
Anggara masih menikmati wajah gadis berhijab yang masih memerah itu, hatinya bergejolak teringat masa-masa dia pernah jatuh cinta kala itu, walaupun pada akhirnya harus kehilangan dan mengalah. Sungguh waktu berjalan sangat cepat jika di hitung mundur dari sekarang, 26 tahun yang lalu rasa itu amatlah bergelora, pada gadis berhijab anggun, cantik dan lembut, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah seperti melodi yang selalu mengiang di telinga.
Sayang sekali tuhan tidak memberi restu padanya, begitulah cinta yang terlalu besar di simpan sedalam-dalamnya oleh Anggara, tak pernah hilang, tak pernah padam, tak juga bisa di lupakan begitu saja.
Hingga akhirnya kini dia di hadapkan dengan gadis yang serupa, sama seperti dirinya. Sungguh cinta yang di simpan rapi itu kembali hidup dan memberontak, walau sekuat tenaga memaksanya untuk tetap bersembunyi, tapi kala takdir memanggil untuk kembali bersitatap, rasanya Indah sekali seperti ingin mendekap erat.
Anggara menggeleng pelan, sejujurnya dia takut akan rasa yang sama dan kehilangan yang sama, itu tak mampu dia bayangkan kembali.
"Andai Tuhan memberikan aku cinta itu lagi, aku memohon pada Mu, agar aku bisa memilikinya. Karena kehilangan sungguh membuat aku terluka." Ungkapan hati Anggara.
***
"Mama, aku keluar sebentar." Radit berbicara dengan Ayu yang sedang sibuk menerima telepon dari kliennya.
Setelah mendapat anggukan dari Ayu, Radit menutup pintu dan meninggalkan Ayu di dalam ruangannya. Radit mengemudi perlahan hingga cukup lama, Radit sudah sampai di depan kantor besar yang sudah biasa dia datangi.
Pria itu masuk dengan tanpa menoleh kemana-mana, dengan tampilan yang sangat sempurna itu dia masuk langsung ke ruangan inti untuk menemui seseorang.
Pintu terbuka, wanita yang sedang duduk di dalam ruangan itu menoleh. "Radit!" Serunya langsung mendekat dan sangat bahagia.
Radit menatap wajah gadis itu dengan pandangan sulit di artikan, ada seulas senyum yang dia simpan, juga bahagia yang dia tutup rapi. Tangannya tak bergeming saat gadis itu menarik-narik lengannya, hanya hatinya saja yang ingin bersorak ria.
"Radit kau datang, apa mama tidak akan marah?" Zahira menatap wajah datar itu dengan gembira.
"Tidak, dia tidak tau." jawabnya tanpa melihat gadis yang masih memegang lengan kemejanya.
"Aku ingin keluar, ingin membeli sesuatu." Zahira melepaskan lengan baju Radit dan kembali duduk dengan bersandar.
"Kau ingin membeli apa?" Radit duduk di atas meja.
__ADS_1
"Ingin membeli hijab terbaru." jawabnya sambil menyiapkan tas untuk pergi bersama Radit.
"Baiklah, kita pergi bersama." Radit meliriknya sejenak, lalu pura-pura tak melihat.
"Ayo!" Zahira kembali menarik lengan Radit.
"Mau kemana kalian?" tiba-tiba Anggara masuk.
"Aku mau belanja, apa kau mau di belikan sesuatu?" Zahira menjawabnya cuek sekali.
"Kau tidak bisa pergi, tugasmu baru saja aku mengambilnya dari ruangan direktur." Anggara memperlihatkan kertas-kertas di tangannya.
"Nanti saja, aku sedang ingin pergi bersama Radit." Zahira meninggikan suaranya.
"Tidak bisa, tunggu jam istirahat." Anggara berkata tegas. Membuat Zahira terlihat putus asa.
"Aku akan tetap membawanya, kami tidak akan lama." kali ini Radit berbicara, tatapan dinginnya ikut menyerang.
Di perjalanan Radit diam tak mengucapkan apa-apa, hanya ia melihat wajah cantik itu dari kaca di depan. Sesekali senyum tipis itu terukir menatap wajah manis yang selalu dia rindukan.
"Radit, aku pasti akan bosan jika liburmu sudah habis. Rasanya aku ingin ikut denganmu saja." Zahira tampak lelah menjalani hari-hari yang tak dia inginkan.
"Bukankah kau akan tinggal di rumahmu Zahira?" Radit melihatnya sekilas.
"Iya, tapi aku tidak punya siapapun selain dirimu. Aku bahkan tidak memiliki teman di sini." Zahira masih terlihat malas.
"Aku akan menemanimu." jawab Radit singkat.
"Itu tidak mungkin, kau akan kembali ke Malaysia bukan?" Zahira memandang wajah di sampingnya.
__ADS_1
Radit melambatkan laju mobilnya, lalu berhenti. Dia menoleh dan menghadap Zahira.
"Zahira, apa kau benar ingin menikah muda?" Radit menatapnya serius. Membuat Zahira terpaku menatap Radit dan merasakan sesuatu yang berbeda.
"Iya." jawabnya singkat, dan gugup.
"Seperti apa suami yang kau inginkan Zahira?" Radit masih menatapnya serius.
Zahira menunduk, ingin sekali mengatakan jika laki-laki yang di inginkannya seperti Radit, tapi rasanya dia tak mampu. Mana ada orang yang mirip dengan saudara sepupunya itu, rasanya sepanjang hidup dia hanya menemukan satu, yaitu Radit seorang.
"Zahira jawab aku." tanya Radit pelan.
Zahira mengangkat wajahnya, menatap jelas pada wajah pria yang sedang menikmati keindahan wajahnya itu. "Jika ada sepertimu saja." jawabnya seperti sedang bercanda, senyumnya sedikit tertarik.
"Bagaimana kalau aku bukan saudaramu? Apa kau akan menerima aku sebagai calon suamimu?" Radit mencoba bertanya lagi untuk meyakinkan hatinya.
"Kau gila Radit, mana ada orang berandai-andai seperti itu. Aku anak dari kakaknya Mama, walaupun dalam agama masih bisa dinikahkan." Zahira menunduk.
"Itu kau tau, masih sah dinikahkan!" Radit mengalihkan pandangannya.
Zahira kembali menunduk, dia tidak tau harus berkata apa, bahkan jatuh cinta saja dia belum pernah. Satu-satunya laki-laki yang dekat dengannya adalah Radit, tidak ada yang lain. Karena dia adalah saudaranya saat itu, dan sekarang statusnya sudah berubah jadi saudara sepupu, kenyataan yang belum bisa ia terima sepenuhnya.
"Aku tidak mau jauh darimu Zahira." Radit mengungkapkan isi hatinya walaupun belum semua. Pria itu melajukan kembali mobilnya tanpa meminta jawaban dari Zahira.
Hingga tida di pusat perbelanjaan yang cukup besar, mereka turun dari mobil, Zahira melangkah lebih dulu, Radit menyusul dan mensejajarkan posisinya.
Zahira menoleh pria tinggi itu perlahan, Radit juga sama, dia menoleh gadis di sampingnya dengan sedikit tersenyum. Entah mengapa saat ini senyum Radit jadi lebih manis dari biasanya, membuat hati gadis itu bergetar hebat, jantungnya berdetak lebih cepat, bahagianya berkali lipat.
"Kau mau ikut." tanya Zahira, karena toko yang di maksud banyak sekali perempuan yang sedang sibuk memilih pakaian.
__ADS_1
"Iya." Radit meraih tangan Zahira dan mengajaknya masuk membeli hijab. Sungguh itu membuat Zahira salah tingkah, walau entah itu apa namanya dia merasa kali ini sangatlah berbeda. Padahal sebelum ini Radit sudah biasa menarik tangannya jika sedang terburu-buru atau ada keperluan mendadak dan itu dirasa biasa saja.
Zahira menatap pria itu dari samping, "Kenapa hatiku ini, sangat ingin selalu seperti ini selamanya. Apakah yang dikatakan Radit tadi adalah perasaan yang sama? aku tak ingin jauh darimu Radit" ungkap Zahira di dalam hati.