
Sembilan tahun kemudian.
Kedua putra jenius Anggara sudah kuliah di London selama tiga tahun, mengambil S2 sekaligus dan lulus di usia belum genap Delapan belas tahun dengan nilai terbaik, membawa nama negara asal dengan bangga, keduanya akan pulang hari ini.
"Sayang cepatlah, pagi ini mereka tiba di bandara." Radit melihat jam di pergelangan tangannya hingga beberapa kali.
"Sebentar." jawab Zahira berada di kamarnya, beberapa hari ini mereka sedang berada di rumah besar Anggara, sengaja menyiapkan kamar untuk putra mereka yang pulang dengan keberhasilan luar biasa.
Di depan cermin Zahira melihat pantulan dirinya yang tampak sudah pas dengan sedikit berhias.
Kemudian berdiri dengan menarik nafas berkali-kali, bahagia dan haru mendengar kepulangan keduanya. Langkahnya cepat, tapi kemudian berhenti sejenak ketika melewati sebuah foto berukuran besar di ruang tengah lantai dasar tersebut.
Anggara, dia masih saja tampan dengan senyumnya. Zahira bergumam di dalam hati, berkata bahwa putra kebanggaan dan kesayangan suaminya akan segera tiba.
'Mereka akan menjadi pemimpin yang hebat, seperti yang kau inginkan Mas. Mereka sudah tiba dan siap melanjutkan semua kebaikan yang kau miliki.'
"Ayo Sayang." Radit merangkul Zahira yang sedang terpana dengan foto seorang laki-laki tersebut.
"Ya." Zahira tersenyum hangat, menerima pelukan Radit dan berjalan menuju keluar, tak sabar rasanya untuk bertemu dan memeluk kedua putra tampan tersebut.
"Ayo Sayang." Zahira sedikit berteriak kepada gadis kecil berusia Sepuluh tahun itu, kaki kecilnya terlihat begitu lincah berlarian diantara bunga-bunga mawar yang dulu adalah tempat berbagi kebahagiaan Zahira bersama Anggara. Taman bunga yang wangi, indah di penuhi kupu-kupu berwarna-warni. Ameera juga sangat menyukainya.
Ketiganya melaju dengan mobil keluaran terbaru milik Raditya. Jalanan yang tak terlalu padat hari ini, ketiganya akan sampai tepat waktu.
"Ibu, apakah aku sudah cantik?" tanya gadis kecil yang sedang memakai gaun berwarna merah muda itu.
Zahira tertawa juga dengan Raditya, mereka saling memandang dengan tingkah Ameera yang tampak serba salah dengan rambutnya yang sudah di sanggul kiri dan kanan, hanya terlihat repot ketika anak rambutnya yang tak terlalu panjang menutup keningnya.
"Kau sudah cantik Sayang." jawab Radit masih menertawai putrinya.
"Kakak akan menertawai ku jika aku jelek." celotehnya lagi, dengan gigi besar di bagian depan.
"Tidak, mereka akan sangat merindukanmu." jawab Zahira memeluk putrinya yang berdiri di belakang mereka.
"Kita sudah sampai." ucap Radit ketika mobil mereka mulai memutar dan memasuki area parkiran.
"Ayo Sayang." Zahira mengajak Ameera untuk segera turun.
"Ibu duluan saja." ucapnya tampak enggan beranjak.
"Kenapa?" tanya Zahira lagi.
"Nanti saja setelah Kakak tiba." dia tetap tak mau keluar.
"Baiklah, tetap di sana dan jagan keluar." Radit membiarkan putrinya tetap di dalam.
Entah apa yang sedang di pikirkan gadis kecil itu.
"Tapi dia sendirian Sayang?" Zahira sedikit khawatir.
"Tidak masalah, kita akan menunggu mereka di sini saja." Radit hanya melangkah tak jauh dari mobil mereka.
Tak begitu lama, para penumpang sudah keluar dari pesawat terbang tersebut, tampak semua awak penumpang membawa koper masing-masing.
__ADS_1
Beberapa orang sudah berlalu namun belum juga terlihat kedua putra mereka.
"Mengapa lama sekali?" tanya Zahira terlihat khawatir.
"Mungkin masih di belakang Sayang." Radit memeluk Zahira, seperti biasa mereka selalu hangat dan mesra.
Hingga beberapa saat setelah penumpang semuanya sudah berlalu.
Tampak dua orang pria muda sedang berjalan cepat ke arah mereka, senyum keduanya mengembang dengan wajah tampan dan penuh kharisma.
Satria dengan rambutnya terlihat rapi seperti saat masih kecil, dia suka style rambut ala Korea. Sedangkan Sadewa dengan rambut pendek rapi seperti ayahnya.
Zahira menangis sebelum memeluk mereka, mata indahnya semakin mengabur dengan penampilan kedua putranya yang sudah beranjak dewasa. Tampan dan gagah keduanya seperti Anggara.
"Ibu." panggil Sadewa memeluk ibunya begitu erat, di susul Satria juga tak mau ketinggalan.
"Ibu merindukan kalian." ucap Zahira dalam tangisnya, dua tahun terakhir Zahira tak menemui mereka, hanya Radit yang selalu berkunjung dan mengecek semua kebutuhan mereka.
"Kami juga sangat merindukan Ibu." jawab Satria memeluk dengan tangan hangatnya.
"Dua tahun membuat kalian sangat dewasa." Zahira melonggarkan pelukannya, melihat kedua putranya dari ujung kaki hingga kepala.
"Tentu saja Ibu, kami sudah hampir delapan belas tahun. Itu sudah dewasa."
Senyum keduanya terlihat begitu hangat.
"Apa kalian tidak merindukan Ayah?" tanya Radit tersenyum menyaksikan kerinduan ibu dan anak tersebut.
"Terimakasih untuk semuanya Ayah." ucap Satria memeluk begitu erat.
"Untuk apa? Aku tak melakukan apa-apa." Radit mengusap pundak kedua pria gagah tersebut.
"Di mana Ameera?" Satria menyadari sesuatu, adiknya belum muncul.
Radit menunjuk mobil yang tertutup.
Satria mendekati mobil itu sambil tersenyum senang. Membuka dan memeluk putri kecil yang cantik tampak menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan.
"Kakak." rengeknya masih bersembunyi, bahkan semakin bersembunyi ketika dalam pelukan Satria.
"Mengapa bersembunyi, Kakak rindu dengan wajah cantikmu." Sadewa meraihnya dari pelukan Satria.
"Ibu." rengekannya sedikit berteriak.
Sadewa mengangkat tubuh ramping Ameera hingga tinggi sejajar dengan dirinya.
Matanya kecil, sipit seperti Radit. Bibirnya mungil dengan hidung yang meruncing di ujungnya. Kulitnya putih bersih dengan rambut yang rapi dan gaun yang cantik.
"Kau cantik sekali." gumam Sadewa memandangi wajah adik kecilnya.
"Ibuuu." dia kembali merengek tapi tak bisa turun karena Sadewa mengangkatnya terlalu tinggi.
Hari-hari berlanjut hingga satu Minggu kemudian.
__ADS_1
Dua orang pria muda dengan jas rapi dan mahal memasuki Kantor besar Anggara.
Mata keduanya terlihat tajam dengan wajah tampan, semua orang tampak menunduk hormat pada pemimpin yang baru.
"Mulai hari ini, kepemimpinan perusahaan akan ku serahkan pada kedua putraku, Satria dan Sadewa." ucap Zahira di rapat besar tersebut.
Mereka tersenyum tipis dengan wibawa seorang pemimpin, persis seperti ayahnya.
"Selamat untuk kalian." ucap Radit yang juga hadir sebagai rekan bisnis.
"Terimakasih Ayah, tanpamu kami tak akan ada di titik ini." ucap Sadewa memeluk Raditya.
Radit tersenyum senang.
"Dulu, saat aku bermusuhan dengan ayahmu ketika dia mengambil ibu kalian. Aku sempat mengatakan bahwa aku akan mengalahkan dirinya." Radit bercerita sedikit di dalam ruangan direktur utama itu.
Satria dan Sadewa sangat serius mendengarkan.
"Dia bilang *Kau butuh dua puluh tahun untuk menghancurkan semua milikku. Tapi anak-anakku tak butuh waktu dua puluh tahun untuk menjadi pemimpin hebat, dan Kau tak akan bisa mengalahkan mereka. Saat itu kalian masih dalam kandungan." Radit sedikit tertawa mengenang hal itu.
"Ternyata, aku memang tak bisa mengalahkan kalian, karena kalian adalah putraku." ucap Radit sedikit berkaca-kaca.
"Kalian orang-orang yang hebat." ucap Sadewa.
"Terimakasih sudah menjaga kami dan Ibu." ucap Satria lagi.
"Kau ayah terbaik."
*
*
*
Jika bahagia tak bisa diminta, maka berilah kebahagiaan pada orang yang juga sedang terluka, bahwa dalam kelegaan itu akan ada bahagia yang menyertainya....
*
*
*
Terimakasih....
jangan lupa mampir di kisah yang lainnya ya...
sampai jumpa lagi...
mampir di sini...
👇👇
Mengejar Cinta Suamiku
__ADS_1