
Lihat saja nanti, aku akan benar-benar menghabisimu!" teriakannya semakin keras, mengundang perhatian semua orang yang belum beranjak pulang.
"Sebelum kau melakukannya kau sudah lebih dulu di penjara. Ingat aku tidak bodoh, semua ucapanmu sudah tersimpan di dalam ponselku. Tinggal menunggu waktu Merry Sandra, sekarang nikmatilah semua penderitaan yang di hadiahkan Allah untukmu, lalu setelahnya hadiah dariku." Zahira tersenyum sambil berbalik dari tempatnya berdiri. Meninggalkan Merry yang sangat terkejut, dapat di pastikan setelah ini dia akan sangat ketakutan.
"Zahira!" panggilnya namun tak didengar oleh Zahira.
"Hiruplah udara bebas sebanyak-banyaknya, sebelum kau masuk ke dalam sel yang dingin. Dapat ku pastikan kau tak akan pernah keluar lagi." bisik Jia semakin membuat Merry geram.
"Tidak!" ucapnya pelan, benar-benar takut kali ini. Hidup sendiri tanpa Anwar, lalu harus berhadapan dengan hukum. Terpikirkan untuk berlari tapi akan kemana, untuk berdiri saja dia tidak bisa.
"Papa!" Merry melanjutkan tangisnya. Diantara kebingungan dan rasa kehilangan yang baru saja, dia berusaha mencari jalan keluar tapi itu semakin jelas tak ada.
"Aku bisa gila, aku tidak bisa tanpamu Papa!" kembali menangis meraung-raung hingga hanya tinggal dirinya dan seorang sopir saja.
"Sebaiknya kita pulang Nona!" Sopir itu juga sudah lelah berdiri menunggui Merry yang enggan beranjak dari makam ayahnya.
"Aku tidak mau." tangisnya.
"Anda harus istirahat, cuaca sangat panas sekali." ucap Sopir itu lagi.
"Pergi! Aku tidak mau pulang, aku ingin tetap bersama Papa." tolaknya membuat sopir itu memijat kepala.
"Istirahat dan setelah itu Anda bisa memikirkan jalan keluar dari masalah ini." bujuk sopirnya lagi.
Merry menghentikan tangisnya sejenak berpikir jika apa yang di ucapkan sopirnya itu ada benarnya.
"Mari Nona!" Sopir itu membantu Merry naik ke kursi roda.
__ADS_1
Tak punya pilihan selain menurut, karena sudah tak ada lagi yang peduli padanya selain hanya sopir miskin yang baru satu bulan bekerja dengan dirinya.
Sementara di tempat lain Zahira baru saja keluar dari ruang pemeriksaan guna memberi keterangan dan menyerahkan bukti rekaman saat bertengkar dengan Merry di toilet Hotel Anggara. Zahira duduk di ruang tunggu, lemas dan kembali teringat saat hari dimana Anggara meninggal, lalu harus memberi laporan setelahnya. Tapi kemudian sia-sia karena tak ada bukti yang mengarah kepada Merry Sandra. Hanya Zahira saja yang melihat dan itu dinyatakan tidak cukup kuat. Masih teringat jelas saat itu Merry keluar dari ruangan pemeriksaan dengan senyum menang, hatinya teriris. Di saat dia harus menanggung beban kesedihan, Merry malah tertawa. Tapi tidak kali ini, Zahira berharap keadaan akan berubah.
"Tuhan tidak pernah tidur, Dia melihat apa yang benar dan salah." lirihnya mengusap air mata.
"Kau baik-baik saja?" Reza Reza yang juga baru keluar langsung mendekati Zahira, duduk rendah mensejajarkan diri pada wanita yang kini lemas di kursi sambil menangis.
"Ya, aku tidak apa-apa." jawabnya pelan. Jari-jari lentiknya basah sehabis menguap air mata. Reza meraih dan menggenggamnya.
"Semua akan berakhir, perlahan tapi pasti Allah akan membalas semua perbuatan manusia. Kita hanya perlu bersabar." ucap Reza lembut sekali.
"Ku kira, setelah melihat wanita itu menderita maka lukaku akan sembuh. Tapi ternyata rasanya kembali seperti baru terjadi, dan sakitnya terulang lagi." ucap Zahira dengan sesenggukan.
"Setelah sabar kau juga harus ikhlas, dan itu yang paling sulit, aku yakin kau pasti bisa." Reza masih tak melepas jarinya.
"Aku tidak bisa." tangisnya lagi. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku melahirkan anakku nanti tanpa Mas Anggara. Hanya dia yang selalu menguatkan aku."
Zahira menggeleng, hanya air mata jatuh begitu banyak.
"Aku akan mendampingi mu, selalu sampai kau melahirkan anak ini." ucap Reza sangat yakin.
"Kau tidak akan mengerti." ucap Zahira mengusap air matanya lagi.
"Aku mengerti." Reza menatap wajah Zahira berharap bening mata mereka bertemu. "Aku bahkan sangat ingin menjadi ayah dari anak-anakmu."
Wajah sembab itu terangkat, mencoba menatap laki-laki yang selalu merayunya.
__ADS_1
"Aku serius. Aku tidak sedang bercanda atau hanya menggodamu Zahira. Aku benar-benar ingin menjadi bagian dari hidupmu, walaupun aku tahu kau masih sangat mencintai sahabatku, Anggara."
"Kau jangan main-main dengan ucapan mu, baiknya kau menjauh dan menikah dengan kekasihmu. Aku sedang malas di ajak bergurau." Zahira sedikit kesal.
"Aku tidak bergurau, aku benar-benar serius. Aku sudah menyukai mu saat hari kau menikah dengan Anggara, saat itu ingin sekali aku membawamu lari dari rumah itu. Tapi apalah daya aku bahkan tidak tahu namamu selain setelah ijab qobul yang Anggara ucapkan. Demi Tuhan aku tidak sedang bermain-main." Reza semakin meyakinkan Zahira.
"Aku hanya mencintai Mas Anggara saja." jawab Zahira.
"Aku tahu, karena rasa cintamu yang begitu besar pula membuat aku yakin kau adalah wanita yang sangat baik. Aku bersedia menjadi teman seumur hidupmu, aku hanya butuh kau menerima walaupun cintamu tidak sepenuhnya."
Zahira menarik tangannya dari genggaman Reza, dia menyadari jika kata-kata yang di ucapkan Reza terlalu cepat dan terlalu mengganggu untuk saat ini.
"Maaf, aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Sungguh aku ingin sekali menjadi orang yang bisa membuatmu nyaman." Reza menarik nafas dan menghembuskan.
"Nyonya, sebaiknya kita pulang." Jia baru saja kembali dari toilet langsung mengajak majikannya pergi.
"Iya." beranjak dari duduknya diikuti Reza Mahendra.
Di dalam mobil hitam itu, tak ada suara setelah percakapan singkat anta Reza dan Zahira di kantor polisi beberapa menit yang lalu. Hingga melewati sebuah pusat perbelanjaan mobil mereka melambat.
"Nyonya, aku akan membeli buah untukmu, rasanya persediaan di rumah sudah berkurang." Jia memarkirkan mobil mereka, sengaja turun lebih dulu karena biasanya Zahira akan mengikut.
Benar saja Zahira membuka pintu, namun Reza tak kalah gesit, membukakan pintu dan memperlakukannya dengan sangat istimewa.
"Mau membeli sesuatu?" tanya Reza mendapatkan celah untuk kembali mengobrol.
Zahira mengangguk, sedikit melihat wajah tampan itu sedang tersenyum padanya. Lagi-lagi senyum dan bulu-bulu pendek di wajah pria itu membuatnya rindu sekali dengan Anggara.
__ADS_1
"Mengapa kau tidak membersihkan wajahmu? Kau sudah tidak perlu menjadi hantu." ucap Zahira membuang pandangannya, menuju tempat banyak buah-buahan.
Reza memegang wajahnya, kemudian tersenyum senang. "Kau menyukainya?" Reza mendekatkan wajahnya di telinga Zahira yang tampak sibuk memilah buah.