
"Sejujurnya aku juga belum ingin membahas hubungan serius Mama, tapi untuk menolaknya aku tak kuasa. Aku sendiri tidak tahu persis bagaimana perasaanku padanya." jelas Zahira sambil sedikit melamun.
"Ya, Mama tidak ingin anak Mama dibuat seolah-olah tak berharga, dia pikir anaknya sangat sempurna?" Ayu masih belum habis kesal.
"Mama!" rengeknya semakin memeluk Ayu, memintanya berhenti dengan kekesalan terhadap Nyonya Carolina.
Ayu juga memeluknya dengan sangat erat, mengecup pucuk kepala yang menyandar padanya, rasanya masih seperti dulu hangat dan wangi khas yang tidak tergantikan oleh siapa saja meskipun dia sudah dewasa.
Hari-hari berikutnya, semua masih berjalan biasa saja hingga akhir pekan kemudian.
"Sayang, apa aku mengganggu." suara Reza melalui panggilan telepon.
"Tidak, kami sedang berkumpul semuanya di halaman belakang, hanya makan malam bersama." jawab Zahira masih seperti biasa.
"Mengapa tak mengajakku?" tanya pria itu sepertinya ingin bertemu.
"Kau lelah, sebaiknya istirahat saja. Senin nanti kita akan bertemu di kantor, kita ada meeting bukan?"
"Itu masih lama." suara Reza sedikit merajuk.
"Tidak lama, besok hari Minggu. Lagi pula kau baru saja pulang dari perjalanan jauh. Istirahat dan persiapkan diri untuk hari Senin, kau pasti akan sibuk." Zahira sedikit membujuk.
"Hem, aku pasti sibuk, dan persiapkan dirimu juga karena aku akan sibuk bersamamu." Reza sedikit menggodanya.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" Zahira tertawa sedikit.
"Banyak. Dan aku akan membuatmu senang." lanjutnya semakin membuat obrolan mereka menghangat.
"Baiklah, kalau begitu sampai bertemu hari Senin." Zahira tak mau melanjutkan candaan Reza Mahendra.
"Apa tidak mau memintaku datang ke rumahmu sekarang?" Reza masih memohon.
"Tidak, ini sudah malam. Aku tidak mau lebih sibuk lagi malam ini." Zahira membalas candaannya.
"Oh, Sayang. Aku akan kesulitan tidur malam ini." Reza sedikit merengek.
"Aku akan pastikan kau tidur sangat nyenyak." jawab Zahira merasa Reza semakin mengerjainya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan istirahat dan menurut apa katamu."
__ADS_1
"Itu sangat bagus."
"I love u Sayang, aku benar-benar jatuh cinta padamu." ucapnya terdengar mesra dengan suara beratnya.
"Ya, selamat tidur. Assalamualaikum Mas Reza." ucapnya mengakhiri obrolan mereka.
"Wa'alaikum salam Baby." bahkan di ujung pembicaraan dia masih sempat merayu dengan panggilan mesra.
Di tengah keseruan para bodyguard dan semua asisten rumah tangga yang bercanda ria, Zahira sempat melamun setelah pembicaraannya dengan Reza baru saja. Sepertinya Reza Mahendra belum mengetahui jika ibunya benar-benar tidak menyukai Zahira. Lalu bagaimana jika dia sudah tahu? Zahira sedang membayangkan hal rumit akan kembali terjadi. Dia paham betul bagaimana Reza Mahendra menginginkan dirinya.
Tapi, jika harus menentang seorang ibu, rasanya itu bukanlah hal yang baik. Lagi pula menikah di saat ini masih terlalu cepat untuknya, cintanya kepada Anggara masih tak berkurang walau sedikit.
"Ibu, apakah hari ini bisa mengantar kami?" tak seperti biasanya di pagi itu Sadewa merengek untuk diantar pergi ke sekolah. Biasanya mereka akan pergi diantar Zahira hanya di hari Rabu hingga Jum'at saja, sedangkan Senin dan Selasa Zahira harus berangkat ke kantor lebih awal.
"Emmm.." Zahira melirik jam dinding sejenak ia berpikir. "Baiklah." ucapnya kemudian, tentu tak mungkin ia menolak permintaan buah hati tercinta, lebih baik kehilangan banyak harta dari pada membuatnya kecewa.
"Horee.. Kita akan berangkat ke sekolah bersama Ibu." mereka bertepuk tangan, penuh semangat kemudian melanjutkan makannya dengan segera.
"Anda akan telat Nyonya." Jia mendekati keduanya.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kita berangkat setelah mereka selesai sarapan."
Di kantor Anggara, tampak tiga orang pria itu kali ini membawa sekretaris masing-masing, dan kompak sekali ketiganya membawa sekretaris wanita.
"Kau ikut-ikutan!" Ricky lebih dulu mengatai kedua orang yang lebih muda itu, sebelum mereka menyerang.
"Kata siapa, sekretarisku memang wanita." Reza Mahendra tak kehabisan kata-kata.
"Tentu saja, kau menyukai wanita." ucap Ricky dengan tatapan mengejek.
"Tak hanya aku, dia juga membawa sekretaris wanita." Reza mencoba melempar ejekan kepada Radit.
"Dia sekretaris Mama." jawab Radit singkat.
"Alasan." Reza tak membiarkan posisi Radit aman.
"Aku bukan dirimu." kesalnya tak ingin bercanda.
Terdengar pintu dibuka.
__ADS_1
"Maaf, aku terlambat." Zahira melangkah masuk menuju kursi empuk di dekat Ricky dan sekretarisnya.
"Apa ada masalah?" tentu Reza tak akan diam saja, rasa ingin tahunya tak bisa di tahan lagi.
"Tidak, hanya mengantar anak-anak." Zahira mulai membuka laptop di hadapannya.
"Baiklah, kita mulai saja." Ricky juga sudah siap dengan laptop dan layar besar di dinding, menunjukkan perkembangan puluhan hotel yang sedang mereka bangun bersama, tentu dengan saham terbesar di miliki perusahaan Anggara.
Larut dalam pekerjaan, serta laporan dari masing-masing mereka yang sudah pergi meninjau proyek di daerah bagian mereka masing-masing, rapat kali ini berlangsung lumayan lama, lebih dari satu jam.
"Mau makan sesuatu?" Ricky menawari semua rekannya.
"Tidak, ini sudah cukup." Reza sedang menikmati kopi di meja rapat tersebut. Mereka tampak menyandar lelah bersamaan.
"Kalau begitu aku permisi, masih banyak yang harus di selesaikan Lili." Ricky berpamitan bersamaan dengan sekretaris Zahira itu keluar mengiringinya.
"Kami juga masih perlu menyelesaikan beberapa hal. Permisi." kedua sekretaris Radit dan Reza tampak kompak, keluar setelah memeriksa berkas mereka ada yang kurang.
"Baiklah, jika masih lama kau pulang naik taksi saja." ucap Radit kepada sekretarisnya.
"Baik Pak." ucapnya mengangguk.
"Terimakasih untuk kerja sama kita, aku berharap semua berjalan dengan lancar hingga selesai." Zahira memulai obrolan formal.
"Aku rasa dalam tiga bulan ke depan semua sudah selesai, semua pekerja sengaja di bawa dari luar daerah sehingga mereka benar-benar fokus pada pekerjaan, terlebih lagi dengan gaji lembur yang lumayan membuat mereka benar-benar tak menyia-nyiakan kesempatan bekerja." Radit memberi jawaban yang juga masih dalam obrolan formal.
"Tolong koordinasikan kepada seluruh staf yang ada di sana, utamakan keselamatan mereka. Aku tidak mau ada kecelakaan apalagi sampai korban jiwa di setiap hotel kita." Zahira kembali menegaskan.
"Ya, aku setuju." Reza mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kita sudah selesai, aku permisi." Zahira beranjak dari duduknya, tak mau berlama-lama karena dirasa semua sudah cukup.
"Zahira, aku perlu bicara." Reza juga segera beranjak akan menyusul Zahira yang sudah diambang pintu.
"Tunggu." Radit meraih lengan Reza Mahendra, membuat pria itu terkejut dan menoleh Radit dengan penuh pertanyaan.
"Ada apa?" Reza kembali menoleh Zahira namun wanita cantik itu sudah menghilang dengan pintu kembali tertutup.
"Kita perlu bicara."
__ADS_1