
"Bagaimana Dokter?" tanya Radit setelah beberapa saat sebelumnya melakukan berbagai macam tes kesehatan.
Dokter Novan duduk dengan menarik nafas, tangannya memegang kertas hasil pemeriksaan. "Sebenarnya secara keseluruhan Anda sehat. Tapi-"
"Tapi apa Dok? Aku benar-benar penasaran."
"Ini baru hasil pemeriksaan sementara, Anda sulit memiliki keturunan." Dokter Novan menatap wajah Radit dengan serius. "Apa Anda memiliki keluhan selama beberapa tahun terakhir?"
"Tidak ada Dok, hanya terkadang nyeri ketika bangun tidur di bagian pinggang." Radit menjelaskan.
"Begini saja, aku masih butuh pemeriksaan lanjutan untuk Dua sampel yang sudah kita ambil. Aku akan mengirim hasil pemeriksaannya di hari Rabu. Karena hari libur seperti ini petugas laboratorium sedang tidak bekerja." Dokter itu tersenyum sedikit.
"Baiklah Dokter, kirimkan ke email-ku saja." jawab Radit lemas.
"Ya." Dokter Novan mengangguk, ia tersenyum menjabat tangan Radit, seraya memberi semangat.
"Terimakasih Dokter, aku permisi."
Rasanya, lututnya lemas dan sulit berjalan. Jantungnya berdegup tak beraturan dengan hati yang juga berdenyut nyeri menghujam seirama. Benarkah yang baru saja ia dengar?
"Radit!"
Suara Nurul memanggil, wanita berhijab panjang itu mengejar langkah Radit. Ia tahu persis dengan irama langkah itu, jika sudah sedikit terburu-buru dengan wajah menunduk maka dia sedang tidak baik-baik saja.
Dan benar Radit tak menoleh, ia terus melangkah menuju mobilnya tanpa mendengarkan panggilan Nurul.
"Radit."
Nurul segera menyusul, masuk ke dalam mobil Radit dan melihat anak asuhnya menyandar dengan memejamkan mata. Nurul menarik nafas, ia ikut merasa jika Radit sedang bersedih, ia tengah berada dalam titik terendah dan mengalami kesulitan dan kehancuran yang bertubi-tubi.
"Dokter bilang aku akan sulit memiliki keturunan Umi." ucapnya pelan. Dada bidangnya tampak sedang menahan sesak, gejolak luka yang sungguh banyak.
"Itu baru kata Dokter, bukan kata Allah. Sulit bukan berarti tak boleh 'kan?" Nurul duduk dengan memiringkan tubuhnya, menghadap Radit dengan iba.
__ADS_1
"Tapi itu benar Umi, buktinya Zahira tak kunjung hamil, dan setelah menikah dengan Anggara dia hamil dalam waktu singkat. Umi lihat sendiri saat ini dia mengandung anak Anggara, mereka akan memiliki Dua bayi sekaligus." ucap Radit sedih.
"Radit tenangkan diri. Sekarang kite balik, biar Umi yang menyetir." Nurul beranjak dari duduknya, begitu pula Radit dengan lemas ia beranjak dan keluar untuk bertukar tempat duduk dengan Nurul.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, perjalanan lumayan jauh itu hanya habis dengan saling berdiam. Radit sedang kecewa dengan kehidupan yang sedang bermain-main dengannya, juga Nurul, larut dalam rasa yang sepertinya begitu dalam sehingga senyumnya pun tak terlihat dalam kedewasaan seorang guru Agama.
"Radit tau? Umi adalah salah satu wanita yang malang, setelah keguguran suami Umi meninggal dan Umi kehilangan Rahim. Umi tak 'kan boleh mengandung hingga akhir hayat." ucapnya pelan. Matanya menatap lurus ketika jalanan padat itu semakin merapat, ia sedang berkonsentrasi dengan lambatnya laju kendaraan, tapi hatinya kembali sakit dengan kenyataan yang bagai terkorek kembali hari ini.
"Itukah alasan Umi tidak menikah lagi?" tanya Radit memberanikan diri untuk membahas kehidupan pribadi gurunya.
"Ya, Umi rase percuma menikah jika Umi tak boleh berikan kebahagiaan. Lagi pula Umi hanya mencintai almarhum suami Umi, biarlah di surga nanti Umi akan hidup bahagia bersama anak dan suami Umi. Umi yakin mereka sudah menunggu di sana." Nurul tersenyum di tengah hatinya yang sedang bersedih.
Radit menunduk mendengar penuturan Nurul, apakah ia harus menunggu Anggara meninggal dan berharap Zahira kembali padanya? Tapi itu terlalu lama.
Bagaimana caranya bisa melanjutkan hidup ini, sedangkan orang yang dicintainya hanyalah Zahira saja. Jangankan berpikiran untuk menikah lagi, bahkan jatuh cinta saja ia tak ingin lagi.
"Kite dah sampai." Nurul sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah David.
Sedangkan Radit masih terlihat bingung, sibuk dengan lamunannya ia malah tidak tahu jika perjalanan mereka sudah cukup lama dan habis hanya berdiam.
"Memangnya apa yang terjadi sehingga kau membuat Nurul menyetir? Apa kau sakit?" tanya Ayu yang baru saja mendekat, ia duduk di dekat Radit.
"Tidak Mama, hanya lelah." Radit beranjak naik ke lantai Dua, semenjak ia kembali ke rumah itu, Radit memilih tidur di lantai dua, kamar yang bersebelahan dengan milik Zahira dulu.
"Ada apa dengan putraku?" tanya Ayu pada Nurul.
"A-, eh-." Nurul jadi gelisah, ia bingung harus mengatakan sekarang atau tidak.
"Katakan saja." Ayu tahu ada sesuatu yang membuat Nurul ragu.
"Tadi, Radit melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit." ucap Nurul pelan.
"Lalu?" Ayu menyipitkan matanya, tidak biasa Nurul bersikap seperti itu.
__ADS_1
"Dokter Kate, Radit sulit memiliki keturunan." ucap Nurul lega.
Tapi Ayu sangat terkejut, mulutnya terbuka dengan nafasnya berhenti sejenak. "Apa?" ia masih tidak percaya.
"Iya Akak." Nurul menunduk.
David yang baru saja mendekat juga mendengarkan kabar itu, pria berkulit hitam manis itu tak mampu berkata. Rasanya tak mungkin Radit akan mengalami hal sekejam itu, mengingat riwayat keturunan David, semuanya subur dan terbilang mudah untuk memiliki keturunan. Juga Ayu, bahkan sekali kesalahan itu orangtuanya lakukan sudah menghasilkan seorang Ayu.
Sedangkan di tempat lain, Zahira sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan besar milik Anggara. Wanita itu asyik bergelayut manja di bahu Anggara, sekalinya tangan halus itu lepas ketika ia memilih barang yang di inginkan. Sebaliknya Anggara selalu meraih dan memeluk tubuh besarnya, seakan tak ingin jauh barang sejengkal saja.
"Bajunya bagus sekali!" Zahira membelai-belai sepasang gaun berwarna putih.
"Kau menyukainya?" Anggara melihat pakaian itu memang lebih kecil, ia mengira jika tak akan muat dengan tubuh Zahira yang sedang sangat besar.
"Tubuhku gendut sekali." ia melihat tubuhnya sendiri.
Anggara tertawa dengan tingkah istri cantiknya. "Apa ada yang besar?" Anggara bertanya pada pegawainya.
"Tidak ada Tuan, ini unlimited." jawab pegawai menunduk sopan.
"Kalau begitu lepas gaun ini, dan pesan gaun wanitanya yang ukuran lebih besar untuk istriku." perintah Anggara, telunjuknya mengarah pada pakaian yang masih terpajang.
"Baik." pegawai itu patuh.
"Mengapa harus di lepas?" tanya Zahira menoleh Anggara.
"Karena aku hanya ingin ada satu, untuk aku dan dirimu." Anggara memeluknya dengan mesra, sesekali kecupan hangat menempel di pipi halusnya.
"Bisa tidak memikirkan orang yang masih sendiri!" suara Akbar memecah kemesraan yang sedang berlangsung.
"Aku tidak memintamu ikut!" jawab Anggara tak peduli.
"Maaf." ucap Zahira menoleh Akbar juga Jia.
__ADS_1
"Tidak usah minta maaf, dia ikut kita karena ingin selalu berdekatan dengan Jia." jawab Anggara masih memeluk Zahira.
"Jia!" Zahira menatap wajah cantik Jia yang memerah.