
"Tuan?" Hiko memanggil Anggara.
"Aku sudah tidak tahan untuk menghabisi mereka." Anggara menyimpan kembali senjata api miliknya.
Tak lama setelah itu pemadam kebakaran sudah tiba. Api yang menyala itu sudah mengecil, beberapa orang yang terluka juga sudah di bawa keluar. Mereka masih hidup namun luka yang cukup parah.
"Kemana orang yang sudah di tembak oleh tuan Anggara? Aku rasa dia tak akan bisa pergi?" Hiko tampak bingung, sejak tadi ia mencari tapi tak menemukan juga.
"Aku tidak tahu, mungkin dibawa temannya, dapat dipastikan mereka tidak sendiri melainkan ada banyak." temannya menyahut.
"Biarkan saja, lagi pula kita di serang bukan kita yang memulai perkelahian ini. Sebaiknya kita bersiap." Anggara minta Hiko ikut dengannya.
Di dalam mobil, Zahira dan anak-anak sudah duduk dengan wajah masih pucat. Jia pun tak bersuara, duduk mendampingi anak-anak menunggu Anggara selesai bicara, dan tak lama kemudian Anggara sudah masuk ke dalam mobil.
"Sayang." Anggara menatap Zahira dan menyentuh pipinya.
"Kita akan kemana?" tanya Zahira masih ketakutan.
"Kita akan ke apartemen." Anggara mengelus pipi Zahira sedikit.
"Aku tidak mau hal ini kembali terjadi. Aku ingin kita pergi ke tempat yang aman bahkan keluar negeri." Zahira benar-benar takut.
"Ya. Maaf aku membuatmu takut." Anggara mengecup kening Zahira. "Kita ke apartemen dulu, baru setelahnya kita pesan tiket untuk pergi." Anggara meyakinkannya.
Zahira mengangguk setuju, ia hanya memikirkan hidup aman dan tenang bersama keluarganya, tidak ingin menjadi siapapun, tak peduli dengan status sosial Anggara, yang penting bisa selalu bersama.
"Menghubungi siapa Sayang?" Anggara menoleh Zahira.
"Mama." jawabnya singkat.
"Baiklah, katakan jika kita harus pergi esok pagi." ucapnya masih sibuk mengemudi.
"Mama!" Zahira langsung bicara begitu panggilan terhubung dengan Ayu.
"Ya Sayang?"
"Rumah kami Terbakar Mama, sekarang kami akan ke apartemen dan segera memesan tiket untuk pergi pagi nanti." jelas Zahira lagi.
__ADS_1
"Bagaimana bisa terbakar?" suara Ayu terdengar khawatir.
"Aku tidak tahu, tapi banyak orang jahat yang menyerang." ucapnya dengan menangis.
"Baiklah, kirim alamatnya. Dan jam berapa akan pergi ke bandara?" sepertinya Ayu ingin menyusul Zahira.
"Iya." Zahira mengakhiri panggilan. Sedikit lega karena dapat menghubungi Ayu disaat ketakutan, ia merasa lebih baik.
"Tenanglah, kita akan baik-baik saja." Anggara meraih tangan Zahira yang terlihat bergetar, tentu rasanya dingin dan kaku.
"Kita ke apartemen ini?" Zahira melihat jika tempat yang didatanginya adalah apartemen yang sama saat ia kabur dari Radit.
"Ya, kita akan istirahat sementara, kasihan anak-anak." Anggara menoleh Satria dan Sadewa sudah tidur dipangkuan Jia. Ternyata kejadian yang lumayan menegangkan itu tak membuat nyali keduanya menciut, bahkan langsung tidur nyenyak setelah di dalam mobil.
Anggara tersenyum sedikit melihat tingkah dua jagoannya itu. Artinya mental mereka cukup kuat, Anggara tak perlu khawatir, terutama Satria, anak laki-lakinya yang mirip Zahira, atau lebih tepat mirip sekali dengan ayah Zahira. Dia tampak begitu pemberani, tegas, pintar membaca situasi sehingga sulit di bohongi. Dia memilik hobi bela diri, sesuai dengan saat ibunya mengandung, tidak suka ditindas dan lebih agresif dari hari-hari biasanya.
"Biar aku yang membawanya." Jia menggendong Sadewa, sedangkan Satria di gendong Anggara masuk menuju apartemen mereka.
"Kau istirahat di kamar anak-anak saja, kita tidak akan lama." Anggara memerintah Jia. sedangkan yang lainnya sudah memiliki unit apartemen sendiri untuk beristirahat.
"Mas." Zahira masih tidak ingin meninggalkan anak-anak.
"Kita akan pergi 'kan Mas?" Zahira duduk di tepi ranjang dengan mata tak lepas dari Anggara.
"Ya, Aku akan mengantarmu, setalah kau ada di London bertemu paman dan Bibimu, aku akan pulang untuk menyelesaikan semua ini." Anggara meyakinkan Zahira.
"Aku tidak mau kau berurusan lagi dengan mereka, itu berbahaya Mas!" ungkapnya masih merasa takut dengan hal yang baru saja terjadi.
"Aku akan baik-baik saja Sayang. Ingatlah ada Allah yang selalu melindungi kita semua. Jika seandainya Allah mengambilku, artinya tugasku di dunia sudah selesai." Anggara menatap wajah cantik yang bersedih itu. Menangkup wajahnya dan mengecup bibir merah yang dingin.
"Aku belum siap, anak-anak masih kecil Mas, aku masih ingin selalu bersamamu, dimanja olehmu, dan dicintai olehmu." Zahira memeluknya erat.
"Tentu aku juga merasakan hal yang sama. Ingin selalu bersamamu, bahkan jika aku sudah tak ada, aku ingin membawamu jika bisa." rayu Anggara namun terdengar tulus.
"Kalau begitu tetaplah bersamaku, bawa aku kemana saja, jangan pergi jika aku tidak mengizinkanmu pergi. Jangan pulang jika aku tak mengizinkanmu pulang. Kau akan selalu bersamaku, selamanya."
Mereka berpelukan sangat lama, begitu besar rasa cinta itu di rasakan Zahira, pria yang lebih tua 20 tahun darinya itu sungguh membuat ia jatuh cinta sangat dalam.
__ADS_1
"Tidurlah Sayang, sebentar lagi Ricky akan menjemput dan kita harus bersiap Dua jam lagi." Anggara mengelus kepala Zahira, mengajaknya berbaring dan tidur berhadapan, memeluk erat dengan nafas saling menghangatkan.
"Mas!"
"Hem."
"Aku tidak bisa tidur." rengeknya manja, Anggara tersenyum dan sangat hafal dengan rengekan itu.
Tangan kokohnya mulai mencari titik sensitif yang membuat Zahira semakin manja. Mengusap dan menikmati puncak indah yang selalu menjadi tempat favorit yang menyenangkan.
Rasanya begitu nikmat di sela rasa takut dan tegang yang sempat membuatnya lemas, kini berganti dengan rasa manis dan lezat, haus yang sempat terasa di tenggorokan Anggara kini hilang dahaga karena sedang mereguk manisnya bercinta.
Gelisah ingin mengakhiri aktivitas yang sekilas, tentu Anggara harus membuat istri tercintanya lupa dengan apapun, hingga lelah dan tertidur pulas.
Ponsel Anggara berbunyi, baru beberapa detik yang lalu rasanya ia terlelap, namun terbangun. Tentu karena harus pergi dan membawa anak-anak juga istri ke tempat yang aman.
"Ricky!" Anggara menjawab panggilan ponselnya.
"Bersiaplah, penerbangan pukul 05:30." jawab Ricky di seberang telepon.
"Kau ada dimana?" Anggara bangun, melepaskan pelukan Zahira di atas perutnya.
"Aku sudah di luar." jawab Ricky, kemudian memutuskan panggilannya.
Anggara lekas ke kamar mandi dan sholat setelahnya. Ia masih membiarkan Zahira masih tertidur, walaupun akhirnya terbangun dengan takbir keluar dari mulut Anggara.
Zahira tersenyum, selalu saja di pagi buta pemandangan menyejukkan itu ia saksikan. Zahira beranjak, mandi dan sholat mengikuti suaminya.
"Kita berangkat sayang." Anggara mengecup kening Zahira setelah selesai sholat.
"Iya." jawab Zahira. Hanya membawa tas dan ponsel, bahkan tak membawa pakaian ganti.
Mereka menuju mobil yang ternyata semua sudah siap termasuk anak-anak sudah menyandar bersama Jia.
*
*
__ADS_1
*
Untuk bab selanjutnya, siapkan tissue...