
"Ayo Sayang, kita harus pulang." Anggara meraih tubuh ramping Zahira dan segera mengajak ia berlalu.
"Dia sudah bebas?" Zahira bertanya setelah beberapa saat berpikir.
"Ya, dan sebaiknya kau jauhi dia. Jangan terlibat apapun dengannya." Anggara menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan Cafe itu.
Menghindar, mungkin lebih baik daripada berhadapan dengan seorang yang sudah jelas membenci. Sekalinya mereka membenci maka akan sulit berubah menjadi suka. Sekalinya suka itu hanyalah berpura-pura saja.
"Tuan, banyak kerusakan alat berat di proyek pembangunan tepi pantai." Begitu laporan terdengar di akhir-akhir ini.
"Tuan, pasokan bahan baku menipis dan tidak mendapat pasokan baru!"
Dan parahnya lagi. "Saham kita menurun!"
Anak perusahaan Anggara banyak mengalami kesulitan dan hambatan dan itu tidak biasa.
"Hentikan semua proyek baru." Anggara hanya menjawab demikian hingga berkali-kali.
"Anggara, kita sudah siap!" Ricko menyampaikan sesuatu yang mereka atur sejak lama.
"Mainkan saja." ucap Anggara yakin.
Satu Minggu, Dua Minggu, dan Minggu ketiga!
"Apa yang kau lakukan? Kau tahu di negara ini aku hanyalah pemula. Kau malah menghancurkan bisnisku?" pria tua itu mendatangi Anggara.
"Aku hanya mengikuti caramu Paman Daniel! Kau menghambat anak-anak perusahaanku, kau membuat sebagian dari anak buahku kesulitan dan kehilangan pekerjaan. Aku juga bisa melakukannya pada perusahaanmu." jawab Anggara tenang.
"Tapi ini sudah keterlaluan!" Daniel membentak Anggara.
"Aku tidak pernah memulai." Anggara masih tak tersulut emosi.
"Aku akan benar-benar lupa jika kau adalah keponakanku." ucapnya geram.
"Sebaiknya kau tinggalkan saja bisnismu dan pulanglah ke tempat asalmu Paman. Di sini bukanlah tempat yang nyaman untuk laki-laki yang sudah berkepala lima sepertimu."
"Aku memiliki kesenangan di sini, dan kau tidak akan bisa menyingkirkan aku begitu saja!"
"Harusnya kau tidak terlalu berambisi, kita sudah tua dan terlebih lagi dirimu, bahkan aroma tubuhmu sudah seperti tanah liat. Baiknya kau pulang dan benahi diri, siapa tahu jika esok lusa kau sudah tak bernyawa." ucap Anggara masih terlihat santai.
"Kaulah yang akan lebih dulu!" geram Daniel semakin marah.
"Aku tak masalah, lagi pula sepanjang hidupku aku tak pernah menyakiti siapapun. Tidak perlu ditakutkan kematian yang sudah pasti datang."
__ADS_1
"Matilah sekarang!" Daniel mengeluarkan cerutu lumayan panjang.
Anggara tersenyum sinis. "Aku sudah tau kau memilikinya sejak lama, bahkan benda itulah yang membuat aku kehilangan Ibu. Dan kau pikir setelah aku mati kau akan bebas?" Anggara mendekati Daniel.
Tentu Daniel terkejut, ia tidak menyangka jika Anggara mengetahui semuanya. Terlebih lagi senjata rahasia yang dia curi di sebuah perguruan bela diri. Tentu saja itu penyebab Jia dilatih keras di tempat Daniel dulu belajar, tujuannya adalah mengalahkan dan merebut benda yang tak seharusnya dimiliki Daniel.
"Dan usahamu menghalangi bodyguarku kembali ke Indonesia?" Anggara melanjutkan ucapannya.
Daniel bersiap dengan senjata miliknya, tapi seketika Anggara melempar miniatur keramik hingga mengenai bibir Daniel.
"Oaahh!"
Daniel memegang bibirnya yang pecah, pria itu kesakitan dan sudah pasti tidak bisa mengatur nafas untuk meniup benda andalannya.
Anggara menyerang ingin merebut benda yang di pegang Daniel, namun laki-laki tua itu melawan dengan sigap. Sudah tentu dia menguasai bela diri yang cukup hebat.
Beberapa saat hingga membuat ruangan Anggara berantakan, pria itu mundur perlahan menuju pintu keluar.
"Paman, aku tidak takut apapun saat ini. Jadi ku harap kau berpikir ulang untuk menghancurkan aku." Anggara memperingatkan Daniel.
"Kau tidak bisa melindungi semuanya bersamaan Anggara!" Daniel menyeringai kecil sambil menahan sakit di bibirnya yang pecah.
"Aku hanya perlu menghabisimu!" Anggara kembali mendekat tapi Daniel segera keluar dan pergi secepat kilat. Pria itu memang ahli dalam melarikan diri.
"Jangan tinggalkan istriku. Katakan pada Hiko dan yang lain untuk mengawasi Sadewa juga Satria, ajak dia segera pulang."
"Baik." jawab Jia di seberang telepon.
Anggara duduk sejenak mengatur nafas, ia tahu jika ini awal yang tidak baik. Ia harus lebih waspada dengan Daniel, menjaga anak-anak dan istrinya dengan ketat.
"Sebaiknya aku menjemput anak-anak." Anggara meraih kunci mobilnya dan segera pergi.
*
"Saham perusahaanmu menurun Sayang! Dan itu lumayan banyak." David sengaja pulang cepat dan langsung berbicara kepada istrinya.
"Mengapa bisa?" Ayu tampak heran, karena selama ini perusahaannya selalu stabil.
"Entahlah, aku belum sempat bicara dengan Radit." David menyandar lelah.
"Apa karena Radit yang memimpin? Tapi ku rasa Radit mampu dan tidak akan ceroboh." Ayu menyapa David penuh tanya, mendadak ia merasa pening.
"Tidak! Saham Anggara juga sempat turun, tapi karena mereka memiliki banyak perusahaan maka berhasil menstabilkan sendiri saham mereka." David tak ingin Ayu meragukan Radit.
__ADS_1
"Apa masalahnya? Lalu saham siapa yang paling tinggi?" Ayu begitu penasaran.
"Mars Media. Pemimpin mereka adalah Daniel."
Mata sipit Ayu terbuka lebar dengan paksa, ia sungguh tak menyangka. Berarti Radit dalam Maslah jika laki-laki itu sudah bergabung dengan Mars Media.
"Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus bergabung dengan perusahaan Anggara agar saham tetap stabil dan, kita harus melawan." ujung kalimat yang pelan.
"Aku khawatir." David mengungkapkan perasaannya, mata hitam pekatnya menatap Ayu.
"Aku juga." Ayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Merak merasakan kekhawatiran yang sama.
Bunyi telepon rumah memecah keheningan yang baru saja tercipta, mereka berhenti berpikir.
"Halo!"
"Apa Sadewa dan Satria ada di sana?" suara Anggara di seberang telepon.
"Tidak!" Ayu langsung menjawab cepat.
"Di sekolahnya tidak ada, guru mereka mengatakan sudah pulang." Anggara terdengar sangat khawatir.
"Kami akan kesana!" menutup panggilan telepon.
"David, Sadewa dan Satria tidak ada di sekolah!" Ayu meraih kunci mobil dan segera keluar menuju halaman.
"Tunggu!" David yang baru saj pulang ikut berlari menuju mobil.
"Kita harus ke sekolah." Ayu sudah menyalakan mobil dan segera melaju.
"Bagaimana bisa mereka tidak ada di sekolah, bukankah selama ini selalu di jaga?" David merasa kesal dan khawatir.
"Aku tidak tahu!" Ayu melaju lebih cepat, mata sipitnya menatap lurus, ia sedang fokus juga berpikir keras.
Hingga tak berapa lama mereka sudah ada di sekolah Sadewa dan Satria. Tampak di sana beberapa bodyguard Anggara yang sedang menunduk takut.
"Bagaimana?" Ayu dan David bertanya bersamaan.
"Tidak ada, mereka pergi bersama Hiko, dan ponsel Hiko tak bisa dihubungi!" Anggara mengepalkan tangannya, ia berpikir jika mungkin saja Hiko berkhianat, apalagi baru beberapa jam yang lalu ia berkelahi dengan Daniel. Bisa saja pria itu yang membuat Hiko berkhianat dan membawa anak-anaknya.
"Zahira?" tanya Ayu.
"Jangan sampai dia tahu. Aku bisa mati melihat dia menangis!"
__ADS_1