingga tiba di toko elektronik miliknya. Radit menyandar lemas, kacau sekali hari ini hanya gara-gara mengajak Merry.


Begitu juga Merry tampak melamun dengan entah apa yang sedang dipikirkannya, mereka sama-sama enggan turun dari mobil.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Merry pada akhirnya.


"Kau!" jawab Radit tak berpikir lagi.

__ADS_1


"Ada apa dengan aku?" Merry menoleh Radit.


"Aku bingung harus apa dengan hidupku, aku lelah dengan semua ini menjalani hidup sendirian hanya karena menunggu seseorang yang akhirnya membenci diriku."


Merry menarik nafas dalam, kesal dan marah tapi tak bisa ia perlihatkan.


"Dan kau? Apa tujuan hidupmu sebenarnya? Apa hanya akan menjadi orang yang tidak berguna seperti ini?" Radit menggeleng dengan senyum sinis di wajahnya.


"Kau menganggapku sampah?" tanya Merry tersenyum benci.


"Apa tidak bisa memulai hidup baru yang jauh dari kata permusuhan, benci dan dendam?" Radit menoleh Merry, menatapnya cukup lama.


"Aku juga tidak ingin. Itu sebabnya aku memilih tinggal di rumah sederhana di pinggiran kota."


Radit kembali melamun, ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Satu sisi ingin Zahira percaya, tapi satu sisi lagi ia harus membuat Merry percaya. Entah sampai kapan ia bisa menemukan bukti tentang penembakan Anggara.


"Bisakah kita mulai semuanya dari awal?" tanya Merry setelah beberapa saat memandangi wajah tampan Radit.


"Apa yang harus kita mulai?" Radit tersenyum sinis.


"Aku ingin kita menikah lagi." Merry tak ingin lagi berbasa-basi, dia sungguh ingin tahu apa tujuan Radit sebenarnya. Merry masih curiga jika Radit hanya sedang menyelidiki dirinya.


"Maaf, aku masih terikat hubungan dengan Aisyah." tolak Radit membuang pandangannya ke luar.


Sikap yang membuat Merry semakin serba salah. "Aku masih mencintaimu Radit, aku masih begitu menginginkan kita bisa hidup bersama. Jujur saja aku tak pernah melupakan dirimu, meskipun kau tidak mencintai aku saat itu, tapi aku benar-benar mengingat semuanya, selalu tersimpan di otakku." Merry mendekatkan diri merayu Radit.


"Apa yang kau ingat?" pancing Radit mendekati wajah Merry, semakin membuat wanita itu terbawa suasana.


"Semuanya Radit, aku tidak pernah melupakannya." suara wanita itu sedang memuja.


"Aku sudah lupa rasanya, mungkin karena terlalu lama?" Radit tersenyum sinis, mengalihkan pandangannya namun Merry meraih wajah tampan Radit agar kembali berhadapan.


"Aku merindukan saat itu." ucap Merry berbisik.


Radit tersenyum memandangi wajah Merry, yang setiap detiknya semakin mendekat. "Kalau begitu buktikan padaku jika kau tidak sedang bermain-main dengan laki-laki lain. Aku tidak mau dengan wanita yang sering berbagi ranjang! Malah sebenarnya aku lebih suka Aisyah yang belum tersentuh." Radit membuat Merry kembali kesal.


"Aku akan buktikan!" jawab Merry cepat.


"Aku akan mengawasi setiap kegiatanmu, aku akan sering datang ke rumahmu." Radit berkata serius.

__ADS_1


"Aku mau!" jawab Merry kegirangan.


__ADS_2