Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
167. Bertemu Radit


__ADS_3

"Aku?" tanya Radit masih tak berkedip menatap anak laki-laki yang rambutnya lurus dan sedikit panjang ala K-Pop. 'Mengapa gayanya mirip sekali dengan aku saat masih kecil? Apa Zahira sedang membayangkan aku saat membuatnya?' Sebagian bibirnya tertarik sedikit.


"Ku rasa kau sering membayangkan hal-hal aneh!" ucap Satria lagi saat melihat sudut bibir Raditya tertarik membentuk senyum rahasia.


"Kau tahu darimana, heh? Bahkan kau baru saja bisa berlari. Belum lama ini kau masih bayi!" Radit menjawab tebakkan Satria dengan nada menang.


"Hey Paman, aku sudah besar! Aku juga dapat dengan mudah mengerti semua hal termasuk apa yang sedang kau pikirkan." dia tak mau kalah, membuat Radit semakin tertarik.


"Memangnya apa yang sedang aku pikirkan?" tantangnya.


"Kau ingin bertemu siapa?" dia balik bertanya, tentu saja Radit semakin gemas melihat bocah itu.


"Bertemu denganmu." jawab Radit tersenyum senang. Hatinya berkata lain jika ia ingin bertemu Zahira. Ya! hanya ingin melihat wajahnya seperti apa saat ini.


"Aku tidak percaya." Satria membuang muka dan berbalik dengan gaya sombongnya, sedangkan Sadewa menatap Radit sedikit lama, entah apa yang ia pikirkan namun tak berbicara, lalu mengikuti Satria masuk ke dalam rumah mereka mendahului semua orang.


"Mereka memang seperti itu, tidak mudah menerima kehadiran orang baru, dan akan menginterogasi dengan detail jika ingin berteman." jelas Ayu, ia melihat jika Radit masih belum bisa mendekati mereka.


"Aku menyukainya." masih menatap Dua anak laki-laki itu masuk ke ruang tamu.


"Assalamu'alaikum." David mengucap salam dengan sedikit bercanda.


"Waalaikum salam, maaf tidak menyambut kedatanganmu." Anggara mempersilahkan mereka duduk.


Radit duduk terakhir dengan melihat sekeliling ruangan rumah itu, cukup nyaman.


"Ayah, apakah Nenek dan Kakek akan menginap disini?" tanya Sadewa memeluk Anggara dan memegang wajahnya ingin segera mendapat jawaban.


"Jika Nenek dan Kakek bersedia?" Anggara melirik David.


"Kakek apakah kau bersedia?" Satria sudah memeluk David, sepertinya mereka sedang mengatur strategi untuk merayu David.


"Ya, kita akan tidur bersama." jawab David tak ingin mengecewakan mereka.

__ADS_1


"Dimana Zahira?" kali ini Ayu angkat bicara, ia belum melihat putrinya semenjak datang. Apalagi Radit, dia hanya diam tapi hatinya sudah tak sabar melihat Zahira setelah Lima tahun tidak bertemu.


"Dia ada di dalam." menunjuk kamarnya. "Sayang!" setengah berteriak, mengarahkan wajahnya ke pintu kamar yang tak jauh dari ia duduk.


Tak lama kemudian terdengar pintu kamar itu terbuka. Zahira keluar dengan pakaian sederhana, namun terlihat cantik dan pas dengan wajah yang selalu berseri. Dia masih cantik sekali seperti saat masih belum menikah, tubuhnya ramping dan lembut, tangannya kecil dan lentik, wajahnya halus dan lembab dengan bibir merah selalu membuatnya sempurna.


Deg


'Dia masih sangat cantik sekali, sama seperti saat aku masih sering menggendongnya ketika ia tidur di sofa.' Radit melirik dengan mata sipitnya, namun segera tak melihat ketika Anggara melirik dirinya. 'Pria Tua itu masih saja waspada.' gumamnya dalam hati.


"Radit!" panggilnya pelan, ia terkejut setelah Lima tahun lalu meninggalkan tanpa berpamitan, dan sekarang sudah kembali dengan wajah dan penampilan yang masih sangat tampan.


"Ya, aku baru saja kembali, aku datang ingin bertemu anak-anak." ucapnya cepat, tak ingin ada salah paham. Tentu saja senyum itu hanyalah palsu yang sengaja diperlihatkan.


"Maaf, mungkin mereka sangat nakal." Zahira duduk di samping Anggara.


"Aku menyukainya." Radit menatap Dua anak laki-laki itu bergantian, mereka tampan dengan ciri khas masing-masing.


"Apa sudah berkenalan dengan Pamanmu?" Anggara menanyai Sadewa yang masih erat memeluk dirinya.


"Kalau begitu perkenalkan dirimu, dia Paman Raditya." Anggara menunjuk Radit yang hanya memandangi kedua anaknya, ia tahu jika pria itu memiliki perasaan tersendiri jika melihat anak-anak. Meskipun tak ada yang memberitahu dirinya perihal kekurangan Radit, tentu ia sudah tahu lebih dulu saat Zahira merasa khawatir kala itu. Tentu itu tak ia beritahukan pada Zahira, tak ingin istrinya merasa kasihan atau bersedih. Lagi pula kasihan dengan mantan suami tidaklah baik, bisa-bisa kasihan itu berubah menjadi CLBK.


Sadewa turun dari pangkuan Anggara, mendekat dan menatap wajah Radit. "Paman!" panggilnya dengan wajah imut dan sopan.


"Hai Sayang." Radit menatap bola mata anak laki-laki tampan itu, mata cokelat yang meneduhkan, wajah polos dan sabar, kesan pertama saat bersitatap untuk pertama kali dengan Sadewa. Tanpa sadar Radit meraih tangan kecilnya dan menggenggam erat, entah mengapa Radit merasa sedang menyalurkan perasaan pada anak laki-laki itu.


Dia tersenyum dengan memperlihatkan gigi susunya.


Radit meraih dan memeluknya, benar saja rasanya seperti memeluk ibunya. Damai, hangat dan menenangkan.


"Kita akan sering bermain." ucap Radit tersenyum setelah memeluknya.


"Kalau begitu sekarang saja, aku ingin membaca komik, dan akan memperagakan setelah selesai membacanya!" bibir mungilnya berbicara dengan jelas sekali.

__ADS_1


"Setuju!"


"Kita berteman!" Sadewa mengarahkan jari kelingking pada Raditya.


"Kita berteman." Radit mengaitkan jari kelingkingnya.


"Kau tidak mengajakku!" teriak Satria turun dari pangkuan David.


"Tentu saja kau harus ikut, kau menjadi peran penjahatnya." Radit mulai berani mengajaknya bercanda, sudah pasti karena ada Sadewa yang sudah berteman dan mendukung dirinya.


"Aku tidak mau, Paman saja yang menjadi penjahat, dan aku akan menghajarmu." ucapnya dengan disertai rasa kesal. Radit begitu manis saat bersama dengan Sadewa, tapi dengan dirinya malah terkesan ingin saling mengalahkan.


"Kau tidak akan bisa mengalahkan aku." Radit masih saja tak mau mengalah, mereka berjalan menuju kamar anak-anak.


"Aku pasti bisa."


"Bagaimana jika tidak bisa?"


"Paman harus mengalah, karena aku masih kecil." jawabnya memaksa.


"Hahaha. Kau pandai sekali, memaksaku mengalah dengan alasan kau masih kecil." Pada akhirnya Radit tertawa dengan celotehan Dua anak kecil yang baru saja menjadi teman.


"Kalian pindah mendadak sekali." David memulai obrolan.


"Iya." Anggara menjawab singkat, ia terlihat bingung harus melanjutkan kata-katanya.


"Apa ada sesuatu?" tanya David lagi, sambil meminum kopi yang sudah di sediakan Bibi.


"Ya, bisa di katakan seperti itu." Anggara masih tak bicara banyak, dia sedang banyak berpikir.


"Sayang, Mama ingin memasak sup. Sepertinya cuaca hujan gerimis seperti ini enak jika makan sup ayam." Ayu beranjak mengajak Zahira menuju ruangan lain, lebih tepatnya pergi ke dapur namun ia tidak tahu dapurnya ada dimana. Ia ingin membiarkan Dua laki-laki dewasa itu berbicara.


"Aku sudah menyiapkannya Mama. Sebenarnya aku juga ingin bicara serius dengan Papa dan Mama." Zahira meminta Ayu duduk kembali.

__ADS_1


Ayu menatap David dengan heran, tak pernah Zahira seperti itu kecuali dia sedang benar-benar khawatir.


__ADS_2