
Mobil berwarna hitam itu melaju lumayan kencang, pria di dalamnya sedang tersenyum-senyum sendiri membayangkan seseorang baru saja dia jumpai. Sekilas melihat kaca depan untuk bercermin, lalu kemudian tersenyum setelah menatap dirinya sendiri.
"Aku benar-benar sedang jatuh cinta." gumamnya sendiri, terus melaju menuju sebuah kompleks perumahan.
Setengah perjalanan sudah di lewati. Ponsel yang yang tergeletak itu tiba-tiba berdering.
"Halo!"
"Aku sudah mengirimkan alamat yang baru." ucap seorang pria di seberang sana.
Reza segera mengakhiri panggilan dan melihat isi pesan yang membuat menyala layar ponselnya.
Sejenak mobil yang ia kendarai menepi, lalu sedikit berputar arah.
Sementara di kediaman Merry, rumah dua lantai itu tampak tenang apalagi dia sedang tidak sendiri. Ada Radit menemaninya di malam ini.
"Mau makan apa? Aku akan pesan makanan untuk kita berdua." Merry mendekati Radit yang sedang duduk menyandar di sofa ruang tamu.
"Apa saja." Radit tak merubah posisi duduknya, membiarkan wanita berambut ikal bergelombang itu mendekat dan menempel.
"Malam ini tidur di sini saja, aku tidak suka sendiri." rengeknya kepada Radit.
"Lihat nanti, atau setelah kau tertidur aku akan pulang." jawab Radit menoleh sedikit.
"Tidak, aku ingin tidur di peluk olehmu." rengeknya lagi semakin mendekat.
"Aku tidak enak dengan ayahmu. Saat ini dia membenciku walaupun aku tidak tahu pasti apa sebabnya." Radit sedikit membalas pelukannya.
"Papa hanya belum mengerti keadaan yang sebenarnya. Yang jelas aku akan tetap bersamamu apapun yang terjadi." ungkap Merry bersungguh-sungguh.
"Aku tidak bisa menikahi mu jika dia tetap tidak setuju." ucap Radit sedikit cemas.
Merry mendongak wajah Radit, wajahnya tampak berpikir. "Aku harus bagaimana? Apakah kita menikah di luar negeri saja?" tanya Merry memberi usul.
"Mana bisa seperti itu, kau sendiri masih tahanan kota selama penembakan Anggara belum di temukan." ungkap Radit tak di sengaja.
"Kau tahu semuanya?" Merry melepaskan pelukannya dari tubuh Radit, ia mencari sesuatu yang sulit di wajah pria tampan itu.
"Aku mendengarnya dari Papa, aku tidak tahu jelasnya seperti apa." jawab Radit berusaha setenang mungkin.
__ADS_1
"Zahira menuduhku!" ucapnya dengan wajah terlihat kejam.
"Entahlah, saat itu aku juga ada di sana, tapi aku tak melihat siapapun kecuali anak buah Daniel. Jujur saja aku bingung dengan pernyataan Zahira, bahkan sekarang dia memusuhiku." Radit menyandar dan tampak berpikir keras.
"Kau masih berharap bisa berbaikan dengannya?" tanya Merry kali ini terlihat sedih.
"Berbaikan bagaimana, melihatku saja dia tidak mau! Kemarin saat masuk rumah sakit aku datang, dia malah mengusirku." Radit memperlihatkan wajah kesal.
"Aku tidak mau kau dekat denganku tapi nantinya kau malah kembali padanya." Merry menunduk, jika sudah menyangkut perasaannya dengan Radit, Merry lebih sensitif.
"Tidak!" Radit meraih bahu Merry. "Jika aku menginginkan dia sudah pasti sekarang aku di rumahnya, berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan dirinya. Tapi pada kenyataannya aku di sini." Radit meyakinkan Merry.
"Sepertinya makanan sudah datang." Mery pergi ke depan membuka pintu.
Sementara Reza sudah siap di depan rumah Merry dengan penampilan dan aroma wangi khas konglomerat sahabatnya.
"Tidak ada siapa-siapa? perasaan tadi ada yang memencet bel." berbicara sendiri, menoleh ke kiri kanan namun tak ada siapapun.
"Ada apa?" Radit ikut keluar.
"Tidak ada siapa-siapa!" ucap Merry sedikit meninggikan suaranya.
"Aku ikut!" Merry mendekati Radit.
"Aku akan membeli makanan di dekat sini, kau tidak perlu ikut, aku tidak akan lama." Radit memintanya menunggu.
"Baiklah, aku akan menunggu di dalam." Merry melihat sekeliling dan segera masuk mengunci pintu. Kejadian melihat hantu Anggara membuatnya selalu waspada.
Merasa aman, tentu saja di dalam rumah akan sangat aman. Merry menyalakan Televisi dan duduk menyandar di sofa ruang keluarga.
Sepuluh menit berlalu, Radit belum juga kembali. Merry mulai tidak tenang walaupun ia tahu membeli makanan tentu memakan waktu apalagi jika ingin yang hangat.
Suara bel rumah itu kembali berbunyi.
"Radit!" Merry beranjak dari duduknya, rasanya kurang cepat kaki melangkah untuk membuka pintu.
Cklek
Merry kembali melihat ke kiri dan ke kanan, tak ada siapa-siapa. "Radit!" panggilnya.
__ADS_1
Sepi, tak ada siapapun sehingga Merry segera menutup pintu. "Ini sudah kedua kalinya Bel rumah berbunyi tapi tak ada siapapun. Jangan-jangan?" wajah cantiknya mendadak tegang.
Mata bulatnya menatap cemas, niat hati ingin mengunci semua jendela dan pintu. Tapi tak di duga sosok yang ia takutkan sudah berdiri di sudut ruangan.
"Aaakkhh, Papa!" teriaknya dengan jantung seakan ingin melompat. Sejenak dia mencoba berpikir jernih. 'Hanya halusinasi, ya, halusinasi!'
Tapi tak lebih mengejutkan lagi sosok Anggara itu malah mengangkat senjata dan membidik Merry, meski tertutup kaca mata hitam tapi bibirnya sangat jelas terlihat, pucat sekali, tak ada gambaran kehidupan di tubuh tegap Anggara.
"Pergi!" teriak Merry mulai menangis, kakinya lemas tak punya kekuatan untuk berdiri. Tapi semakin Merry menyuruh pergi, sosok itu semakin mendekat, pelan sekali namun pergerakannya benar-benar tidak menimbulkan suara. Detik berikutnya ruangan besar itu mendadak berputar, gelap. Dan,
"Dia pingsan lagi!" gumam Reza menyimpan kembali senjata mainannya.
Radit masuk dengan membawa kotak makanan. Pria itu mengangkat tubuh Merry menuju kamarnya.
Sementara Reza mulai menggeledah isi rumah untuk menemukan senjata Daniel yang hilang.
"Tidak perlu menggeledah semuanya, aku sedang mencurigai brangkas yang di maksud Merry, tapi aku tidak tahu dia menyimpannya dimana?" ucap Radit setelah menutup pintu kamar Merry.
"Brangkas jelas di simpan di kamarnya, atau dikamar Anwar!" jawab Reza yakin.
"Kamar Anwar di kunci, aku tidak tahu kuncinya dimana?" jawab Radit lagi.
"Apalagi aku, bukankah kau lebih tahu?" Reza menatap kesal pada Raditya.
"Maksudmu apa, hah? Kau pikir aku tidak tahu tadi siang kau pergi jalan-jalan dengan Zahira sementara aku harus terjebak di sini!" kesal Radit.
"Salahmu sendiri memiliki mantan istri seperti itu, melihatnya saja aku tidak sudi!" Reza mengejek setelah menunjuk kamar Merry.
"Harusnya kita bertukar posisi!" Radit mengikuti Reza menuju kamar Anwar.
"Zahira sudah memilih, jadi jangan membuatnya mengamuk lagi." Reza merasa menang.
"Cepat buka!" Radit sungguh kesal, tapi tak punya pilihan selain harus tetap bersama.
"Memakai kode!" Reza tampak pasrah melihat kamar Anwar memakai kode untuk membukanya.
"Tanggal lahir Merry!" Radit maju dan mencoba menekan tombolnya.
"Gagal!" Reza tampak berpikir. "Tanggal pernikahan dengan istrinya? Atau tanggal lahir istrinya?" tanya Reza lagi.
__ADS_1
"Dia benci istrinya, jadi tidak mungkin!" Radit kembali berpikir.