Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
169. Negosiasi licik


__ADS_3

Cup


Dengan sedikit menggigit Anggara melepaskan ciumannya di bibir merah Zahira, mata cokelatnya berbinar bahagia penuh cinta.


"Apa tidak bosan melakukannya setiap waktu, bahkan kau semakin menggila semenjak Sadewa dan Satria tinggal di rumah Mama." tanya Zahira memeluk mesra tubuh Anggara.


"Kau cantik sekali, tidak ada kata bosan jika melihat dirimu, yang ada aku kelelahan menikmati indahnya bercinta denganmu."


Zahira tertawa mendengar ucapan manis suaminya, bahagia dan nyaman, begitulah hari-hari berlalu indah.


Ponsel Anggara berbunyi, notifikasi pesan terdengar memancing untuk meraih ponselnya.


"Siapa?" Zahira ingin tahu.


"Jia, dia pergi ke rumah Papamu melihat Sadewa dan Satria." meletakkan kembali ponselnya.


"Semenjak pulang dia sering berpakaian tertutup jika keluar? Bahkan berdandan." Zahira tampak berpikir.


"Biarkan saja, mungkin dia sedang menyukai gaya barunya." Anggara memeluk Zahira lagi.


"Tidak, setelah sudah pulang dia malah membuang pakaiannya. Jika dilihat dari caranya dia seperti sedang menyamar." Zahira terlihat khawatir.


"Sebenarnya memang begitu, kemarin dia hampir tak bisa pulang. Beberapa orang menghalangi dan memburunya ketika sudah akan pulang, bahkan di Jepang dia memiliki saingan. Dan di sini dia merasa ada yang juga ingin mencarinya." jelas Anggara.


"Apa ada hubungannya dengan Om Daniel?" tanya Zahira khawatir.


"Bisa jadi, sebab Jia belajar di sebuah perguruan bela diri terkenal, dan kegigihannya membuat pemiliknya menyukai dan mempercayai Jia. Dan ku rasa Paman Daniel mengetahui semuanya, dan merasa Jia adalah ancaman."


"Jia dalam bahaya?"


"Tidak, justru Paman Daniel yang sedang terancam. Ingatlah untuk tidak berdekatan dengan Pamanku jika kebetulan bertemu dengannya, selain mata keranjang dia juga memiliki senjata yang berbahaya, tapi hanya bisa digunakan jarak dekat. Berbeda dengan Jia, Jia berhasil menguasai senjata yang sama dengan lebih baik, bisa menggunakannya dari jarak yang lumayan jauh." ucap Anggara lega.


"Aku jadi penasaran seperti apa senjata yang mereka gunakan, apa seperti pistol?" mata indahnya membulat dan indah, pertanyaan itu membuat Anggara gemas.


"Entahlah, tapi sepertinya tidak. Mereka mengandalkan tenaga alami, karena itu adalah ilmu bela diri kuno di jaman samurai."


"Sepertinya seru belajar bela diri, bisa mengalahkan penjahat, memukulnya hingga babak belur." wajah cantik itu sedang berkhayal.


"Kau akan tetap kalah jika berhadapan denganku." Goda Anggara dengan mengecup ujung hidung mancungnya.

__ADS_1


"Jika aku bisa bela diri-"


"Bagiamana bisa membela dirimu, kau bahkan lupa segalanya jika sudah berada di bawahku." Anggara semakin mengerjainya.


"Aku bisa membalikkan keadaan, kau akan kalah!" Serunya tak ingin kalah.


"Baiklah, aku akan membiarkanmu membalikkan keadaan, sekarang kaulah yang berkuasa. Aku pastikan itu tidak akan lama."


"Masss...!" Zahira menjerit manja, tak mampu menjawab lagi, tawa bahagia selalu menghiasi waktu-waktu yang terasa cepat berlalu.


"Mandilah Sayang, kita akan jalan-jalan. Aku baru saja membeli sepeda motor, kita akan berkeliling kota di sore ini."


"Mengapa naik motor?" seperti biasa pertanyaan yang keluar dari mulut mungil itu tak akan hanya sekali.


"Aku ingin menikmati udara bebas. Bersama istriku yang cantik, berkeliling dengan di peluk mesra, aku sedang membayangkan itu."


"Baiklah, kita akan berpacaran hari ini."


"Itu menyenangkan sekali."


*


"Ku harap kau bersabar." ucap pria Lima puluhan itu.


"Aku sudah tidak tahan lagi berada di sini, aku ingin keluar dan menikmati udara bebas di luar sana. Aku ingin tidur di ranjang yang empuk dan hangat, aku sudah lelah menyumbangkan darahku pada nyamuk-nyamuk yang tidak tahu berterimakasih, bahkan mereka hanya bisa berdenging mengganggu." ucapnya memelas.


"Aku bisa saja membebaskanmu dalam waktu dekat, tapi aku meminta imbalan darimu."


"Apa?" jawabnya cepat.


"Beri aku anak!"


"Mengapa harus anak? Bukankah kau sudah memiliki banyak wanita, bahkan ada ratusan yang sudah kau tiduri." ucap Merry dengan berani.


"Aku sudah pernah memiliki anak dari beberapa orang wanita, tapi semuanya perempuan. Aku ingin mencoba denganmu, mana tahu menghasilkan laki-laki." jawabnya enteng.


"Nikahi aku, maka akan ku berikan sebanyak yang kau mau." Merry mencoba bernegosiasi.


"Aku malas terikat pernikahan. Jika kau mau maka kau bebas, jika tidak kau di sini saja." pria itu tak mudah di bujuk.

__ADS_1


"Kau pikir mengandung seorang anak itu mudah? Itu benar-benar berat dan lama!" Merry menatap tak suka.


"Aku pernah melihatmu sedang mengandung saat itu, aku menyukainya." pria itu berbisik, wajah mesumnya membuat Merry bergidik ngeri.


"Tidak mau." Merry semakin jual mahal, padahal ia ingin segera bebas.


"Baiklah, aku akan menikahimu. Tapi jika anakmu perempuan aku akan membuangmu setalah melahirkan." pria itu memperlihatkan seringai kejam.


"Aku ingin mengalahkan mereka secepatnya." Merry membalasnya dengan tatapan tak kalah kejam.


"Setuju."


Tentu Daniel hanya bersenang-senang, bukan sedang menurut apa yang Merry inginkan. Anak dari rekan bisnisnya itu cukup licik dan cerdik, tapi laki-laki seperti Daniel tentu lebih licik dan tidak akan terpengaruh dengan wanita seperti dirinya. Lagi pula laki-laki kejam seperti Daniel tak mengenal rasa kasihan apalagi cinta.


Sore hari di rumah David, semenjak Satria dan Sadewa tinggal di rumah itu, Jia juga sering datang untuk bertemu dan bermain di rumah David. Wanita kurus itu kini tampil berbeda, lebih sering memakai gaun panjang dan masker, bahkan terkadang kerudung dan cadar jika sedang keluar.


"Bibi, aku tidak suka bermain suling." Satria sedang protes karena akhir-akhir ini Jia memberinya mainan jaman dahulu.


"Ini akan menarik jika kau bisa memainkannya." Jia masih merayu.


"Tapi ini tidak keren." Satria protes dengan wajah imut sangat menggemaskan.


"Biar aku saja Bibi." Sadewa meraih seruling di tangan Jia dan mulai memainkannya. "Mengapa suaranya tak berirama?" tanya Sadewa setelah meniupnya.


"Harus di tutup pelan dan memakai perasaan, jika tidak kau akan mendengar suara yang datar." ucap Jia membenarkan posisi tangan sadewa.


"Aku bisa melakukannya dengan mudah." ungkap Satria tak mau kalah dari Sadewa.


"Tapi kau malas. Bukankah untuk menjadi hebat kita tidak boleh malas?" Sadewa


menasehati saudara kembarnya.


"Benar!" Jia ikut memprovokasinya.


"Sini!" Satria meraihnya dan meniupnya, tak di duga dia benar-benar bisa meniupnya. Bahkan wajah tampan itu terlihat santai ketika meniup dan memainkan jari-jari kecil miliknya.


Jia menatap kagum, membuka lebar mata yang belakang ini selalu ia ukir dengan eyeliner.


"Apa aku hebat?" tanya Satria dengan membusungkan dadanya.

__ADS_1


"Kau hebat!" Jia memeluk anak kecil itu dengan gemas. "Sekarang kau bermain dengan ini!" Jia memberikan sebuah benda lebih kecil dari seruling.


__ADS_2