
Radit mengejar dan menarik lengan Zahira diambang pintu kamarnya.
"Aku paham, posisi kita sudah berbeda." Zahira tak menghindari tatapan Raditya.
"Bisakah kau menuruti kata hatimu? Aku tidak mau kau selalu menderita apalagi hanya karena kau memikirkan orang lain. Bahkan penderitaan mu baru saja berakhir." Radit tak berhenti menatap wajah Zahira.
"Justru aku disini karena kata hatiku, aku ingin pulang dan hidup bersama Papa dan Mama." tanpa terasa air matanya mulai menetes.
Radit tak bergeming. 'Andai saja kau ada di sini karena rasa cinta itu masih ada.'
"Ya, itu akan lebih baik." Radit berlaku menuju kamarnya, langkahnya pelan dan berat. Ingin mengatakan dia masih berharap, tapi takut Zahira kembali pergi.
"Aku tidak mau pergi dari rumah ini." ucap Zahira tiba-tiba sedikit lebih keras.
Radit menarik nafas yang semakin berat. Ia berbalik dan memastikan jika wanita yang sedang berbicara itu berkata dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak mau berpisah dari Papa dan Mama, juga_"
"Juga apa?" Radit kembali mendekati Zahira, bahkan sangat dekat kali ini.
"Juga_" Zahira tak melanjutkan kata-katanya.
Wajah cantiknya terlihat gugup, sesekali menggigit bibir bawahnya sendiri.
Radit meraih tangan yang bertaut itu dan menggenggamnya.
"Kita bukan anak kecil lagi Zahira, bahkan saat kita masih belasan tahun aku sudah melamar mu dengan sungguh-sungguh. Kau pasti tahu jika tinggal seatap dengan seorang mantan suami apapun alasannya itu tidak baik."
Zahira semakin menciut mendengarnya, sepertinya kali ini Zahira akan benar-benar di usir, begitu batinnya berbicara.
"Kita juga bukan anak muda yang tidak tahu bagaimana rasanya berdekatan dengan lawan jenis, tentu saat dekat denganmu aku ingin menyentuhmu. Sama seperti saat kita masih bersama dulu, aku tidak mungkin bertahan dengan situasi ini selamanya."
"Aku hanya_"
"Rasa di dalam hatiku tak pernah berubah Zahira, tapi jika harus menahan selamanya aku tidak mampu."
Radit berhenti sejenak, membiarkan wanita di hadapannya berpikir dan mengatur suasana hati.
"Apa artinya kau ingin aku pergi?" tanya Zahira pelan dan sedikit terbata.
"Aku juga tidak mau." jawab Raditya masih dalam posisinya.
__ADS_1
Zahira menatapnya dengan bingung, menarik jari-jari halusnya dari tangan Radit.
"Radit, aku tahu kau tidak sepenuhnya bersalah dalam perpisahan kita. Bahkan Mas Anggara saat itu sempat mengatakan jika aku masih punya kesempatan untuk bertahan. Hanya keadaan meyakinkan aku untuk pergi."
Zahira menghadap balkon kembali, melihat langit yang luas dengan bintang bertaburan di atas sana.
"Apapun itu aku tetap bersalah, kau mengalami banyak hal karena aku." Radit hanya memandangi punggung Zahira.
"Jujur saja, perpisahan menyakitkan antara kita mengukir cinta yang lain di hatiku, yaitu suamiku. Ayah dari anak-anak yang saat ini menguatkan aku."
Radit hanya mendengarkan kali ini.
"Jika untuk mencintaimu seperti dulu mungkin aku sudah tak bisa, tapi untuk kembali menjadi istrimu aku bisa."
Mata yang sipit itu mendadak melebar sempurna, mencari apa yang baru saja di dengarnya, berpikir berulang-ulang apakah dia hanya sedang salah dengar?
Mendadak jantung Radit berdegup kencang, dengan nafas yang bertumpuk seakan malas berhembus.
"Za,,,"
Bahkan dia tidak tahu harus berkata apa.
"Aku ingin kembali menjadi istrimu jika kau masih bersedia, jika tidak maka aku akan akan menjauh. Setelah Satria dan Sadewa libur dua Minggu lagi, aku akan tinggal di puncak bersama anak-anak, agar aku tidak menggangu." ucapnya setelah mengumpulkan segenap keberanian menatap mata Raditya.
'Ternyata kedekatan mereka selama ini hanyalah harapan palsu, dia tidak sesungguh itu.'
"Baiklah, aku harus istirahat." Zahira berusaha baik-baik saja, walaupun hatinya sedang menciut.
Bersembunyi di dalam kamarnya adalah pilihan terbaik, daripada menahan malu karena sudah melamar Raditya. Wajahnya terasa panas dan sudah pasti berwarna merah muda, beruntung malam hari yang sedikit remang karena lampu balkon belum sempat di nyalakan.
Zahira berlalu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Radit yang masih berdiri kaku.
"Mungkin dia sudah punya pilihan." Zahira menyandar di balik pintu mengatur nafasnya.
"Memalukan sekali." Zahira menutup wajahnya menuju kamar mandi, mendinginkan kedua belah pipinya dengan air.
Tentu di dalam sana dia juga sedang menyesali ucapannya, beberapa kali melihat cermin dan mengatur nafas agar lebih tenang dan bisa tidur nyenyak. Akhirnya dia keluar dalam menit ke 20.
"Radit!" Zahira memegang dadanya ketika pria yang ada dalam pikirannya malah berdiri di dalam kamarnya.
Radit mendekati Zahira tanpa bicara, matanya tak melepas wajah wanita cantik itu.
__ADS_1
"Aku tidak sedang serius." Zahira berusaha menutupi kegugupannya, tak mungkin rasanya kembali masuk ke kamar mandi dan bersembunyi.
Tangan besar itu tiba-tiba menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan, Radit tak memberi ruang untuk Zahira menolak atau berbicara sekalipun.
Pelukannya hangat tapi tak terasa menyenangkan karena hati Zahira sendiri sedang tidak karuan, bahkan belum memahami arti dari perlakuan Raditya saat ini.
"Radit!" Zahira mendorong dada Radit agar menjauh.
"Diamlah." ucapnya tak menjelaskan apapun, malah semakin erat dan menikmati wanginya hijab sederhana yang menutupi rambut indah Zahira.
"Aku tidak bisa bernafas." ucapnya pelan.
Radit tersenyum dan sedikit melonggarkan pelukannya. "Apakah seperti ini masih bisa bernafas?" ucap Radit setengah berbisik.
"Kau tidak boleh memelukku." sedikit membohongi hati, jika saat ini dia mulai nyaman.
"Sebentar saja."
Mendadak nafas Radit menjadi sesak mengingat segala yang telah terlewati. Hampir delapan tahun mereka berpisah, harusnya itu bukanlah waktu yang lama, tapi ada banyak air mata di dalamnya.
"Maafkan aku Zahira." kembali Radit berkata sangat pelan.
"Untuk apa?" tanya Zahira tak menolak lagi.
"Untuk semua yang kau alami." jawab Radit menyukai posisi dagunya di atas telinga Zahira.
"Itu takdir yang harus kita jalani Radit, bukan salahmu atau salahku. Aku terlambat menyadari jika semua yang kurasakan sama saja dengan yang kau rasakan. Saat aku berada antara hidup dan mati, kau juga berada dalam penderitaan yang mungkin aku saja tak sanggup menjalaninya. Aku kehilangan suamiku, kau pernah kehilangan aku. Harusnya aku tak menyalahkan mu."
"Aku memang pantas di salahkan, karena tak bisa menjaga istriku." Radit semakin mengisap dalam aroma wangi kerudung berwarna ungu muda itu.
"Kita masih belum dewasa saat itu." jawab Zahira mengatur bicaranya, berharap tapi tak mau terlihat, begitulah seorang wanita.
"Dan sekarang kita sudah sangat dewasa. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Radit melepaskan pelukannya sejenak.
"Menikahlah denganku Zahira, aku sudah tidak tahan ingin menyentuhmu. Terimalah aku agar memikirkan mu tak lagi menjadi dosa bagi ku."
Tik
Tik
__ADS_1
Tik