Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
22. Mendapat projek


__ADS_3

"Mama benar-benar menunggu kabar baik itu." Ayu tersenyum sangat bahagia walaupun itu baru hanya sekedar harapan.


"Kita berangkat sekarang?" Radit melihat jam di pergelangan tangannya.


"Sebenarnya aku ingin ke kantor Papa, jika Radit mengizinkan." Ucap Zahira ragu-ragu.


"Tapi-"


"Boleh saja sayang, ada papamu di sana." Ayu memotong ucapan Radit, dia sudah tau putranya itu tidak akan mengizinkan Zahira.


"Baiklah, aku akan mengantarmu dan setelahnya aku akan menjemputmu." Radit tak mau di bantah.


"Iya." Gadis itu hanya menjawab singkat.


Radit benar-benar tidak melepaskan Zahira mengantar hingga ke dalam ruangannya barulah ia pergi ke kantor Ayu.


"Sepi sekali." Gumam Zahira.


"Selamat pagi sayang." David masuk dan menyapa Zahira.


"Papa." Zahira berdiri dan setengah memeluk David, David membalasnya dengan pelukan satu tangan.


"Apa harimu menyenangkan?" David tersenyum cerah.


"Aku selalu bahagia Papa." Jawab Zahira, mata bening itu terlihat berbinar.


"Ah syukurlah, Papa turut bahagia." Sama halnya David, berbicara dengan Zahira adalah hal yang selalu menyenangkan. Saat dulu Zahira kecil berceloteh ria, David akan dengan senang hati mendengarkan dan menjawab apa saja yang ia tanyakan. Anak gadis itu selalu saja menyenangkan, terlebih lagi saat David merasa jenuh lelah dan penat dengan urusan pekerjaan, saat pulang bertemu Zahira adalah obat yang paling mujarab untuk menghilangkannya.


"Kemana Om Anggara?" Zahira melihat meja di hadapannya kosong.


"Kerja sama kontrak pembangunan dengannya sudah selesai, walaupun dia memiliki saham 50% untuk properti yang ada di gudang besar, letaknya ada di jalan baru yang tidak jauh dari lokasi hotel mewahnya." David menjelaskan.


"Berarti sebagian dari perusahaan ini miliknya?" Zahira terlihat berpikir.


"Tidak, hanya untuk properti saja, properti bangunan butuh keuangan sangat tidak sedikit. Saat itu ayahmu tidak memiliki modal sebanyak itu, sedangkan permintaan proyek cukup banyak sehingga Anggara menawarkan kerja sama dalam bidang properti. Tapi untuk kantor ini beserta alat-alat beratnya itu semua milikmu, tidak ada saham lain di dalamnya." Jelas David lagi.


"Baiklah, ku pikir dia akan terus mengajari aku bekerja." Zahira duduk dengan pasrah.


"Apa dia berjanji padamu?" David jadi ingin tahu.

__ADS_1


"Iya, dia bilang aku harus belajar mandiri." Zahira mulai membuka Laptop miliknya.


"Nanti papa tanyakan padanya." David kemudian keluar meninggalkan Zahira sendirian.


Gadis itu terlihat serius dengan banyak ketikan yang sudah ia pelajari, sesekali ia berhenti dan berpikir. Hingga satu jam gadis itu larut dengan kesibukannya dia masih tak beranjak dari kursi itu, padahal selama ini ia begitu ingin cepat pergi dari ruangan karena malas melakukan pekerjaan.


"Menikah satu Minggu membuat gadis manja sepertimu menjadi dewasa." Suara itu terdengar tak asing bagi Zahira.


"Akhirnya kau datang juga. Apa kau tahu? Aku ingin sekali belajar menangani sebuah projek." Zahira langsung berbicara panjang.


Pria itu menyipitkan sebelah matanya. "Kau ingin menjadi pemimpin seperti ibumu?" Anggara duduk lalu meliriknya sekilas.


"Mungkin berguna di kemudian hari, aku tidak tega jika suamiku harus mengerjakan semua sendirian." Zahira duduk menyandar.


"Bukankah kau bilang tidak suka bekerja, kau hanya ingin di rumah saja." Anggara tersenyum dengan menatap gadis itu.


"Pikiran manusia bisa saja berubah, keadaan dan tekanan dapat merubah sesuatu walupun itu di rasa tak mungkin untuk saat ini." Jelas Zahira memperlihatkan sisi kedewasaannya.


"Dan Allah maha membolak-balikkan hati." Anggara menyambung ucapan Zahira.


"Benar." Zahira kembali sibuk dengan laptopnya.


"Aku juga menyukaimu, kau orang yang sangat jenius." Zahira melihat wajah pria dewasa itu sekilas.


"Kau ini, aku bilang suka kau juga bilang suka." Anggara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Memang harus begitu, jika orang baik mengatakan menyukaimu, katakanlah hal yang menyenangkan hatinya bahwa kau juga menyukainya. Menyenangkan hati orang itu dapat pahala." Zahira menjelaskan.


"Lalu jika orang mengatakan mencintaimu apa kau juga akan mengatakan hal yang sama?"


"Tentu saja, Radit mencintaiku, aku juga mencintainya." Jawabnya tak peduli, kali ini ia tak menganggap obrolannya serius.


"Bagaimana jika itu orang lain?" Anggara memancingnya.


"Berarti dia sedang mencintai istri orang." Zahira terlihat malas.


Anggara terkekeh mendengar jawaban gadis itu, tangannya sibuk mengeluarkan kertas dari printer yang sedang menyala. "Ini ada projek kecil-kecilan untukmu. Jika kau serius kau akan berhasil." Anggara menyerahkan beberapa lembar kertas.


"Hah, ini serius?" Zahira melongo menatap kertas-kertas yang di berikan Anggara.

__ADS_1


"Tentu saja serius, bukankah tadi kau yang meminta untuk menangani projek." Anggara berdiri di dekat meja Zahira.


"Kau mendapatkan projek secepat itu?" Zahira masih terlihat heran, mata beningnya membulat sempurna.


"Iya. Tidak perlu sekagum itu." Anggara merasa itu terlalu berlebihan.


"Ish, harusnya kau senang aku kagum dengan cara kerja mu." Zahira terkekeh kali ini.


Anggara menatap tak percaya, itu pernyataan yang sangat aneh. "Sudah merasa jadi Direktur." Ucapnya.


"Apa aku sudah pantas di sebut Direktur?" Zahira tertawa senang sekali.


"Iya, Ibu Zahira." Anggara meledeknya dengan terkekeh geli.


"Ah, itu sama sekali belum pas untuk di dengar." Ucap Zahira, dia tak putus asa walaupun mendapat ledekan dari Anggara.


Keduanya larut dalam pekerjaan yang baru di dapatnya dan Zahira belajar dengan penuh semangat.


"Kau pintar sekali, sayangnya pemalas." Ucap Anggara melirik wajah cantik itu, sadar bahwa dia sudah istri orang.


"Mulai sekarang aku tidak akan malas lagi." Ucapnya tersenyum sangat manis.


Pintu terbuka, tampak pria yang memakai Jas dengan style yang mewah itu datang mendekati Zahira. Tangannya meraih bahu Zahira dan memeluknya.


"Radit." Ucap Zahira dengan senyum yang manis dan mata berbinar bahagia.


"Kita pulang sayang." Ucapnya mesra sekali, bibir merahnya menghampiri kening dan pipi Zahira.


'Terulang kembali, hanya menyaksikan kisah kemesraan orang yang aku cintai. Apa aku harus seperti ini hingga mati.'


Anggara tersenyum kecut, pura-pura tak menyaksikan apapun. "Aku pulang dulu, besok jangan lupa kita akan ke lokasi." Anggara berlalu dengan menepuk bahu Radit, meninggalkan mereka berdua.


"Kemana sayang?" Radit menatap Zahira dengan heran.


"Aku sedang mendapat projek baru, dan itu akan di mulai besok. Aku akan belajar untuk mengelola ini semua, agar kau tidak kerepotan. Seperti papa dan mama, mereka saling membantu." Zahira senang sekali.


"Apa itu tidak akan melelahkan?" Radit menatap istrinya penuh selidik.


"Aku hanya belajar, bukan untuk bekerja sepenuhnya. Jika aku harus meminta orang untuk bekerja paling tidak aku tahu jalannya pekerjaan itu." Zahira berbicara serius.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita pulang?" Radit meminta Zahira menggandeng tangannya, tentu saja dengan senang hati Zahira akan melakukannya. Setengah hari saja tak bertemu membuat rasa rindu datang menyerbu.


__ADS_2