
Entah mengapa, jantung Zahira sedikit berdegup kencang sore ini, selepas Maghrib dia segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Hotel Anggara Utama, perayaan yang besar, juga rencana besar, penyerangan yang sudah matang terencana, membuat wanita muda dan cantik itu merasa gugup. Duduk di depan cermin hias yang besar, menatap wajahnya yang sudah ber-make up sempurna, gaun panjang yang mewah tampak pas menempel di tubuh indahnya, kerudungnya juga terlihat rapi sekali, cantik tak kurang satu apapun.
Tapi
Pertama kali Zahira merasakan bahwa menjadi seorang pemimpin yang menguasai semua harta yang tak sedikit jumlahnya, menjadi atasan dari semua orang yang bekerja dengannya, menjadi orang terhormat dari sekian banyak orang-orang hebat pilihan suaminya. Mendadak hatinya menjadi berdenyut gugup.
Tak punya pilihan, harus bisa, pasti bisa!
Sebuah foto terpajang rapi menghias di meja rias itu, Anggara, Sadewa, Satria, dan dirinya. Keluarga yang bahagia, yang keutuhannya telah di rampas seseorang, dan sudah pasti cepat atau lambat dia harus membayarnya.
"Aku akan berusaha sekuat mungkin, aku akan berusaha sebisa mungkin menggantikan dirimu Mas, hingga suatu saat putra-putramu besar dan menjadi orang hebat seperti dirimu. Itu pasti terjadi." Zahira mengelus wajah Anggara, mengecupnya sejenak dengan hati kembali teriris pedih, mengingat betapa Anggara selalu memanjakan dirinya, terlebih lagi saat perayaan-perayaan seperti ini. Anggara akan menggandengnya, memeluknya, tak pernah membiarkan Zahira jauh walau sebentar saja.
Tok
Tok
Tok
"Iya!" Zahira segera menghapus air matanya, sedikit merapikan make up dan menghembuskan nafas.
"Apa sudah siap Nyonya?" suara Jia di belakang pintu kamarnya.
Zahira segera beranjak, meraih tas hadiah dari Anggara. Ya, dia sangat menyukai apapun yang diberikan Anggara.
"Apa anak-anak sudah di kamarnya?" tanya Zahira setelah menutup pintu kamar.
"Sudah Nyonya, sedang bermain bersama suster, Hiko menjaga mereka." jawab Jia mengikut di belakang menuruni anak tangga.
"Baguslah, mereka perlu di jaga." ucap Zahira lagi.
"Tuan Reza sudah menunggu di bawah." Jia memberi tahukan.
"Apa sudah lama?" Zahira menoleh Jia.
__ADS_1
"Belum." Jia hanya menjawab singkat, lebih fokus pada langkah kaki Nyonya besarnya yang sedang memakai hak lumayan tinggi.
"Hai Sayang!" suara Reza menyapa, laki-laki yang gemar menggoda namun selalu menghibur.
"Aku tidak mau membuat masalah dengan banyak wanita di sana nanti." Zahira menggeleng dengan tingkah Reza.
"Tentu tidak, aku tidak pernah memanggil mereka Sayang." ucapnya masih berdiri menghadap Zahira yang cantik.
"Itu sebabnya, jaga sikap agar mereka tidak cemburu. Aku tidak mau menjadi sasaran mereka nanti." Zahira berjalan bersama Jia menuju pintu keluar rumah besar itu.
"Malah aku menyukainya." Reza tak mau kalah.
Zahira tak ambil pusing, terserah saja apa katanya. Lama-lama dia terbiasa dengan melakukan konyol pria itu.
"Naik mobilku saja, kalian berdua pergi bersamaku, biarkan mereka berjaga di rumah, mana tahu di perlukan." Reza menunjuk Dua orang bodyguard Zahira.
"Kalau begitu pak Teddy saja, bawa mobil mengiringi kami, mungkin di butuhkan nanti." Zahira menunjuk sopirnya yang biasa bersamanya.
"Baik Nyonya." sopir itu mengangguk patuh, pak Teddy adalah salah satu bodyguard sekaligus sopir yang selalu mengerti Zahira. Selain rasa hormat, laki-laki berusia hampir Empat puluh tahun itu menjaga selayaknya keluarga yang harus di lindungi. Bodyguard kepercayaan Bibi Lastri, wanita yang menjadi pengasuh Anggara.
"Salah satunya dirimu!" puji Zahira, senyumnya sedikit, tapi pesonanya membuat penyakit, hati Reza bergetar melihatnya.
"Aku hanya orang yang kebetulan bersamamu, sedangkan mereka selalu bersamamu." Reza tak ingin dipuji.
"Mereka semua adalah pilihan suamiku, Jia, Hiko, Bibi Lastri, Om Ricky dan banyak lagi. Aku sudah terlanjur nyaman berada diantara mereka, dan tidak bisa membayangkan jika suatu saat kehilangan salah satunya. Berpisah mungkin, atau mereka bosan dan berhenti?" Zahira menggeleng.
"Itu pasti terjadi, tapi tidak sekarang." Reza tersenyum, menoleh sejenak menyaksikan indahnya ciptaan Tuhan.
"Setiap pertemuan akan mengalami perpisahan, begitulah kehidupan selalu berjalan. Terkadang aku benci harus berpisah, walau ada sesekali perpisahan itu harus disyukuri. Tapi bagiku semuanya sama, baik yang di inginkan atau yang tidak di inginkan, namanya berpisah pasti meninggalkan duka." Zahira berkata seakan sedang mengeluarkan semua isi hatinya.
"Semua orang mengalaminya Zahira, hanya ada beberapa orang pilihan yang memang lebih banyak menderita, tapi berhadiah bahagia pada akhirnya."
"Aku berharap begitu." Zahira menyandar, mungkin yang dimaksud orang yang lebih banyak menderita itu adalah dirinya. Ya, menderita ketika rindu dengan orang yang sudah tiada.
__ADS_1
"Kalian berdua jangan menjauh dariku." Reza melirik Jia, wanita kurus dan dingin itu hanya melirik sekilas, dia tahu Reza sedang mengawasi dirinya.
"Aku harap semuanya berjalan lancar." Zahira menyahut.
"Semoga saja, Aku dan Radit sudah berhasil mengalihkan CCTV di rumah Anwar. Dan hanya ada satu tempat yang memang tak ada CCTV di dalamnya, yaitu kamar Anwar. Kami curiga jika Merry menyimpan barang bukti di sana." Reza menjelaskan.
"Kita semua harus tetap waspada, anak buah Daniel bukan orang yang sembarangan, mereka juga tak segan memakai senjata." jelas Zahira yang belakangan mengetahui banyak hal.
"Aku tahu." Reza kembali melirik Jia.
"Iya!" bentak Jia kepada bos besar rekan Anggara itu.
Zahira menoleh heran, ada apa diantara mereka, sampai bodyguard andalannya berteriak kesal.
"Kau mengganggunya?" Zahira bertanya kepada Reza.
"Tidak!" Reza tak memberitahukan apapun.
"Dia menyebalkan." tunjuk Jia menatap jengah pada teman baru Zahira itu.
"Kita sudah sampai." mobil mereka berhenti, Reza sengaja masih duduk membiarkan Jia turun lebih dulu.
"Yakin akan bersamaku? Apakah tidak takut Media membuat berita heboh besok pagi?" tanya Zahira menoleh Reza sejenak.
Reza tersenyum, mengambil sesuatu di belakang tempat ia duduk.
"Ini." menyerahkan buket bunga begitu indah, mawar yang begitu banyak dan wangi.
"Kau benar-benar memberiku bunga?" Zahira mengambilnya, menatap banyak bunga segar yang selalu diberikan Anggara, bahkan taman bunga di rumahnya selalu terawat hingga saat ini, sengaja dibuat Anggara untuk dirinya.
"Suamimu sering mengatakan jika kau sangat menyukainya. Anggaplah itu darinya." Reza keluar lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Zahira.
"Terimakasih." ucap Zahira mewakili semuanya, atas bunganya, juga kebaikannya.
__ADS_1
Aula besar itu sudah sangat ramai, teringat kala itu saat Zahira masih menikah dengan Radit, Anggara memberikan sebuah kamar untuk mereka menginap. 'Hadiah kecil-kecilan'. Begitu ucap Anggara.
Sementara Zahira mengingat masa-masa dulu, Jia sibuk menatap wajah para undangan satu persatu. Anwar! begitu hatinya berkata, sasaran Jia malam ini adalah pria tua yang mahir bernegosiasi itu, licik!