Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
104. Ingin dia tetap hidup


__ADS_3

"Pulanglah Nak, sebentar lagi subuh." ucap Ayu bergetar.


"Tidak Mama, mana mungkin aku bisa pulang sebelum menemukan istriku." terdengar parau suaranya, membuat Ayu ikut menangis.


"Mama dan Papa perlu bicara padamu, pulanglah ke sini." ucap Ayu membujuknya lagi.


"Tapi Mama_." ucapannya terhenti.


Dia sedang tidak baik-baik saja, entah bagaimana Radit mengemudi sejauh ini. Pria itu tidak bisa berpikir dengan jernih melihat wajah Zahira begitu nyata, hatinya terus saja berdenyut nyeri dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, membuatnya menggigil menahan rindu dan pilu bersamaan.


Ia berhenti sejenak, melepaskan sesak juga tangis yang sudah tak mampu ia tahan lagi.


"Zahira, mengapa kau tega melakukannya? Apa kau sedang membalasku? Apa kau sudah benar-benar melupakan aku? Hatiku sungguh sakit melihat kau dipeluk olehnya. Dia menyentuhmu, dia pasti senang sekali dapat memilikimu." tangan kokohnya memukul-mukul lingkaran kemudi dengan air mata jatuh menghangatkan pipinya.


"Zahira!" panggilnya menunduk lemas.


Ponsel pria itu berdering, ia menoleh dengan mata yang mengabur, sejenak ia mengusap mata basahnya dan melihat 'Mama' tertulis di layar ponsel sedang menghubunginya.


"Pulanglah Nak, atau Mama akan menjemputmu?" suara Ayu terdengar khawatir.


"Aku akan ke sana." jawab Radit mencoba menguatkan diri.


"Mama menunggumu." jawab Ayu lalu mengakhiri panggil teleponnya.


Beberapa saat kemudian Radit sudah sampai di kediaman Ayu, berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah besar itu.


"Radit!" Ayu mendekat dan memeluk putranya, jelas terlihat wanita itu sejak tadi menunggu Radit dengan gelisah.


"Aku melihat Zahira, dia sedang bersama Anggara. Dia memeluknya begitu mesra dan sangat jelas terlihat jika Zahira juga menyukainya." ucap Radit dengan wajah sedih.


"Dimana kau melihatnya?" Ayu bertanya dengan tatapan sendu.


"Di Vila puncak B, mereka tinggal di sana sudah dua bulan. Mereka sengaja pergi berbulan madu dan itu membuatku merasa sakit sekali." ucap Radit lagi menjatuhkan tubuh gagahnya di sofa empuk ruang tamu.

__ADS_1


Ayu ingin sekali mengatakan kebenaran, tapi seakan bibirnya terkunci tak bisa membuka, ia bingung harus memulainya dari mana.


"Bagaimana bisa Zahira bersama Anggara? Tapi aku yakin dia benar-benar Zahira." terlihat berpikir dengan memijat keningnya.


"Dia memang Zahira."


David yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menjawab pertanyaan Radit, pria bertubuh besar lebar itu beradu pandang dengan putranya.


"Papa sudah tahu?" Radit berdiri, semakin menatap penuh selidik wajah ayahnya.


"Ya, Papa sudah tahu." jawabnya mengalihkan pandangannya.


"Mengapa Papa tidak memberitahuku? Papa sengaja menyembunyikannya dariku?" Radit menjadi emosi dengan ungkapan David.


"Papa tidak menyembunyikannya, hanya Papa menunggu waktu yang tepat untuk bicara denganmu."


"Papa sengaja, Papa masih marah padaku sebab kecelakaan itu? Jangan lupa aku adalah anakmu!" Radit semakin marah.


"Aku tidak lupa? Aku hanya takut kau tidak bisa mengendalikan sikap egoismu itu, dan kau akan menghancurkan semuanya." David balas meninggikan suaranya.


"Bukan itu maksud Papa, kau tidak mengerti!"


"Aku mengerti Papa, sangat mengerti. Dan yang aku tidak mengerti adalah mengapa Papa tidak mendukungku sama sekali?" bentak Radit.


"Karena dia sudah tidak mengingat dirimu!" David nyaris kehilangan kesabaran berhadapan dengan Radit.


"Itu tidak mungkin!"


"Itu mungkin saja, bahkan tidak mengingatku, juga ibumu." David menjawabnya dengan nafas yang naik turun di dadanya.


Radit menoleh Ayu, mata tajamnya kembali berkaca-kaca. Ia sungguh tak menyangka jika semua orang sudah tahu tapi tidak memberitahu dirinya.


"Mama juga?" ucapnya kecewa.

__ADS_1


Ayu terdiam dengan membuang pandangannya, mata yang menyipit itu kembali basah dengan sesak di dada.


"Kalian semua sudah tahu, hanya aku yang tidak tahu. Hah, aku bodoh sekali." ia tersenyum getir dengan mata masih berembun.


Radit kembali terduduk lemah, ia merasa sangat tidak berguna, ia merasa menjadi anak kecil yang tidak perlu tahu banyak hal dan hidup masih bergantung dengan orang tua. Tidak tahu apa-apa dan terlihat lemah.


"Dia tidak mengingat kita semua." David kembali berbicara, ia duduk di hadapan Radit. Seorang ayah sungguh sangat mengerti betapa hancurnya perasaan anaknya, bahkan dirinya juga sangat bersedih saat tahu Zahira masih ada.


"Anggara membuatnya lupa padaku." ucap Radit pelan.


"Tidak." David tak ingin ada kesalahpahaman.


Radit menatap tajam lagi ayahnya.


"Zahira mengalami kecelakaan dahsyat itu, dia jatuh ke jurang yang dalam hingga membuatnya koma dua bulan sampai akhirnya di temukan Ricky dan Anggara, sempat sadar di rumah sakit besar Jakarta kemudian melakukan operasi di luar negeri bersama Anggara, lalu kembali koma selama satu bulan, dan bangun dengan hanya mengenal Anggara." David menjelaskan apa yang ia dengar dari Ricky.


Seakan terhantam dada Radit ikut merasa bahwa Zahira sangat menderita kala itu, dan malah bukan dia yang menemukan dan mendampinginya. Dan mengapa harus Anggara, mengapa pria itu? Radit mengusap kasar wajahnya, kembali terbayang tangan pria itu menelusup ke dalam kimono Zahira, sungguh rasanya ingin membunuh.


"Dan dia mengambil kesempatan itu." kali ini Radit menangis, ia sungguh berada dalam kesedihan yang paling dalam.


"Kau harus bersabar." Ayu mendekati putranya dan mengusap kepalanya.


"Aku tidak bisa bersabar Mama, aku harus mengambil Zahira kembali. Aku tidak mau Anggara memanfaatkan keadaan dan menikmati tubuh istriku dengan sepuas hati. Aku tidak rela, dia istriku, dia milikku." Radit berdiri ingin pergi meninggalkan rumah Ayu.


"Tidak Radit, kau tidak boleh pergi, dengarkan Mama kali ini saja." Ayu menahan lengan Radit sekuat tenaga. "Dia sedang sakit Nak, dia tidak ingat apapun."


"Dia akan mengingatku jika aku menemuinya, percayalah!" Radit meyakinkan Ayu dengan wajah sendu.


"Tidak Nak, ingatannya tidak boleh di paksa jika tidak dia akan mengalami kesakitan di kepalanya, salah sedikit di kembali koma. Mama sudah mencari tahu semuanya dan itu benar, Anggara tidak berbohong soal Zahira. Saat ini bukan hanya kita yang menyayanginya, tapi dia juga. Jika kau menyayangi Zahira maka Mama minta tunggu setelah dia benar-benar sembuh, setelah itu Mama tidak akan melarang untuk mendekati Zahira. Percayalah Mama juga ingin dia kembali ke rumah ini, tapi tidak bisa untuk sekarang." jelas Ayu dengan lembut.


"Kau ingin dia tetap hidup, atau lebih suka melihatnya benar-benar dimakamkan?" tanya David tegas, ia masih melihat wajah anaknya masih tidak bisa menerima penjelasan Ayu.


Radit menoleh. "Tentu saja aku ingin dia tetap hidup." ucapnya menunduk sedih.

__ADS_1


Radit tetap keluar dari rumah Ayu, ia tak tahu harus kemana juga berbuat apa? Dunia sedang memaksanya untuk mengalah.


__ADS_2