
"Kau mau kemana?" Ayu mendekati Radit, pagi sekali pria tampan itu sudah bersiap pergi.
"Ada keperluan di suatu tempat." jawabnya tak mau menjelaskan lebih banyak.
"Keperluan apa yang membuatmu pergi sepagi ini?" Ayu memicingkan matanya.
Radit tampak berpikir sambil memakai sepatunya di ruang keluarga.
"Ke rumah Zahira?" tebak Ayu ikut duduk bersama Radit.
"Tidak! Aku ke suatu tempat menemui Aisyah teman kuliahku saat di Malaysia." jawab Radit jujur walau tak semuanya.
"Aisyah?" Ayu semakin penasaran, hingga menautkan kedua alisnya.
"Ya! Aku ada keperluan sedikit. Aku sering bertemu dengannya belakangan ini." jelas Radit lagi membuat sang Mama semakin penasaran.
"Kau menyukainya?" tanya Ayu mendekatkan duduknya pada Radit.
"Mama! Apa jika dekat artinya suka?" bantah Radit menggeleng.
"Kalau tidak suka untuk apa kau mendekati seorang gadis? Kau masih muda tampan dan berduit? Aku rasa seorang gadis tak akan menolak jika didekati olehmu." Ayu semakin penasaran dengan apa yang sedang di lakukan Radit perihal gadis bernama Aisyah.
Radit tak menjawab, ia bingung harus menjawab apa.
"Lalu Zahira?" tanya Ayu masih memiliki banyak pertanyaan.
Radit tersenyum tipis. "Sudahlah Mama! Doakan saja aku sedang berusaha." Radit segera pergi tak ingin mendengar banyak lagi pertanyaan.
Sedangkan Ayu masih memikirkan jawaban Radit "Berusaha apa?" Ayu tak mengerti, dia berpikir sebaiknya berkunjung ke rumah Zahira lebih baik, mengingat sudah lama tidak bertemu anak-anak, dia sangat rindu.
Perjalanan memakan waktu Satu jam lebih untuk sampai di toko miliknya, suasana masih lengang ketika ia turun dari mobil, duduk di depan toko menunggu pegawainya datang.
"Pagi sekali kau datang!" ucap Merry sinis.
"Bukan urusanmu!" jawab Radit tak peduli.
"Ingin menemui gadis cupu itu?" tanya Merry dengan wajah tak suka, namun matanya melirik Radit.
"Bukan... urus...an...mu!" jawab Radit kesal.
Merry menghentakkan kaki masuk ke dalam Butiknya. Kesal, marah dan cemburu tentunya. Namun tak berapa lama ia kembali keluar, rasa penasaran membuat ia tidak betah berlama-lama di dalam sana. Sehingga ia memilih untuk berdiri di depan butik seolah sedang menunggu pegawainya.
"Halo Ay! Cepatlah datang, aku sudah tidak sabar menunggumu." ucap Radit dengan menempelkan ponsel ke telinganya.
Sukses membuat Merry menoleh cepat, dadanya bergemuruh hebat dengan api menyala di dalamnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku ingin kau datang sekarang, selagi toko masih sepi." ucap Radit lagi dengan senyum tipis.
'Dasar mesum! Pasti mereka ingin bermesraan di dalam toko. Lihat saja akan aku gerebek bersama orang *be*ramai-ramai.' pikir Merry geram. 'Oh tidak, mereka bisa menikah cepat jika di gerebek warga, itu menguntungkan wanita cupu itu." ucapnya lagi di dalam hati, sepertinya Merry harus sabar, ektra sabar kali ini, sambil menunggu ide yang tepat untuk menyingkirkan Aisyah yang dianggapnya bodoh.
Tak lama kemudian Aisyah datang dengan wajah cemberut, matanya melirik Merry tapi tidak menyapa apalagi tersenyum.
"Ay?" panggil Radit, tangannya terulur meminta gadis itu duduk bersamanya. Tapi Aisyah tak merespon, memilih duduk jauh dari Radit.
Radit mendekati Aisyah, ia menatap wajah cantik yang sedang di tekuk itu. "Apa yang membuatmu marah?" tanya Radit begitu lembut.
Aisyah diam, malah membuang pandangannya menghindari wajah Radit.
"Ay?" Radit memanggilnya lagi, tapi tak juga mendapat jawaban. Sehingga Radit meraih dagunya.
Plak!
Merry memukul tangan Radit dan meraih Aisyah menariknya menjauh.
"Apa yang kau lakukan?" Radit menatap Merry kesal.
"Dasar mesum. Kau juga! Pura-pura polos dan merajuk. Padahal hatimu menginginkan di sentuh olehnya!" Merry memarahi Aisyah juga dengan dada yang kembang kempis.
"Dia tidak seperti itu!" Radit menjauhkan Merry dari Aisyah, dan memihak Aisyah.
"Tidak seperti itu? Lalu seperti apa?" Merry benar-benar kesal.
Merry benar-benar kalap, menarik Aisyah dan mendorongnya ke jalanan. "Pergi! aku tidak suka melihat wajahmu. Jangan pernah mendekati Radit lagi jika tidak mau berhadapan denganku!" ancam Merry dengan wajah mengerikan.
"Apa hak mu? Bahkan kalian sudah bercerai!" lawan Aisyah.
"Tutup mulutmu! Lebih baik kau pergi sekarang dan jagan berpikir untuk melawanku jika tidak ingin kehilangan nyawamu!" geramnya mendekati Aisyah.
"Aku tidak takut!" jawab Aisyah menantang.
Merry mulai menarik kerudung Aisyah dengan kasar, mengundang banyak orang berkerumun, hingga akhirnya Radit memisahkan dan memeluk tubuh Merry dengan kuat.
"Ay, pulanglah! Nanti aku menyusul!" perintah Radit dengan masih memeluk tubuh Merry membawanya masuk ke dalam butiknya.
Merry masih memberontak tapi Radit tak juga melepaskan, hingga sesaat kemudian saling diam.
"Maaf!" ucap Merry memecah keheningan di pagi itu.
"Kau mirip orang gila!" ungkap Radit duduk menyandar masih dekat dengan Merry.
"Aku tidak bermaksud seperti itu." ucapnya menunduk.
__ADS_1
"Hari ini tak usah bekerja! Aku akan mengantarmu pulang." Radit beranjak dari duduknya.
"Radit!" Merry menahan tangan Radit.
"Mau ku antar atau tidak? Jika tidak aku masih punya janji dengan Aisyah!" ucap Radit malas.
"Baiklah." Merry menurut. 'Kapan lagi aku punya kesempatan untuk dekat kembali dengan Radit, bahkan ketika aku memohon untuk menjadi temannya dia tak mau.' ucap Merry di dalam hati.
"Aku harus mengantarmu kemana?" tanya Radit lagi dengan wajah tak suka.
"Belok kiri saja." jawab Merry memberi tahu.
"Mengapa harus tinggal di rumahmu, bukankah di butik ada kamarnya?" tanya Radit lagi.
"Kau tahu?" tanya Merry heran.
"Tentu saja, Toko kita bersebelahan, bentuknya sama, ukurannya sama?" jelas Radit malas.
"Aku hanya butuh ketenangan." jawabnya menunduk, memainkan jari-jarinya.
Setelah beberapa saat saling diam kemudian sampai di sebuah rumah lumayan bagus, tidak terlalu besar.
"Ini?" Radit menunjuk rumah berwarna hijau itu.
"Iya." Merry tak juga turun, entah apalagi yang sedang ia ingin bicarakan.
"Turun!" perintah Radit tetap tak mau menatap Merry.
"Radit!" panggilnya pelan.
"Mau diantar?" tanya Radit menebak, wajah tak suka tapi akhirnya turun juga, membukakan pintu dan mengikuti Merry masuk ke dalam rumah sederhananya.
"Terimakasih." ucap Merry terus menatap punggung Radit yang gagah.
Radit melihat sekeliling ruangan rumah Merry, menikmati suasana sejuk di pinggiran kota.
"Baiklah! Aku pulang!" Radit melangkah menuju pintu.
"Tunggu! Kau pasti ingin menemui Aisyah?" tanya Merry, menghentikan langkah Radit.
"Apa urusanmu? Kita sudah bercerai semenjak kau menipuku!" jawab Radit tak suka.
"Radit, bisakah memaafkan aku sekali lagi? Aku tahu aku sangat bersalah padamu, sudah menghancurkan pernikahanmu dengan. Zahira." ucap Merry mendekati Radit.
"Jangan sebut nama itu lagi, nyatanya dia tak memilihku walaupun suaminya sudah mati!" geram Radit.
__ADS_1
"Kalau begitu, bukalah hatimu." Merry memohon, meraih tangan Radit dan menggenggam di dada.