Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
191. Membuat cemburu


__ADS_3

Saling melempar pandangan, saling menyerang dalam tatapan tajam. Zahira memilih berlalu, hening yang sejenak itu membuat keduanya sadar jika mereka tidak hanya berdua.


"Sebaiknya kau pulang." Ricky menepuk pundak Radit.


Radit mendengus kesal, mata tajamnya sempat melirik Reza yang hanya diam tak ikut campur urusan mereka.


"Kau juga, sebaiknya tak terlalu sering datang menemui Zahira." Ricky mengingatkan.


"Baru pertama kali datang kau sudah mengusir!" jawabnya tak terima.


"Ingat! Banyak model dan artis yang bisa kau ajak menghabiskan waktu seharian atau semalaman, tapi bukan dia!" Ricky menunjuk punggung Zahira yang masih terlihat masuk ke dalam lift.


"Aku tidak berniat seperti itu." ucap Reza bersungguh-sungguh.


"Lalu apa niatmu?" tanya Ricky pada laki-laki Players itu.


Belum juga sempat bicara, Ricky sudah meninggalkan Reza. "Ini soal perasaan." gumamnya menjawab ucapan Ricky yang tak mungkin di dengar oleh orangnya.


Ricky jelas tahu jika Reza ingin mendekati Zahira, bahkan saat Anggara masih hidup dia terang-terangan memujinya.


*


Akhir pekan adalah waktu yang di tunggu-tunggu untuk sebagian orang. Radit sudah bersiap dengan pakaian santainya. Kaos putih dan celana abu-abu tua, pria itu selalu tampak mempesona. Belum lagi ditambah dengan mobil mewah berwarna silver, kali ini ia mengganti mobil baru untuk mengunjungi seseorang, dengan misi yang hanya dia sendiri yang tahu.


"Selamat pagi Pak!" sapa pegawai toko Radit, dia memang pegawai Radit di kantor sehingga tetap menyapa dengan panggilan 'Pak'.


"Pagi." jawab Radit masuk ke tokonya.


"Apa penjualan kita lancar?" tanya Radit duduk melihat barang mereka sudah agak berkurang.


"Ya, ada Pak, lumayan." jawab pegawainya.


Hari ini Radit sengaja berjaga di toko karena memang hari libur, sekalian ia sedang menunggu seseorang. Radit duduk santai di depan rukonya dengan memainkan ponsel seperti biasa. Tak peduli banyak orang memperhatikan dirinya, termasuk Merry, tetangga baru Raditya.


Merry tampak penasaran dengan apa yang Radit lakukan, tapi dia juga takut mendekati Radit. Tentu banyak hal yang membuatnya ragu, kemunculan Radit tiba-tiba membuka usaha berdekatan dengannya. Atau mendekati seorang gadis seperti yang di ceritakan anak buahnya? Dia perlu waspada.


"Radit!" suara seseorang memanggil nama Radit.


"Hai, akhirnya kau datang juga!" Radit tersenyum lebar, ia senang sekali dengan kehadiran seorang gadis.


"Maaf aku terlambat." ucap wanita berkerudung itu halus.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku mengkhususkan hari ini untuk menunggumu." Radit merayu, sungguh seseorang yang mendengarnya menjadi ingin meledak. Belum lagi tatapan mata Radit yang tak lepas dari gadis itu, sungguh membuat Merry terbakar cemburu.


"Kau sedang merayuku?" tanya gadis itu bertanya dengan salah tingkah.


"Aku tidak tahu, hanya sedang mengungkapkan perasaan yang begitu adanya." jawab Radit masih tak mengalihkan tatapan matanya.


Wajah gadis itu semakin merona, menunduk dan tersipu.


"Ah, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Hanya berkeliling di daerah sini, sekalian kemarin kau bilang ingin mencari ponsel baru."


"Oh, emm. Tapi-" gadis itu tampak berpikir.


"Tidak ada penolakan, karena aku hanya punya waktu di akhir pekan untuk bersamamu. Setelahnya aku akan sibuk dan harus menunggu akhir pekan depan untuk menemuimu." jelas Radit meyakinkan sekaligus membuat gadis itu semakin ingin melompat bahagia.


"Ba-baiklah." jawabnya gugup.


Radit tersenyum sangat manis, lebih manis dari gula tebu, tapi menciptakan api unggun di hati Merry. Wanita 25 tahun itu tampak mengepalkan tangannya, wajah memerah serta dada yang naik turun.


"Ayo." Radit mengulurkan tangannya.


Gadis berkerudung itu tercengang tak bergerak dengan perlakuan Radit yang menurutnya melewati batas normal seorang Radit.


Mereka berjalan menuju mobil dengan salah tingkah, baik gadis itu ataupun Radit, mereka tersenyum dan hanya saling melirik.


"Ternyata benar! Radit sedang mendekati gadis itu." ucapnya dengan menahan amarah yang sudah memuncak.


"Ada apa Nona?" tanya pegawai Merry.


"Sini, aku ingin bicara." Merry meminta pegawainya mendekat.


"Iya Nona. Ada apa?" tanya gadis itu polos.


"Siapa nama gadis berkerudung yang kau ceritakan kemarin?" tanya Merry dengan wajah kesal.


"Aisyah." jawab pegawai Merry.


"Apa kau sering melihat Radit datang ke sana?" tanya Merry lagi.


"Sering Nona, mereka sering bercanda saat duduk didepan rumah, terkadang mereka naik ke lantai Dua dan mengobrol di balkon atas, itu terlihat sangat romantis." jawabnya meyakinkan.


"Cukup!" bentaknya, Merry berbalik dan pergi meninggalkan pegawainya yang tampak heran menatap Merry dengan mulut terbuka.

__ADS_1


"Ada apa dengannya?" gumam gadis itu sendiri.


Sementara Merry masuk ke dalam mobil dan mulai melaju, ia sedang menyusul Radit dan gadis yang baru saja ia bicarakan. Merry yakin jika sekarang mereka sedang membeli handphone baru untuk gadis berkerudung itu.


Tak lama kemudian Merry benar-benar menemukan keberadaan Radit juga gadis yang bersamanya, mereka sedang duduk berdua di depan meja kaca memilih ponsel baru untuk Aisyah.


"Dasar mata duitan, dia pasti sedang memanfaatkan Radit." ucap Merry sendiri. Ia melangkah mendekati Raditya dan Aisyah, ingin mendengar apa yang mereka ucapkan.


"Yang ini saja, lebih bagus." usul Radit pada gadis itu.


"Ini-" ucap Aisyah ragu.


"Yang ini saja!" Radit memutuskan.


"Empat belas juta." pemilik toko menyebutkan nominal harga.


"Ya." Radit mengeluarkan black card dan memberikannya.


Hingga akhirnya mereka selesai. Dan,


"Merry?" Radit melihat Merry yang berdiri dengan wajah kesal.


Merry melengos, tak mau menyapa atau menjawab Radit.


"Ayo Ay!" ajak Radit kepada Aisyah dengan suara lembut. Membiarkan Merry berdiri kaku, Radit tahu jika wanita itu sedang cemburu.


Radit masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu untuk teman wanitanya, mata sipitnya melirik spion dan melihat ada Merry di dalamnya. Bibir merahnya tertarik membentuk senyum tipis, membiarkan Merry merasakan nikmatnya cemburu.


Sementara ditempat lain.


"Om, apa sudah ada kabar dari orang-orang kita?" tanya Zahira kepada Ricky. Siang itu Ricky berkunjung ke rumah besar Anggara.


"Belum, mereka belum menemukan apa-apa. Jika pun menemukan bukti, itu semua mengarah kepada Daniel." jelas Ricky.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tenang selama wanita itu belum tertangkap. Ku akui jika yang melihatnya saat itu hanya aku dan Mas Anggara, dia ingin melenyapkan aku Om!" ungkap Zahira khawatir.


"Aku tahu, aku juga tak tinggal diam."


"Yang lebih aku takutkan adalah, jika dia mengincar anak-anak. Aku tidak mau anak-anak sampai celaka, apalagi Radit tidak mau menjauh dariku, sungguh aku kehabisan cara untuk membuatnya mengerti." ungkap Zahira lagi.


"Dia juga sedang berusaha menemukan bukti. Kau tahu, saat ini Radit sedang mendekati seorang gadis yang rumahnya tidak jauh dengan Merry!" ucap Ricky bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2