Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
171. Jangan jauh dari istriku


__ADS_3

"Selamat siang Tuan!" Jia menyapa Anggara, wanita cantik itu sedang duduk santai di depan rumah namun di kejutkan dengan kedatangan Anggara. Tak biasanya pria matang tapi masih tampan itu pulang di jam makan siang.


"Selamat siang Jia." Anggara berhenti dan menghadap wanita kurus dengan pakaian syar'i itu.


Jia berdiri tegap balas menatap Anggara dengan mata menyelidik.


"Jangan pernah jauh dari istriku, apapun yang terjadi hanya kau yang bisa aku percaya." Anggara menatap Jia penuh harap.


Jia tak menjawab, ia sedang berpikir jika sudah ada yang terjadi sehingga Anggara pulang dengan wajah khawatir.


"Minta Hiko untuk tinggal di rumah Radit, jaga putra-putraku." ucap Anggara lagi.


"Tuan tak perlu khawatir, mereka aman di sana, nyonya Ayu dan Tuan David menjaganya dengan baik."


"Ya." Anggara berlalu masuk segera menemui Zahira, meninggalkan Jia yang masih menatap Anggara hingga menghilang dibalik pintu kamarnya.


"Dia lebih mencintai istrinya daripada putranya." gumam Jia sedikit tersenyum. Benar saja jika Jia lebih bisa diandalkan untuk melindungi Dua anak-anaknya. Hiko memang hebat, tapi bukankah senjata yang sedang di hadapi adalah sangat berbahaya, dan hanya Jia yang memahami bagaimana Daniel menyerang.


*


"Aku rasa pria itu datang bukan untuk berbisnis." Akbar dan Radit masih membahas kejadian di gedung Anggara.


"Aku rasa begitu. Tapi jika hanya pamanku yang menjadi incaran harusnya kau tidak diundang." Akbar memiliki pendapat lain.


Radit menoleh, ia memikirkan jika pendapat sepupunya itu adalah benar. "Lalu apa tujuannya?" Radit bertanya, menyetir namun pikirannya kemana-mana.


"Ingat! Mars Media itu milik siapa?" Akbar mengingatkan Radit, ia berpikir jika itu semua ada hubungannya dengan kejadian Lima tahun yang lalu.


"Tapi-"

__ADS_1


Radit tidak jadi melanjutkan kata-katanya, jika itu Merry harusnya wanita itu datang pada Radit secara langsung, bukan mengikut sertakan Anggara. Lagi pula Radit-lah yang bertanggung jawab atas semuanya. 'Apa karena Anggara adalah suami Zahira, atau hal ini juga yang membuat mereka mengizinkan Sadewa dan Satria tinggal di rumahnya?'


"Apa tidak jadi kekantor?" Akbar melihat jika Radit mengarahkan mobilnya menuju jalan pulang, bukan ke kantor.


"Ya." jawabnya singkat, mata sipitnya menatap lurus. Ada banyak sekali hal yang membuat pria 24 tahun itu berpikir. Sisa perjalanan pulang mereka habiskan untuk berdiam dengan pikiran masing-masing.


"Mama!" Radit masuk dengan tergesa-gesa, pria itu berjalan menuju ruang keluarga diikuti Akbar dibelakangnya.


"Ada apa?" Ayu menoleh, tumben sekali Radit memanggil dengan meninggikan suaranya.


"Apa keluarga Anggara sedang dalam masalah?" tanya Radit serius.


"Memangnya ada apa?" Ayu masih bersikap tenang.


"Mama, katakan padaku ada masalah apa sehingga Satria dan Sadewa di izinkan orangtuanya tinggal di sini. Kurasa itu bukan tanpa alasan." Radit meraih pisau kecil yang sedang di pegang Ayu untuk mengupas Apel.


Ayu meletakkan Apel yang baru setengahnya dikupas, mengatur nafas sejenak dan menatap Radit. "Hal apa yang membuatmu pulang dan bertanya hal seperti itu?" taya Ayu masih bersikap tenang.


"Apa?" Ayu mendengar dengan sedikit tak percaya.


"Aku rasa mereka bukan ingin berbisnis, tapi ingin menghabisi para pembisnis. Dan anehnya lagi, perusahaan yang mengadakan rapat itu adalah Mars Media milik Anwar, dan yang memimpin adalah Daniel." jelas Radit lagi.


"Apa Merry sudah bebas?" tanya Ayu ikut penasaran, karena yang dia tahu tak ada hubungannya dengan Mars Media.


Radit menggeleng.


"Daniel adalah orang yang menginginkan harta Anggara, dia ingin berkuasa dengan bisnis gelap yang saat ini sedang ia pegang." jelas Ayu tak banyak menjelaskan.


"Kalau begitu Zahira dan anak-anak sedang dalam bahaya." Radit menyahut dengan nada khawatir.

__ADS_1


"Bisa dikatakan seperti itu."


Tidak ingin Radit ikut campur terlalu banyak dalam urusan keluarga Zahira, begitulah pikiran Ayu saat ini. Jika di lihat dari hubungan keluarga maka benar jika Radit bisa ikut campur, tapi jika di lihat lagi dari status saat sudah pernah menikah dan bercerai maka sebaiknya Radit tidak perlu tahu terlalu banyak. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Saat ini Zahira sudah memiliki Anggara yang sudah pasti sangat mencintainya, tentu Radit tak perlu ikut andil dalam kekhawatiran mereka.


"Sebaiknya -"


Radit tak melanjutkan kata-katanya, ia sadar jika ia bukanlah siapa-siapa saat ini. Walaupun sejuta kekhawatiran itu kini menghuni hati dan pikirannya, tetap saja ia tidak bisa berbuat banyak. Mungkin benar keputusan yang diambil orang tua Radit adalah mengambil Dua anak-anak mereka, dengan begitu Radit juga bisa melindungi Sadewa dan Satria. Hanya saja, hati yang masih mencintai itu ingin sekali mengajak wanita pujaan tinggal di rumahnya, melindunginya, menjauhkan dari semua ancaman yang tiba-tiba membuat khawatir semua orang. Terkadang ia merasa lebih baik dari Anggara, tapi terkadang juga merasa tidak lebih baik dari pria matang itu dalam membahagiakan Zahira. Dunia ini benar-benar memiliki Dua sisi, kekurangan dan kelebihan itu benar-benar tak bisa dipisahkan.


"Selamat Siang Nyonya!" suara Jia kembali terdengar di ruangan itu.


"Jia, bukankah tadi Anggara mengatakan jika kau tak bisa sering datang kesini?" Ayu menatap wajah cantik Jia.


"Tuan Anggara sedang di rumah, jadi Nona Zahira tidak sendirian." jawabnya merasa salah tingkah karena Akbar juga ada di sana.


"Oh. Kau kebelakang saja, mereka sedang bermain." ucap Ayu mempersilahkan Jia untuk menemui Sadewa dan Satria.


"Terimakasih Nyonya." Jia berlalu dengan langkah indah, gaun panjang cantik yang di pakainya membuat Akbar semakin tidak tahan untuk mengejar Jia.


"Kau mau kemana?" Radit mengerjai Akbar yang buru-buru beranjak ingin menemui Jia.


"Aku ingin menemui bidadariku." ucapnya segera berlalu tanpa peduli Ayu ataupun Radit.


"Heh, bidadari! Aku tidak yakin. Kau bisa babak belur jika salah merayu." Radit terus bergumam meskipun Akbar tak peduli, bahkan tak mau mendengarnya.


"Biarkan saja, mungkin mereka berjodoh." Ayu tak masalah jika keponakannya mendekati Jia.


"Sebenarnya apa yang mereka lakukan setiap kali Jia datang anak-anak terdengar sangat sibuk." Radit merasa mereka bukan hanya sekedar bermain.


"Mama rasa mereka bermain sambil belajar. Semacam bela diri ringan." jelas Ayu tak terlalu menganggap serius.

__ADS_1


"Apa tidak terlalu kecil?" Radit merasa sedikit khawatir.


"Tidak, Jia tahu batasannya. Bahkan lebih banyak pada cara membidik dengan senjata mainan yang dia bawa dari negeri samurai. Cukup menarik." jelas Ayu, lebih banyak bersikap santai.


__ADS_2