
Rasa kecewa hanya sebagai pelampiasan, dimanfaatkan, juga dianggap bodoh, membuat Vino tidak menemui Merry dalam waktu lumayan lama, namun entah mengapa rasa rindu terkadang mengusik hati seorang pria remaja yang tentu kesulitan mengendalikan perasaannya sendiri. Benci yang tadinya menguasai hati, kemudian berganti menjadi tuntutan ingin segera mengunjungi.
"Kau tidak sekolah lagi?" tanya Vino ketika Merry keluar dari apartemen miliknya, Vino sengaja menyandar di dinding dekat pintu menunggu Merry keluar tanpa di ketuk.
"Tidak." jawabnya pelan, ia tidak menyangka jika Vino sudah ada di sana bahkan tanpa memberitahu terlebih dahulu.
"Kenapa?" tanya Vino, kali ini dia menatap tajam.
"A-aku, hanya ingin istirahat saja." jawabnya tak ingin jujur.
"Karena kau sudah menikah dengan Radit?" tanya Vino, tapi kemudian pria itu merubah posisinya menghadap Merry. "Katakan padaku, kau sudah hamil?" bisik Vino tapi penuh penegasan. Tangan Vino memegang bahu Merry sedikit kuat, mendorongnya kembali masuk ke dalam apartemen itu.
Merry membalas tatapan Vino, ia tidak ingin menjawab, tapi Vino tak bisa dengan mudah di bohongi.
"Jawab!" ucap Vino lagi.
Merry menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata lalu membuka kembali. "Iya."
Vino tersenyum mendengar jawaban itu, ia berpikir jika Merry sedang mengandung anaknya. Tapi senyum itu tidak berlangsung lama, Vino menunduk dan berpikir.
"Apa hanya Radit yang kau inginkan di dunia ini? Bagaimana jika anak yang sedang kau kandung itu adalah anakku? Apa suatu saat kau akan membuka kebenarannya? Atau kau akan selamanya membohongi Radit?" tanya Vino dengan wajah serius.
"Ini anak Radit Vino, tapi entahlah." Merry tak mau membuat Vino semakin marah, tapi juga tidak mau di tuduh bersalah.
"Mengapa kau tidak bilang padaku terlebih dahulu? Bukankah akan lebih baik jika kau menikah dengan laki-laki yang tidak punya istri, setidaknya kau tidak membuat orang lain terluka, termasuk aku." ucap Vino meminta Merry mengerti.
__ADS_1
"Tapi ini sudah terjadi Vino, dan Radit sudah menikahi aku. Aku tidak bisa menolak saat dia ingin menikahi aku, aku memang menginginkan dia." jelas Merry.
"Aku rasa kaulah yang meminta Radit menikahi dirimu. Kau hanya membuang-buang waktu untuk mencoba mendapatkan cinta yang sejatinya milik orang. Aku bisa pastikan jika kau tidak bahagia menikah dengan orang yang tidak mencintaimu, kau hanya akan menjadi yang kedua, selamanya tidak akan mendapatkan tempat di hati Radit."
"Aku akan mendapatkan tempat itu Vino, aku pastikan dia hanya akan mencintaiku karena istrinya tidak kunjung hamil. Radit sangat ingin punya anak, dan aku sudah memberikannya." jawab Merry yakin.
"Jika itu anaknya? Nyatanya istri yang di sentuhnya setiap malam belum hamil juga, bagaimana denganmu yang hanya sekali. Dan jangan lupa akulah yang selalu menanam benih di dalam perutmu ini, aku yakin ini anakku." Vino memegang perut Merry dengan penuh kasihan sayang.
"Kau teruskan saja sekolahmu, bukankah ayah dan ibumu ingin kau terus sekolah dan sukses di kemudian hari? Jadi jangan kecewakan mereka, kau masih bisa bertemu aku juga anak ini nanti." Merry membujuknya lagi.
Vino tampak berpikir, ia duduk berlutut demi memegang perut Merry dengan banyak harapan. Namun ada benarnya jika memang Vino harus menyelesaikan sekolahnya, mengingat ayah dan ibunya hanya sebagai pemilik toko elektronik, bukan pengusaha seperti orang tua Radit atau Merry.
"Tapi kau tidak akan bahagia." ucap Vino pelan.
"Itu tidak mungkin, Radit saja begitu mencintainya melebihi apapun di dunia ini." jawab Vino berdiri menatap wajah kekasihnya itu.
"Kalau begitu kau harus membantuku." Merry mulai merayu. "Demi anak kita." sambungnya lagi.
"Tidak Merry, itu terlalu jahat untukmu." ucap Vino setengah berbisik, karena tangannya sudah merayap naik dan turun.
"Bukan aku, tapi kau bisa melakukannya." Merry-pun berbisik mesra.
Meskipun larut dalam rasa, tentu masih tersisa sedikit akal sehat di dalam diri untuk tidak menuruti semua yang Merry minta. Vino tidak ingin di perbudak cinta, tapi juga tidak bisa menjauh dari wanita kekasihnya.
Hingga Tiga bulan lebih kehamilan Merry, alhasil pernikahan yang di tutupi Raditya terbongkar dengan sendirinya. Walaupun Vino menutup telinga akan hal itu, tapi sebagai teman yang mengetahui sedikit rahasia Radit, kabar seperti itu tidak sulit ia dapatkan. Ketika Radit sibuk meyakinkan istrinya, ketika itu pula Merry galau dengan keadaannya yang butuh perhatian. Sengaja Vino tidak mendatanginya karena ia ingin tahu bagaimana jika Merry tanpa dirinya. Dan lagi, Vino ingin Radit segera membuang Merry demi istri sah-nya agar ia juga bisa bersama Merry dan calon anaknya nanti.
__ADS_1
"Vino!" suara seseorang memanggil, pintu rumah itu di ketuk berkali-kali.
Vino bangun dari tidurnya, ia segera keluar untuk melihat siapa yang datang, meski sayup terdengar itu adalah Merry. Rasanya tidak mungkin karena dia hanya akan menunggu Vino datang.
"Merry?" ia begitu terkejut ternyata benar, ia tidak salah dengar, di pagi buta Merry datang dengan wajah polos khas baru bangun tidur.
"Aku merindukanmu." jawab Merry langsung memeluk Vino.
Meski heran namun laki-laki tak akan menolak jika sudah di datangi dan di mulai duluan. Vino mengunci pintunya dan segera masuk bersama Merry. Hingga beberapa jam kemudian, pintu rumah Vino terdengar di Ketut kembali. Pria yang sedang tertidur lelah itu segera beranjak, ia segera ke depan dan melihat dari balik jendela. Sejenak ia memakai kaos yang tadi ia bawa di bahunya.
"Radit?" ucap Vino setelah membuka pintu.
"Iya, aku ingin meminjam catatan tugas sekolah milikmu." ucap Radit tanpa basa-basi.
Vino melihat wajah Radit kusut dan pucat, mungkin kurang tidur dan banyak pikiran. "Tunggu sebentar." Vino masuk dan mengambil buku yang di minta Radit.
Vino melihat kamarnya kosong, ia pikir Merry di kamar mandi, tapi tak menemukannya setelah kamar mandi dibuka. Vino jadi berpikir jika wanita itu sudah pergi.
"Ini." Vino memberikan buku pada Radit. Tapi matanya menangkap sosok Merry sudah ada di luar, di halaman rumahnya dan menunggu Radit di sana. Ia berusaha untuk berpura-pura tidak tahu. "Kau kemana saja sehingga tidak masuk sekolah?" Vino juga sedang berpura-pura.
"Aku ada urusan. Baiklah ini aku pinjam dulu, terimakasih." ucapnya segera berbalik.
Di kejauhan Vino melihat Radit berbicara dengan Merry, mereka pulang bersama. Sepertinya harapan Vino untuk melihat mereka berpisah, atau Radit memilih istri pertamanya adalah mustahil, buktinya sekarang Radit malah mengantar Merry dan mengajaknya dengan cara yang baik. Senyum getirnya terbit, ia marah, benci, tak suka, juga macam-macam pikiran buruk menghampiri dirinya.
Lama ia berdiam, hingga beberapa saat setelah itu, ia menyusul Merry ke apartemen miliknya, ia ingin memastikan jika Radit ada di sana.
__ADS_1