
"Sadewa sudah makan?" tanya Reza sangat perhatian, tangannya meletakkan bag penuh dengan makanan.
Sadewa mengangguk, sepertinya dia juga sudah mengantuk.
"Sini." Reza mengulurkan tangannya, meraih tubuh Sadewa dari pangkuan David.
Sadewa menurut, layaknya juga Satria yang masih sangat manja dan rindu akan seorang ayah, dia memeluk erat dan memejamkan mata.
"Tidurlah Sayang." ucap Reza membawanya agak menjauh dari yang lain.
"Paman pasti lelah." suara mengantuk namun masih sempat memikirkan orang lain.
"Tidak, Paman masih kuat menggendongmu." jawab Reza tersenyum.
...***...
"Merry!" suara Anwar semakin meninggi setelah beberapa kali membangunkan Merry tapi tak bangun juga. Hingga beberapa saat kemudian Merry mengerjapkan mata dan mulai bergerak.
"Kau tidur seperti orang mati! Pintu tidak dikunci kalau ada orang masuk bagaimana?" Anwar mengomel.
Merry masih bingung, ia sedang berpikir juga mengingat-ingat sesuatu.
"Papa! Semalam aku melihat hantu!" ucapnya dengan beringsut mendekati Anwar.
"Hantu bagaimana, saat Papa pulang kau tidur nyenyak sekali hingga pagi ini kau bahkan sulit sekali di bangunkan." kesal Anwar.
"Papa! Semalam aku pingsan! Aku melihat hantu di depan pintu, bahkan aku memegang jasnya!"
"Sudah! Mana ada hantu memakai jas dan bisa di pegang." Anwar keluar dari kamar Merry.
"Papa! Aku tidak bohong, aku benar-benar melihat hantu A-" teriakannya berhenti ketika akan menyebut nama Anggara. Beruntung Anwar sudah berlalu sehingga pak tua itu tidak bertanya lagi.
Merry memijat kepalanya bingung. Jika semalam ia benar melihat hantu, lalu kenapa bisa ada di kamar? Siapa yang memindahkan? tidak mungkin jika itu ayahnya.
Atau semalam dia bermimpi? Tapi hantu itu benar-benar ada. "Apa dia sedang menuntut balas padaku seperti di film-film horor!" ucapnya bergidik ngeri. Merry segera turun dari tempat tidurnya, mandi dan bersiap pergi bekerja. Dia tidak ingin melihat hantu Anggara lagi, membayangkannya saja dia merasa takut.
__ADS_1
Sementara di rumah sakit, Satria dan Sadewa baru saja bangun dari tidurnya, mereka berdua tidur di mobil yang sengaja di buat nyaman oleh almarhum ayahnya kala itu, mereka dapat tidur nyenyak bersama Jia.
Dan di dalam rumah sakit, Zahira juga sudah bangun, meski masih lemas dan pucat, tapi sudah lebih baik dan ia ingin segera pulang.
"Mama sampai datang kemari karena aku." ungkapnya menatap Ayu.
"Tentu Mama datang, kau membuat Mama khawatir." Ayu membantu Zahira duduk.
"Mama! Maaf aku jarang berkunjung ke rumah Mama." ucapnya dengan wajah sendu, sedih dan rindu selalu menghuni hatinya, baik kepada Anggara, Ayu dan David juga cukup andil dalam kerinduannya.
"Tidak apa-apa Sayang. Mama mengerti, kau pun tak kalah sedih dengan keadaan ini. Allah sedang membentang jarak antara kita, kelak jika semua sudah berlalu, Mama yakin kita akan kembali bersama." jawab Ayu mencoba menenangkan Zahira.
"Terkadang aku rindu di masa-masa aku masih kecil, hanya memiliki Mama dan Papa, tak perlu memikirkan banyak hal." ungkapnya masih tak henti menatap wajah Ayu.
Ayu memeluk dan mengelus bahu Zahira, ia paham sekali jika kehidupan Zahira saat ini sangat berat, penuh beban dan tanggung jawab.
"Mama tahu kau sedang di uji Nak, kita memang hidup untuk menjalani ujian dan cobaan. Tak perlu kau risaukan semua ini terjadi, yakinlah kelak akan berlalu dan menciptakan kebahagiaan yang baru." Ayu juga merasakan sesak dengan kehidupan yang di alami Zahira putrinya.
"Terkadang aku ingin menyerah!" air matanya jatuh lagi, tak terbayangkan berapa lama luka di hatinya masih menganga.
Pintu diketuk dari luar.
"Masuklah!" Ayu menjawab, seraya menghapus air mata di wajah cantik Zahira.
"Maaf menggangu." Reza masuk dengan senyum mengembang.
"Tidak masalah, justru kami sudah merepotkanmu, membuatmu menginap di sini." Ayu menjawab dengan tersenyum.
"Yang paling penting Zahira cepat sembuh." senyumnya dan matanya hanya tertuju pada Zahira.
"Aku sudah baik-baik saja." jawab Zahira mencuri pandang pada wajah yang sedikit menampilkan bulu-bulu pendek di sekitar bibirnya, lagi-lagi hal seperti itu membuatnya harus menahan rindu, berat setengah mati.
"Kau tahu, semalam aku membuat putri Anwar itu pingsan!" Reza sudah tak sabar memberi tahukan pada Zahira. Wajahnya berbinar dengan senyum lebar, rasanya dia senang sekali setelah menakut-nakuti Merry.
"Benarkah!" Zahira menatap Reza tak percaya.
__ADS_1
Begitu juga Ayu, menoleh dengan heran. Wanita itu hanya menyimak tanpa berkomentar. Ia tengah membereskan buah juga pakaian bersiap untuk pulang.
Reza mengangguk yakin. "Sebentar lagi dia akan menjadi orang gila." Reza semakin tertawa.
Wajah pucat itu ikut tertawa, dia dapat merasakan kejahilan Reza akan membuat wanita licik itu pontang-panting, dan akan terlihat sangat lucu ketika dia pingsan.
"Tapi aku butuh pakaian Anggara yang lain nanti! Apa kau tidak keberatan meminjamkan pakainya lagi, sekalian parfum miliknya." mendadak dia menjadi serba salah.
"Iya, kau boleh ambil yang kau butuhkan. Asalkan bisa membuat wanita itu menjadi gila." jawabnya tersenyum sedikit.
"Aku akan melakukannya, aku janji!" Reza merasa menang, sejuta harapan telah singgah di hatinya pagi ini. Tentu hanya menakut-nakuti Merry bukanlah hal yang berat, walaupun harus mengabaikan pekerjaan yang lumayan menumpuk, dia akan lembur setelahnya. Tak masalah! Asalkan bisa menarik perhatian seorang Zahira, janda cantik mantan istri sahabatnya.
"Aku akan segera pulang setelah Dokter Amelia datang." ungkap Zahira lagi.
"Aku akan menghubunginya." Reza meraih ponsel di saku jasnya.
"Tidak perlu, dia akan datang jam Tujuh pagi ini." Zahira mencegah Reza.
"Baiklah, artinya sebentar lagi." Reza melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Maaf, aku sudah melibatkanmu. Aku tidak tau harus membalasnya seperti apa." Zahira berkata pelan.
"Ini bukan hutang, aku tidak butuh balasan." Senyumnya manis sekali, seandainya itu bukan Zahira, sudah pasti meleleh melihat senyum dan tatapan seperti itu. Sayangnya dia adalah wanita yang terlalu setia, mencintai Anggara dengan sepenuh hati. "Aku tidak bisa mengantarmu pulang, aku ada meeting pagi ini yang tidak bisa di tunda."
"Aku akan pulang bersama Mama dan Papa." jawab Zahira lembut.
"Oh, baiklah. Jangan lupa makan dan istirahat." Reza semakin menunjukkan perhatian, semua tak luput dari pendengaran Ayu.
"Terimakasih." Zahira berusaha menghindari tatapan mata hitam pekat itu.
Reza berlalu tanpa kembali menoleh, dia tentu sudah sangat terburu-buru, jarak rumah sakit dan kantornya lumayan jauh.
"Dia menyukaimu Sayang." ucap Ayu pelan, duduk di samping Zahira.
"Aku tidak tahu Mama, Aku masih mencintai suamiku saja."
__ADS_1