
"Assalamualaikum Sayang, Mama ingin menyampaikan kabar gembira padamu juga Nurul. Zahira sudah melahirkan dan anaknya adalah laki-laki."
Begitu isi pesan Ayu ketika Radit membuka pesan yang menganggu waktu makan siangnya. Pria muda itu tersenyum dan langsung membalas.
"Wa'alaikum salam Mama, apakah Zahira baik-baik saja?"
"Ya, semua baik dan sehat."
"Syukurlah."
Tersenyum dengan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh orang-orang di seberang sana. Meskipun sekilas kabar itu bagai menusuk ke dalam hati, rasa ingin memiliki itu jelas masih ada dan semakin ingin waktu cepat berlalu, mana tahu bisa merebut hatinya kembali.
"Sayang?" panggilan itu terdengar lembut sekali, membuat mata yang enggan terbuka itu berusaha untuk melihat wajah pria yang selalu setia menjaganya.
Perlahan mata indah Zahira terbuka sedikit demi sedikit, samar terlihat wajah pria itu sedang tersenyum, tapi terlihat memerah dengan bulir air mata tak tertahankan jatuh dengan sendirinya.
"Kau sudah sadar Sayang." ucapnya begitu bahagia. Anggara menghujani wajah cantik yang masih lemas itu dengan kecupan hangat, ciuman mesra di seluruh wajahnya. Memeluk erat dengan tak henti mengucap syukur atas nikmat yang sedang ia rasakan. "Terimakasih Sayang, kau memberiku segalanya. Aku merasa sangat sempurna karena kehadiranmu. Aku mencintaimu Zahira, aku sangat mencintaimu!" Anggara menghujaninya dengan ciuman disertai haru dan cinta yang teramat dalam.
"Dimana?" tanya Zahira lemas.
"Dia ada di ruang bayi bersama Mamamu, bayi kita laki-laki semuanya Sayang. Dia tampan sekali, salah satunya memiliki lesung pipi seperti dirimu. Aku menyukainya, sangat menyukainya! Mereka jagoanku, aku sangat bahagia memiliki dua putra dari istri secantik dirimu. Aku mencintaimu." Anggara kembali memeluknya, entah ke berapa kali laki-laki itu memeluk dan mencium istrinya.
Zahira menangis haru dengan perlakuan Anggara, ia juga sangat bahagia memiliki anak dari pria baik seperti Anggara. Pria yang sempurna di matanya tanpa kurang satu apapun dalam mencintai Zahira, tulus dan ikhlas, sungguh ia tidak menyesal dengan takdir yang terkadang terasa sangat kejam, namun setelahnya memberikan nikmat dan bahagia.
"Tadi mereka menangis, tapi lebih tenang setelah mendengar Adzan untuk pertama kali dariku. Aku benar-benar menjadi seorang ayah." Anggara masih memandangi wajah Zahira dari dekat, entah butuh waktu berapa lama untuk meluapkan kebahagiaan itu. Ia hanya tahu jika saat ini ada Zahira dan anak-anak mereka saja di dalam dunianya.
"Anda sudah boleh pulang, tapi tetap harus menjaga kesehatan tidak boleh lelah dan jaga asupan nutrisi. Makan yang banyak dan sehat karena kedua putra anda butuh ASI yang berkualitas." Begitu pesan Dokter Amelia ketika Zahira Sudja di izinkan pulang.
__ADS_1
"Terimakasih untuk semuanya Dokter." jawab Zahira halus.
"Kita akan pulang!" suara David terdengar bersemangat, menggendong bayi mungil itu bersama Ayu.
"Dia benar-benar menjadi seorang kakek." Ayu merasa lucu dengan tingkah David, yang mengayun-ayunkan tangan serta pinggulnya bagai menari karena terlalu senang menggendong bayi.
"Papa terlihat lebih muda jika bergoyang seperti itu." Zahira menyahut, mengundang gelak tawa.
"Sekali lagi terimakasih Dokter, kami permisi." Anggara menjabat tangan Amelia.
Anggara menyetir dengan di dampingi Zahira, sedangkan Ayu juga David menggendong bayi mereka di belakang.
"Kau tampan sekali Sayang." David tak henti menatap wajah bayi merah itu sepanjang jalan.
"Milikku juga tampan." Ayu tak mau kalah, wanita yang masih cantik itu sesekali mengecup pipi halus bayi dalam dekapannya.
"Selamat pagi Umi!" Zahira melakukan Video call untuk memberi kabar kepada Nurul.
"Selamat pagi Sayang! Selamat atas kelahiran putra-putra kalian." Nurul tampak ikut bahagia di seberang sana.
"Nurul, kau lihat mereka!" Ayu menggendong salah satu bayi di belakang Zahira.
"Umi nak tengok lah!" Nurul tampak serius mengarahkan pandangannya.
Zahira mengarahkan kamera pada dua bayi mereka, bayi yang memakai pakaian sama hanya berbeda warna, juga topi sama dengan warna senada dengan baju mereka.
"Kembar tak seiras!" Nurul terkagum-kagum di buatnya, tampan tapi tidak serupa, memiliki ciri yang berbeda, sudah pasti dengan karakter yang berbeda nantinya.
__ADS_1
"Iya Umi." jawab Zahira tertawa.
"Banyak sabar ye, sebab anak jantan lebih aktif, apelagi menurun Ayah die yang jenius. Zahira kene siap mental." Nurul tertawa dengan bahagia, kagum dan membayangkan jika mereka sudah tumbuh besar.
"Benar Umi, doakan Zahira agar bisa menjadi ibu yang baik." jawabnya dengan wajah memohon.
"Tentu Sayang."
Tak hanya keluarga dan penghuni rumah Anggara yang merasakan bahagia, tapi banyak pihak diluar sana juga turut kebagian bahagia. Banyak panti asuhan menerima sumbangan dana yang tak sedikit dari perusahaan besar Anggara, tips-tips karyawan rendah dan pegawai dengan gaji rendah juga tak ketinggalan mendapatkan bagiannya. Dari perusahaan induk hingga anak cabang yang kecil mengeluarkan uang untuk berbagi kebahagiaan di daerah masing-masing.
"Selamat atas kelahiran putra Anda."
Banyaknya ucapan selamat bagai air yang membanjir disertai doa-doa tebaik dari berbagai pihak. Tak ada acara berlebihan, juga tak ada pesta layaknya orang kaya, hanya berbagi kebahagiaan dengan ikhlas dan wujud dari rasa syukur atas nikmat hidup dari Yang Maha Kuasa. Berharap sedikit uang yang mereka terima dapat bermanfaat dan membahagiakan hati penerimanya.
Sebagian dari mereka hanya ikut mendoakan dari jauh, dan sebagiannya lagi sangat penasaran dengan sosok konglomerat yang masih tergolong muda itu. Kebahagiaan yang tanpa sengaja menjadi kehebohan itu terdengar hingga kemana-mana.
"Aku ingin segera keluar dari sini, dan menghancurkan kebahagiaan mereka, sama seperti hancurnya hidupku." Wanita muda itu sedang berbicara pada laki-laki dewasa di sebuah ruangan yang di jaga seorang Polisi wanita.
"Kau harus bersabar." jawab pria dewasa itu tersenyum penuh arti.
Sementara Radit tak pernah peduli apapun selain belajar dan belajar, masih ada waktu untuk mengejar ujian beberapa bulan lagi. Beruntung Nurul bersedia membantu mengurus kepindahan Radit dan bisa melanjutkan pendidikan di Sekolahnya yang lama.
Ia hanya berpikir untuk menjadi laki-laki dewasa dan kuat untuk mendapatkan hati Zahira, tak mau mengenal wanita atau urusan yang berhubungan dengan wanita. Tak mau mengulangi kesalahan yang sama, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat dan pintar dalam menjalani hidup. Jika dia hanya mengenal Zahira yang baik, jujur dan tidak macam-macam, berbeda di luar sana banyak wanita yang rela menjadi budak cinta demi mendapatkan seorang laki-laki, bahkan mereka bisa nekat dengan melakukan hal yang rendah untuk mendapat keinginannya.
*
*
__ADS_1
Lima Tahun Kemudian..........