Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
48. Aku salah apa


__ADS_3

Hampir dua jam mereka melaju mencari klinik yang di maksud Ana, hingga akhirnya mereka menemukan tempat itu.


"Zahira!" teriak Ana yang sengaja menunggu untuk memastikan sahabatnya itu tiba di klinik milik ibunya.


"Ana, aku sedang butuh bantuanmu." Zahira segera menghampiri sahabatnya.


Ayu mengikuti dari belakang dengan sedikit tersenyum menyapa Ana.


"Dia?" Ana melihat wanita yang datang bersama Zahira mirip sekali dengan tunangan sahabatnya.


"Ini Mamaku Ana, sekaligus ibunya Radit." jelas Zahira memperkenalkan Ayu.


Ana semakin melongo mendengar penjelasan itu, mana mungkin bisa menjadi orang tua sekaligus calon mertua. Gadis itu sangat bingung memikirkannya.


"Aku ingin bertemu dengan pemilik klinik ini." ucap Ayu memecah kebingungan gadis polos itu.


"A.. Ada Tante." Ana masuk lebih dulu di iringi keduanya.


"Mama, ada yang ingin bertemu." Panggil Ana pada dokter muda itu, ia terlihat sibuk di dalam ruangan bernuansa putih miliknya.


"Masuk saja sayang." jawabnya begitu mesra.


"Selamat pagi menjelang siang Dokter!" sapa Ayu setelah masuk di ruangan itu.


"Ah, selamat pagi dan menjelang siang." jawab dokter cantik itu begitu ramah, sepertinya ia menyukai sapaan Ayu.


"Maaf mengganggu waktu anda." Ayu duduk setelah tangan dokter itu memberikan kode untuk duduk berhadapan dengannya.


"Tidak masalah Nyonya, saya senang anda sudah bersedia datang di klinik sederhana ini." jawab dokter itu, dia melihat cara berpakaian Ayu begitu Elegan dan sudah dapat di pastikan dia bukan orang sembarangan.


"Ah, ternyata anda adalah seorang dokter yang rendah hati." Ayu balas memujinya. "Sebenarnya kedatangan kami kemari karena ingin menanyakan sesuatu, dan kiranya dokter bersedia membantu." Ayu mulai berbicara dengan serius.


"Tentu saya akan membantu." jawabnya tersenyum ramah.


"Begini, hari Sabtu kemarin putraku datang kemari bersama seorang wanita. Dan maaf, saya ingin tahu data dan keperluan apa mereka datang kemari."


"Oh, apa mereka sudah menikah?" tanya dokter itu melihat dengan penuh tanya.


"Justru itu Dok, saya sedang ingin mengetahui hal itu. Dan putri anda memberi tahu putriku perihal kedatangan mereka kemari." Ayu menatap sekilas pada Ana yang berdiri di samping Zahira.


"Pria itu tunangan Zahira Mama." jelas Ana pada ibunya.


"Oh baiklah, coba lihat datanya sayang." pinta dokter muda itu pada putrinya.

__ADS_1


"Yang ini Ma!" Ana memberikan catatan pada ibunya.


"Namanya Merry, memeriksakan kehamilan pertama dengan usia kandungan Tiga bulan. Keluhannya sering mual dan pusing, kandungannya sehat." Dokter itu menjelaskan dengan detail dengan masih melihat catatan yang dipegangnya.


"Radit!" ucap Zahira pelan, dadanya bergemuruh hebat dengan air mata yang tak terbendung lagi, mengalir begitu deras seiring tarikan nafasnya yang terasa sesak.


"Dia dengan putraku kan?" tanya Ayu meyakinkan hatinya.


"Iya Nyonya." jawabnya tenang sekali.


"Bisakah aku meminta rekaman CCTV, hanya untuk memastikan itu putraku atau bukan." pinta Ayu lagi.


Dokter itu tampak ragu, namun putrinya menatapnya dengan memohon.


"Baiklah, hanya melihat ya Nyonya. Karena itu privasi kami." jelasnya lagi.


"Iya." jawab Ayu, suaranya bergetar pelan.


Ana membuka laptop pribadi ibunya, sejenak ia menekan beberapa tombol dan memutar laptopnya menghadap Ayu dan Zahira.


Tampak di dalam rekaman itu Radit masuk bersama Merry.


"Mama, Radit membohongiku!" Zahira sudah tidak bisa menahan emosinya.


Zahira sudah tidak tahan dan berlari keluar meninggalkan tempat itu tanpa permisi.


"Zahira sayang, tunggu!" Ayu juga ikut mengejarnya keluar, langkahnya begitu cepat namun tak melihat Zahira di depan klinik itu.


"Zahira!" Ayu memanggilnya dengan Isak tangis yang masih terdengar. Ia menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Zahira, dan ternyata gadis itu sedang duduk tersungkur di sudut halaman klinik memegangi dadanya, tangisnya nyaris tak terdengar namun air mata itu begitu memilukan dengan bibir mungilnya tertahan di kedua sudut menahan sakitnya di dalam sana.


"Zahira sayang." Ayu ikut duduk bersimpuh memegang bahu Zahira yang bergetar hebat.


"Mengapa Ma?" ucapnya pelan terdengar memilukan.


"Maafkan Mama sayang?" Ayu tak sanggup melihat Zahira bersedih dan tentu ia juga begitu terpukul dengan kenyataan ini.


"Apa karena aku belum juga mengandung anaknya sehingga Radit meninggalkan aku Ma?" tanya Zahira dengan nafasnya mengikuti isakan yang tertahan di dada.


"Tidak Zahira." Ayu tidak tau harus menjawab apa.


"Aku salah apa Mama?" tanyanya lagi.


"Kau tidak salah Nak, Radit yang salah." jawab Ayu dengan semakin menangis.

__ADS_1


"Radit jahat Ma, dia sungguh tega." Zahira semakin menangis mencoba melepaskan beban yang begitu berat.


Kedua orang anak menantu itu masih larut dalam kesedihan dengan posisi yang tak berubah, hanya tangisan yang terdengar keluar dari keduanya.


"Zahira!" Dokter muda itu mendekati Zahira, membelai kepala yang terbungkus hijab itu dengan lembut.


Zahira masih terisak namun kini dengan posisi memeluk lututnya.


"Kau tahu Zahira, dulu aku juga dikhianati suami pertamaku, bahkan dia melakukannya di rumah kami. Dia berselingkuh dengan saudara sepupuku sendiri, bisa kau bayangkan bagaimana sakitnya, aku bahkan hampir mati bunuh diri. Sempat aku mencoba bertahan karena aku tidak sanggup kehilangan, namun akhirnya aku menyerah. Dan sekarang aku menikah dengan ayahnya Ana, aku mendapat kasih sayang yang utuh walaupun aku harus menyandang status ibu tiri." ucapnya lembut, sungguh ia mengerti betapa hancurnya Zahira.


"Kau harus kuat Zahira, kau cantik pintar dan kaya raya. Ada banyak laki-laki yang akan mengejar-ngejar dirimu, mungkin lebih dari Radit." ucap Ana, namun sejenak ia sadar bahwa ada ibunya Radit di sampingnya mereka.


"Maaf!" ucap Ana lagi.


"Itu memang benar." jawab Ayu semakin menangis.


"Kau harus kuat Zahira, ini cobaan yg sedang Allah berikan padamu, setelah ini akan ada bahagia menjemputmu." Dokter itu memberi keyakinannya untuknya.


"Terima kasih Dok!" ucap Zahira lirih dan sesenggukan.


"Pulanglah sayang, kau masih sangat muda, jika kau butuh teman kau bisa hubungi Ana, atau kau menginap saja di rumah kami." tawarnya dengan tulus.


"Aku pasti butuh Ana." jawab Zahira menatap sendu dokter muda itu.


"Aku akan datang kapanpun kau butuh aku." Ana tersenyum hangat mengisyaratkan bahwa sahabatnya tidak sendiri.


"Kita pulang Ma." ajak Zahira, ia mulai menekan kedua tangannya di tanah tempat ia duduk, seakan tubuh itu begitu berat.


"Ayo sayang." Ayu memegang bahu Zahira membantunya berdiri.


"Kami permisi, terimakasih untuk semuanya." Ayu berpamitan.


"Sama-sama Nyonya." jawab dokter muda itu disertai Ana.


Zahira menyandar lemas duduk di sebelah Ayu, hatinya sungguh hancur hingga bicara pun ia tak mampu.


Bukankah semalam pria itu menyentuhnya dengan penuh damba?


Bukankah semalam dia menikmati semuanya dengan penuh cinta?


Bukankah semalam dia membuktikan bahwa dia hanya merindukan Zahira saja?


Dan tadi pagi Radit mengatakan bahwa dia begitu mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2