
Malam sebelum akad, Rey sudah tiba lebih dulu di rumah Zahira bersama Alisa istri bulenya, Rey adalah saudara dari ibu kandung Zahira tentu sangat di tunggu dalam pernikahan ini, dialah wali satu-satunya yang dapat menikahkan Zahira. Mereka tinggal di London selama bertahun-tahun semenjak Zahira belum dilahirkan, meskipun mereka sering datang berkunjung tapi hanya untuk bersilaturahmi saja, sekedar melepas rindu dan itupun tak mungkin lama.
"Sayang apa kabarmu, kau cantik sekali." Alisa memeluk keponakan satu-satunya itu dengan penuh rindu, wanita bule itu memperhatikan wajah ayu itu sedikit lama sebelum kemudian kembali memeluknya.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja." Zahira membalas pelukan hangat itu.
"Panggil aku Mama sama seperti Ayra." Alisa tersenyum mesra menatap keponakannya yang sudah yatim piatu.
"Mengapa kak Ayra tidak ikut?" tanya gadis polos itu.
"Dia sedang ujian semester sayang. Suatu hari nanti dia akan pulang kemari dan menemuimu. Kau tahu, wajahnya tak jauh beda denganmu, hanya kau sedikit mewarisi wajah ayahmu, sedangkan Ayra sedikit bule sepertiku." Dia tertawa merasa lucu dengan ucapannya.
"Aku tahu Mama, aku sering melihatnya di akun sosial media. Aku ingin sekali bertemu Kak Ayra." Zahira ikut tertawa bahagia.
"Paman." Zahira menyambut tangan Rey dan menciumnya.
"Kau sudah besar dan cantik seperti ibumu." Rey menatapnya dengan kagum sekali, wajah cantik dan lembut itu mengingatkannya dengan Reva adik perempuan kesayangan. Zahira tersenyum saat Rey tak bisa menahan rindu dan memeluk gadis itu erat sekali. "Harusnya kau memanggilku pakde, sayang. Tapi tak apa, dunia memang sudah terlalu modern." Rey mengusap kepala Zahira berkali-kali.
"Pakde (Papa gede) alias Papa besar." Alisa berkata pada suaminya.
"Ah itu benar sekali." Rey tertawa menatap wajah imut di depannya yang juga ikut tertawa.
"Ayo Pakde dan Mama aku akan mengantar ke kamar, kalian pasti lelah." Zahira berjalan menggandeng Alisa.
"Sayang, kami bahkan masih ingat kamar kami saat sering menginap di sini." ucap Alisa melihat pintu kamar yang masih tertutup.
__ADS_1
"Benarkah? Kamar yang ini kan Mama?" Zahira menunjuk kamar besar di urutan nomor dua.
"Tentu saja, karena waktu itu kami bertiga dengan kakakmu, jadi ayahmu memberikan kamar yang paling besar." ucap Alisa seraya membuka pintu.
"Semoga kali ini juga Mama dan Pakde masih nyaman tidur di kamar ini." Zahira berdiri di bibir pintu.
"Tentu saja sayang." Alisa masuk dan langsung duduk di ranjang yang besar itu.
Zahira menutup pintu yang masih terbuka dan meninggalkan menuju kamarnya. Banyak suara deru mobil di halaman tak membuatnya menoleh, lantaran Ayu memang meminta banyak pihak untuk menghias dan mengurus segala kebutuhan di rumah Zahira. Namun kemudian ada satu suara yang menghentikan langkahnya.
"Zahira!" suara wanita yang begitu dikenalnya.
"Ummi." Zahira berbalik arah dan segera memeluk wanita berhijab panjang itu.
"Sayang ape kabar? Anak ummi nampak cantik sangat." Wanita itu membelai wajah Zahira yang memang terlihat selalu cantik.
Nurul, begitu nama wanita yang di panggil ummi oleh Zahira dan Radit, dia merupakan seorang guru agama juga di sebut Ustadzah yang menjadi teman sekaligus penjaga Zahira saat tinggal di Malaysia, dia mengurus segala kebutuhan Zahira dari yang kecil sampai yang besar, begitu pula dengan Radit, bedanya wanita itu di fokuskan pada Zahira, sedangkan untuk Radit, ummi Nurul hanya bertugas untuk mengajarkan agama dan akhlak sepeti seorang ustadzah atau guru untuk Radit.
"Terime kasih." Wanita itu masih sedikit menggunakan bahasa Malaysia.
Zahira kemudian meninggalkan wanita Malaysia yang imut dan Soleha itu menuju kamarnya yang berjarak dengan ruang keluarga di bagian tengahnya.
Dan malam ini Zahira tetap tidur nyenyak meskipun ramai orang yang masih sibuk hingga larut.
Esok hari, Kamis sore menjelang pernikahan. Setelah melakukan perawatan khusus yang sudah di sediakan Ayu. Zahira mempersiapkan diri di kamarnya dengan di temani Nurul.
__ADS_1
Sehabis sholat Maghrib dia langsung di hias dengan riasan tipis namun terlihat elegan dan berkelas membuat orang terkagum-kagum memandangnya. Dengan gaun putih dominan, dan bunga-bunga pink menghiasi di ujung-ujung gaun bagian bawah serta pernak-pernik lainnya, tak lupa sebuah hiasan seperti mahkota putri raja bertengger di kepala pengantin wanita yang cantik itu.
"Sayang, mahkota ini cantik sangat, tapi Zahira tau tak, mahkota seorang anak gadis bukan berada di kepala, tapi dibawah sana. Ape mahkota itu masih terjaga?" Ummi bertanya dengan bahasanya.
"Tentu Ummi, Aku masih menjaganya. Seperti pesan ummi, hanya suamiku yang berhak menyentuh aurat tubuh ini." Zahira tersenyum, terdapat ketenangan dan kejujuran di sana.
"Alhamdulillah, Ummi khawatir sebab engkau menikah terlalu cepat." Ummi Nurul mengusap dadanya pertanda ada kelegaan di sana.
"Jodoh sudah memanggil ummi, aku tak kuasa menolak kala Radit memintaku untuk menikah dan menjadi istrinya. Aku tak memungkiri bahwa hati ini juga selalu ingin bersamanya. Aku takut saat dia jauh dan meninggalkan aku, aku merasa rindu kala Radit masih di Malaysia dan aku di sini. Ku rasa itu adalah cinta Ummi." Jelas Zahira dengan suara pelan dan lembut.
"Benar sayang, itu cinta. Dan Radit sudah cinta sejak lama, hanya kau tidak menyadarinya." ungkap ummi Nurul pada Zahira.
"Iya Ummi, ku kira dia adalah adikku, tapi ternyata dia akan menjadi suamiku." Zahira tersenyum malu-malu, menunduk membayangkan malam ini dia akan menjadi istri Raditya yang tampan.
"Ayo sayang, sepertinya Radit sudah datang." Ummi Nurul mengajak Zahira turun ke bawah.
Benar saja di lantai bawah ruangan yang luas itu sudah ramai dan Radit sudah tiba dengan pakaian senada, laki-laki remaja itu tampak gagah wajahnya tampan dan bercahaya. Radit menatap kedatangan Zahira yang terlihat lebih cantik dari biasanya, mata sipit itu tak berkedip.
Hingga tiba saat akad akan di mulai.
Rey mengucap ijab. "Saya nikahkan, dan kawinkan engkau Raditya Jovanka bin David Abdillah dengan Zahira Putri Bramastya binti Aldo Bramastya dengan mas kawin seperangkat perhiasan berlian di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Zahira Putri Bramastya binti Aldo Bramastya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" Radit menjawab dengan cepat dan tegas, di luar dugaan anak remaja itu tampak begitu berwibawa dan menunjukan kedewasaannya saat akad nikah di laksanakan. Membuat para saksi dan penghulu terkagum menyaksikan ketegasan dan keyakinan Radit.
Sah. Serentak Semua menjawab lalu mengucap Alhamdulillah bersama-sama.
__ADS_1
Menangis, tentulah tangis haru itu pasti terjadi. Bahkan semua menangis, anak gadis cantik lembut dan manja itu adalah yatim piatu, besar tanpa ayah dan ibu. Meski di banjiri kasih sayang dari berbagai pihak, tentunya saat menikah dan melangkah menuju ke kehidupan yang baru hatinya sangat bersedih. Berbagai pelukan silih berganti, bibir mungil itu memanggil, Mama, Papa! Dua nama itu menghiasi tangisnya, pelukan dari kedua orang itu tak henti mengukir tangis menyayat hati. "Putriku Zahira." ucap David dan Ayu masih memeluknya dengan berlinang air mata.