Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
45. Benarkah dia selingkuh


__ADS_3

"Hari ini terakhir ujian semesterku, hanya ada satu mata kuliah saja jadi aku pulang lebih cepat dan aku akan ke kantor." ucap Zahira duduk di meja rias memasangkan Bross cantik di hijabnya.


"Baiklah, kau akan di jemput sopir Mama saja." Radit akan selalu menentukan keputusan.


"Tak masalah, kak Tina juga akan stand by untukku." Zahira tampak berpikir. "Aku akan belajar menyetir dengan Papa atau kak Tina, akan merepotkan jika harus di jemput kemana-mana. Seorang pengusaha tidak bisa menyetir, itu terdengar sedikit aneh."


"Aku akan mengajarimu Zahira, mengapa harus Papa atau kak Tina." Radit melirik istrinya yang sudah selesai.


Zahira mendekati Radit, merapikan dasi dan menyiapkan jaketnya. "Aku sudah sejak lama ingin belajar darimu, tapi akhir-akhir ini kau sering pergi lama jika sudah bersama teman-temanmu." ucapnya, merapikan jaket di leher suaminya.


"Maaf sayang." Radit meraih dan memeluk tubuh kecil yang sudah berpakaian rapi itu.


"Ayo kita berangkat." ajak Zahira, ia memang harus berangkat lebih pagi hari Senin ini.


"Hati-hati pulang nanti, atau hubungi Papa saja." ucapnya khawatir saat Zahira sudah sampai di kampus.


"Iya sayang." jawab Zahira, kali ini dia yang mengecup pipi Radit, dan beranjak keluar karena dia sedang terburu-buru.


"Zahira!"


Zahira menoleh, tampak Ana setengah berlari kearahnya.


"Aku pikir kau sudah datang duluan." ucap Zahira tersenyum lebar melihat sahabatnya ngos-ngosan.


"Mobilku mogok, aku naik angkot." jawabnya masih mengatur nafas.


"Istirahat dulu di sana, masih ada beberapa menit." Zahira melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Oh iya, pria yang selalu mengantar dan menjemputmu itu, apa dia kekasihmu atau tunanganmu?" Ana menatap wajah sahabatnya dengan penasaran.


"Dia..." Zahira tampak berpikir.


"Aku tebak pasti tunanganmu, soalnya kau selalu menjaga jarak dengan teman laki-laki." Ana menjawab penasarannya sendiri.


"I.. Iya." jawabnya ragu-ragu.


"Tapi_" kali ini Ana yang terlihat ragu.


"Kenapa?" tanya Zahira menatap wajah sahabatnya terlihat tegang dan serba salah.


"Tapi, aku kemarin melihat tunanganmu itu di_"

__ADS_1


"Di mana?" Zahira jadi penasaran dan hatinya menjadi tidak tenang.


"Tapi kau harus tenang, dan jangan marah padaku." Ana memainkan ujung telunjuknya, ia terlihat masih ragu.


"Tidak, untuk apa marah padamu!" Zahira tersenyum melihat kegugupan sahabatnya.


"Kau siapkan telinga dan hatimu." pintanya lagi.


"Ana! Katakan saja mengapa lama sekali?" Zahira dibuat kesal.


"Baiklah, kemarin itu aku melihat tunanganmu itu datang ke klinik ibuku." ucapnya menatap Zahira sedikit menggigit bibirnya, sungguh ia tidak tega mengatakan hal seperti itu.


"Klinik?" Zahira mengerutkan keningnya, mulutnya sedikit terbuka mencoba memikirkan hal yang positif.


Ana mengangguk. "Bersama seorang wanita."


"Apa! Wanita?" Zahira tercekat mendengar itu semua, air liurnya kering mendadak bersama pikiran yang semakin menduga-duga.


"Iya. Dokter di klinik itu ibu sambungku." tambahnya lagi.


"Mengapa dia ada di sana?" Zahira mencoba penjelasan yang lebih banyak dari sahabatnya.


"Periksa_"


"Mereka periksa kehamilan Zahira, Radit bahkan makan berdua dengan wanita itu di depan klinik." jelas Ana, gadis itu berpikir akan lebih baik memberi tahu Zahira dari pada sahabatnya di bohongi.


"Kehamilan?" Zahira sudah tidak bisa menahannya lagi, air matanya turun menetes hingga membasahi hijab yang menutup dadanya.


"Maaf Zahira, aku tak bermaksud membuatmu bersedih, tapi aku benar-benar melihatnya, aku ada di klinik itu sejak pagi karena asisten Mama sedang cuti." ucap Ana dia sungguh merasa bersalah.


"Tidak apa-apa." jawabnya lirih, air matanya semakin deras tak mampu lagi untuk membendungnya.


"Tapi kau tidak boleh terlalu bersedih, kau cari saja bukti lainnya dan batalkan pertunangan kalian. Dia tak pantas di pertahankan, bahkan ada banyak laki-laki yang mengincarmu Zahira." Ana menggenggam tangan Zahira, mencoba memberi semangat.


"Terima kasih Ana." ucapnya masih berlinang air mata.


Tentu saja itu tidak sulit jika masih bertunangan, tapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka sudah menikah. Zahira memegang dadanya mencoba menepis apa yang dia dengar, namun itu masih tak mampu membuat ia tidak menangis. Dada yang bergemuruh itu terlihat naik turun, ada yang hancur di dalam sana, tentu saja hatinya sedang terluka.


"Ayo masuk, kau harus selesaikan ujian hari ini." Ana meraih bahu Zahira.


"Iya." jawab Zahira menghapus air matanya.

__ADS_1


Ujian hari ini terlewati walaupun ia tidak tahu bagaimana hasilnya, tangan kecil itu bergetar menahan rasa sakit yang semakin menghujam, bahkan tadi ia tidak tau harus menulis apa.


"Ana aku pulang duluan." Zahira sudah bersiap dengan tas di bahunya.


Ana mengangguk, gadis itu masih sibuk dengan alat tulis yang masih berantakan di atas meja.


Zahira memesan taksi dan melaju ke kantornya, seperti rencana awalnya hari ini akan ke kantor menemui sekretarisnya Tina. Zahira duduk menyandar dengan tatapan putus asa, pikirannya melayang kepada Radit dan, memang Zahira merasa aneh di akhir-akhir ini Radit sering keluar begitu lama. 'Apa benar Radit selingkuh, jika iya apa salahku padamu Radit? Bahkan aku tak pernah membantahmu." Zahira larut dalam lamunan dan pikiran yang menerka-nerka, ingin tidak percaya, 'Tapi tidak mungkin Ana berbohong hingga mengarang cerita selengkap itu, sedetail itu? Dia tidak mengenal Radit.'


"Nona sudah sampai!" suara sopir taksi itu membuyarkan lamunan Zahira.


"Terimakasih pak." Zahira tersenyum dan langsung turun.


"Selamat siang Nona?" suara sekretarisnya sudah menyapa.


"Selamat siang juga Kak Tina." Zahira tersenyum melihat sekretarisnya sudah berdiri di di depan kantor menunggu kedatangan dirinya.


"Aku baru saja akan menjemput Anda." ucapnya sambil berjalan beriringan.


"Tidak perlu. Ah iya aku malah ingin belajar menyetir darimu." Zahira menatap wajah dewasa yang terlihat damai itu.


"Nanti sore bagaimana?" Wanita itu begitu bersemangat.


"Tentu saja aku siap, apa tidak mengganggu waktu istirahat kakak?" tanya Zahira lagi, dia selalu memanggil Tina dengan sapaan akrab.


"Tentu tidak." Satu tangannya mempersilahkan Zahira masuk ruangan terlebih dulu.


"Kak, sebenarnya aku ingin membicarakan satu hal padamu." Zahira melirik pintu agar di tutup.


Tina mengerti dan segera menutup juga menguncinya. "Ada apa?" tanya wanita dewasa itu ikut serius.


"Aku ingin tahu semua aset ibu dan ayahku kak?" tanya Zahira tanpa basa-basi.


"Aku punya salinan berkasnya, tapi ku rasa tidak semua. Hanya pak David dan Bu Ayu yang tahu semuanya Nona." jelas Tina sangat yakin.


"Aku merasa tidak enak jika harus bertanya pada papa dan mama. Apa tidak ada orang lain yang mengetahuinya?" tanya Zahira lagi.


"Ada."


Zahira tampak senang. "Siapa?"


"Pak Anggara." jawabnya membalas tatapan Zahira.

__ADS_1


"Ku rasa aku memang perlu menemuinya." wajah cantiknya berubah sedih.


__ADS_2