Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
16. Pencuri kesempatan


__ADS_3

Seperti rencana awal, Ayu mengajak Zahira untuk berbelanja pakaian dan perhiasan, tadinya mereka hanya ingin pergi berdua, tapi Radit bersikeras ingin ikut karena memang seharusnya dia yang membelikan perhiasan untuk Zahira. Sudah jelas Ayu kalah debat dengan putranya, hingga mengalah pergi bersama.


"Radit pelan-pelan saja menyetirnya." Ayu tidak suka Radit mengemudi agak lebih kencang.


"Iya Mama, aku sedang membawa dua wanita istimewa jadi aku akan sangat berhati-hati." Radit melirik dua wanita itu.


"Tumben sekali dia berkata manis, apa efek akan menikah?" Ayu menatap heran putranya.


Zahira tersenyum melihat Radit yang juga sedang melihatnya dari kaca. Indah sekali hanya melihat senyumnya membuat Radit berkhayal jauh.


"Ayo sayang, kita sudah sampai." Ayu menggandeng Zahira masuk lebih dulu, sementara Radit menatap mereka dengan tersenyum.


Sungguh bahagia, ibunya begitu menyayangi Zahira melebihi dirinya, dari kecil Zahira selalu terlihat lebih istimewa. Entah mengapa Radit tak pernah merasa cemburu dengan kasih sayang yang selalu di berikan penuh untuknya, dan ternyata karena dia adalah calon istrinya.


"Ma ini bagus sekali!" Zahira melihat dan membelai gaun pilihan calon mertuanya.


"Kau harus mencobanya." Ayu meminta Zahira masuk keruang ganti dengan di temani pegawai toko.


"Ah, sayang sini Mama pakaikan." Ayu meminta Radit memakai jas berwarna putih bergaris pink itu. "Sempurna." Ayu tersenyum melihat jas itu pas sekali di tubuh gagah Radit, dia memang mewarisi tubuh atletis ayahnya. Bahkan di usia 17 tahunan dia sudah terlihat pantas untuk menikah.


"Mama."


Ayu menoleh putrinya sedang memakai gaun panjang dan cantik, tubuh kecil namun berisi itu terlihat begitu indah. "Ini pas sekali, kau sangat cantik sayang." Ayu mendekati Zahira.


Zahira melihat ke arah Radit yang juga terkagum-kagum, sedikit tersenyum sudah cukup untuk Zahira mendapat jawaban bahwa Radit menyukainya.


Hingga selesai sudah membeli sejumlah pakaian dan gaun untuk melaksanakan akad, mereka beralih ke toko perhiasan yang cukup besar.


"Sayang, pilih yang kau suka." Ayu meminta Zahira melihat koleksi terbaik yang baru saja dikeluarkan pemilik toko.

__ADS_1


"Yang mana saja Mama, aku tidak mengerti tentang perhiasan seperti ini." jawab Zahira polos.


"Yang kau suka sayang." Ayu memintanya mencoba, di jari dan di pergelangan tangan kecil itu.


"Ini saja." Radit menunjuk satu set yang paling cantik dan terlihat rapi. Kecil namun nilainya lebih tinggi.


"Iya." Zahira mengangguk setuju, seperti biasa pilihan Radit akan selalu baik baginya.


"Ah pasangan yang serasi." pemilik toko itu melihat kedua orang di depannya.


Ayu hanya tersenyum. Matanya menyipit melihat Radit mengeluarkan card yang tak terlihat ada gurat gesekan, seperti belum pernah di pakainya. Sedikit heran Ayu bertanya-tanya berapa nominal di dalam sana? Tapi kemudian pembayaran berhasil.


"Radit, apa kau menabung sebanyak itu?" Ayu penasaran dengan isinya.


"Aku bahkan tak pernah memakai uang yang Mama kirimkan, aku hanya memakai uang dari Papa, dan itu seperlunya." Radit terlihat tenang menjawab rasa penasaran Ayu.


"Baiklah, setelah menikah kau bebas memakai akses keuangan dari kantor Mama." Ayu terlihat serius.


"Apa aku akan tetap belajar bekerja Ma?" Zahira bertanya pada Ayu dengan wajah yang imut. Tangan kecil itu meraih kotak perhiasan yang di berikan pemilik toko seraya mengucapkan terima kasih.


"Tidak Zahira, aku yang akan bekerja." Radit menyela pertanyaannya.


"Tapi aku sudah berjanji akan belajar lebih serius dengan om Anggara." Zahira menoleh pria tampan itu.


"Nanti kau akan belajar denganku. Kau hanya perlu mendampingi aku, menungguku pulang dengan senyum dan cinta sepenuh hatimu." ucapnya, tangan Radit mencuri kesempatan merangkul bahu Zahira sambil berjalan menuju mobil mereka.


"Mau Mama pukul?" Ayu memasang wajah dinginnya, telunjuknya meminta tangan Radit segera menyingkir.


"Aku hanya bercanda Mama." ucapnya tersenyum.

__ADS_1


"Kita antar Zahira pulang, lalu setelahnya mama harus menyiapkan banyak hal untuk pernikahanmu.


"Sebaiknya pernikahan ini di rahasiakan ma, Radit masih sekolah." ucap Zahira pada Ayu setelah duduk di dalam mobil.


"Sebenarnya mama ingin mengadakan resepsi besar-besaran untuk kalian semingu setelahnya. Lagi pula kita memiliki perusahaan yang besar dan maju, akan terlihat pantas jika kita mengadakan resepsi yang mewah sayang." Ayu melihat wajah ke dua anaknya bergantian, ia sedang meminta pendapat.


"Tapi itu tidak baik untuk Radit Ma, apa kata orang jika masih sekolah dia sudah menikah." Zahira menatap wajah calon suaminya yang mana matanya juga melirik Zahira.


"Benar juga." Ayu menyandar, wajahnya terlihat berpikir mencerna ucapan Zahira.


"Baiklah, setelah Radit ujian akhir, kita akan mengadakan resepsi yang mewah dan besar. Apa kau setuju?" Ayu bertanya pada Zahira, dia tau jika anak laki-lakinya tak peduli bahkan dengan apapun, yang penting baginya bisa menikah secepatnya dengan Zahira.


"Iya Mama." ucapnya dengan suara halus dan lembut, itu selalu terdengar menenangkan.


Tak begitu lama, mereka sudah tiba di rumah Zahira. Mereka semua turun masuk ke rumah dua lantai itu, Radit duduk di sofa ruang tamu bersama Ayu, sedangkan Zahira naik ke atas untuk menyimpan pakaian dan perhiasan yang baru saja di beli Radit untuk mahar pernikahannya.


"Mama akan mengirim orang menghias sedikit ruangan ini." Ayu melihat sekeliling ruangan itu.


"Aku akan tinggal di sini bersama Zahira Ma." Ungkap Radit.


"Mama tak masalah, asal kalian selalu bahagia." Ayu menatap sendu putranya, sungguh hidupnya sangat sempurna kala membayangkan dua anak yang dicintainya menyatu dalam sebuah ikatan rumah tangga. Dia tak perlu takut kehilangan, Zahira putri angkatnya akan menjadi menantu, akan menjadi ibu dari cucu-cucunya, istri dari putra semata wayangnya dan akan selalu bersamanya. Tak perlu takut dia tidak bahagia, tak perlu khawatir dia akan mendapatkan pria yang salah. Mereka akan menjadi keluarga yang utuh selamanya, Papa, Mama, Zahira dan Radit, beserta anak-anak mereka kelak.


"Mama pasti haus." Zahira datang dengan jus jeruk di tangannya.


"Terima kasih Sayang." Ayu segera meraih jus jeruk dan langsung meminumnya di ikuti Radit juga tampak begitu haus.


"Besok Mama akan kirim orang untuk menghias ruangan ini juga kamarmu sayang, kau tak usah kemana-mana apalagi bekerja. Istirahat dan bersantai saja di rumah, lusa pagi orang-orang salon langganan mama akan datang untuk memberikan perawatan padamu." ucap Ayu pada Zahira yang duduk di sampingnya.


"Iya." jawabnya begitu patuh.

__ADS_1


"Dan, jangan terima tamu laki-laki yang suka mencuri-curi kesempatan." Ayu menunjuk Radit yang sedang menghabiskan jus buatan Zahira.


Pria itu tersedak mendengar ucapan Ayu, sungguh dia akan kesulitan menemui calon istrinya.


__ADS_2