
"Aku sengaja menunggumu." Merry berkata dengan lembut, ibu muda itu bersikap manis sekali, ia mendekat dan mengusap dada Radit yang masih terdapat butiran air menetes di sana.
"Tidak Merry." tangan Radit segera menangkap tangan yang mulai bergerak nakal itu.
"Kenapa?" Merry menatap tajam dengan raut wajah kecewa.
"Kita perlu menikah lagi setelah anak kita lahir, aku tidak ingin kesalahan kita terulang kembali." ucap Radit setengah berbisik.
"Ku rasa tak masalah Radit, bahkan banyak orang di luar sana yang menikah hanya sekali saja pada saat hamil." Merry terlihat kesal, ia merasa di tolak padahal ia sudah sejak beberapa hari lalu membayangkan akan kembali tidur berdua dengan Radit.
"Mungkin untuk sebagian orang, tapi ku rasa akan lebih baik jika mengulang pernikahan setelah lahirnya anak kita." Radit sedikit merayunya, membelai rambut bergelombang Merry dengan lembut.
"Kapan kita akan menikah lagi?" tanya Mery sungguh sudah tidak sabar.
Pertanyaan yang membuat dada Radit sedikit berdenyut entah jika sebenarnya ia tak ingin mengulang hal itu, tapi kembali teringat akan Laura.
"Setelah aku menyelesaikan urusan bisnis ini, aku harap kau bersabar dan itu tidak akan terlalu lama." Radit berjanji, dengan senyum yang membuat Merry luluh dan menyerah. Bahkan lirikan tajamnya mampu membuat Merry berlutut, apalagi sampai menerima senyum manis dari pria pujaan hati, sudah pasti ia sangat bahagia.
"Setelah kau pulang?" tanya Merry masih memeluk tubuh gagah yang hanya berbalut handuk itu.
"Iya." jawab Radit tak membalas pelukan istrinya.
"Baiklah, aku akan menunggumu pulang, dan aku tidak mau terlalu lama." Merry mengecup pipi Radit dengan berjinjit.
Radit hanya tersenyum membiarkan Merry senang dan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
*
Rembulan sedang unjuk kecantikannya, malam sepi nan dingin itu selalu terlewati dengan bahagia. Rasa cinta selalu menggelora di setiap waktu tak pernah berhenti rindu itu seakan selalu ingin beradu.
Zahira yang cantik kian bahagia dengan perubahan perutnya yang sudah tidak terlihat langsing. Wajahnya lebih berisi dengan seluruh tubuhnya tumbuh pesat termasuk di bagian bukit indah kesayangan suaminya.
Lusa mereka akan kembali setelah dua bulan menghilang tanpa mau diganggu, mereka tak peduli dengan repotnya para asisten Anggara, bagaimana sibuknya para rekan bisnis mencari tahu dimana bos besar itu berada, dan betapa sibuknya David dan Ayu mencari kabar tentang dirinya, sepasang suami di istri itu bergantian datang ke perusahaan besar Anggara hanya untuk bertemu dan menanyakan kapan Anggara dan Zahira kembali.
"Aku terlihat seksi!" teriaknya di kamar itu, Zahira berputar-putar dengan gaun selutut dan rambut tergerai bebas.
"Tentu saja, aku yang membuatmu semakin berisi." Anggara memeluknya dari belakang, mengelus perut Zahira yang semakin besar.
"Tapi ini baru tiga bulan, bagaimana jika sudah Sembilan bulan?" ia sedang membayangkan perutnya semakin besar.
"Kau akan tetap terlihat cantik, aku pasti menyukainya." Anggara mengecup pipinya begitu mesra.
"Kenapa tidak yakin, semua akan terlihat menggemaskan, ini dan ini." Anggara menyentuh perut dan bagian atas lainnya.
"Aku takut kau tergoda dengan rayuan wanita-wanita cantik di luar sana." ucapnya masih tidak tersenyum.
"Tidak ada Sayang, aku tidak seperti itu. Jika aku mau aku bisa melakukannya sebelum menikah denganmu." Anggara meyakinkannya seperti biasa, memberikan ciuman hangat yang tak akan mampu di tolak, dia pasti akan hanyut dan lupa dengan semuanya.
Sedangkan di tempat lain, David masih menunggu di luar kantor besar Anggara, ia sengaja menunggu berjam-jam hanya untuk menemui Ricky. Ya, hanya Ricky yang tahu dimana Anggara dan Zahira berada, itu sudah jelas karena Ricky selalu menjadi pimpinan di setiap rapat bulanan di kantor besar Anggara.
"Ricky!"
__ADS_1
David mendekati pria yang terlihat buru-buru sambil memakai jasanya menuju mobil.
"Hei, kau disini?" Ricky merapikan jas yang masih berantakan sambil berbalik menghadap David.
"Aku sengaja menunggumu, dan aku rasa kau sudah tahu alasannya." David menyandar di mobil Ricky.
"Ya, tapi kau juga tahu mereka memang tidak ada disini." Ricky juga berusaha santai, padahal dia sedang terburu-buru.
"Aku ingin bicara banyak padamu, aku mohon kau luangkan waktu tiga puluh menit saja." ucap David terdengar memohon.
"Baiklah." Ricky menyetujuinya, mereka mengobrol di sebuah Cafe di depan kantor Anggara.
"Mau makan?" David tahu jika Ricky sangat sibuk.
"Minum saja, aku harus pergi setelah ini." diangguki David yang segera memesan minuman hangat untuk mereka berdua.
"Aku hanya ingin tahu cerita yang sebenarnya, agar tidak terjadi perselisihan antara aku dan Anggara." David langsung saja bertanya.
"Aku akan mengatakan semuanya, percaya atau tidak kau bisa nilai sendiri." Ricky juga tak ingin berbasa-basi.
"Kita sudah kenal lama." David meyakinkan.
"Semua berawal dari putramu, saat itu Zahira kabur dari rumahnya dan pergi sendiri ke puncak di tempat kami membangun Vila baru. Kau ingat di sana juga letak Vila yang di berikan Anggara untuk Zahira saat dia baru lahir? Mereka bertemu secara tak sengaja di sana. Saat pulang akulah yang menjemput Anggara juga Zahira, di perjalanan dia meminta bantuan untuk mencari seorang pengacara pada Anggara, dia ingin menggugat cerai putramu."
"Dan kau membantunya?" David sudah tak sabar.
__ADS_1
"Ya, Anggara tidak mau terlibat, dia meminta Zahira untuk berbicara padaku. Dan aku tak mungkin menolak, karena dia memang sendirian, kalian hanya diam saja seakan tak peduli betapa dia menderita. Tidak ada diantara kami yang membantunya bercerai, sebelum benar-benar yakin dan menanyakan hal itu berulang-ulang, bahkan jika Zahira meminta untuk bertahan aku akan membantu juga Anggara, tapi sepertinya dia tidak sanggup. Hingga saat sebelum kami datang ke rumahmu waktu itu, dia kembali meninggalkan rumahnya di tengah malam, menghubungi aku dan aku memberinya tempat di apartemen yang pernah aku tempati, dan itu milik Anggara. Kau tahu di hari selanjutnya dia sangat menderita, dia sakit dengan sesak di dadanya, dia sendirian, meringkuk di kamar tanpa siapapun teman bicara, ponselnya mati, dan tidak punya uang. Ia hanya punya mobil rongsok itu yang membawanya hampir kehilangan nyawa. Beruntung satu Minggu sebelumnya Anggara meminta tiga orang wanita untuk menjaga dan menemani Zahira di apartemen itu, hingga mereka dekat dan ikut kemanapun Zahira pergi. Dan mengantarkan nyawanya bersama Zahira, gadis itu mendorong Zahira keluar untuk menyelamatkan walaupun akhirnya Zahira hilang, di temukan dalam keadaan koma selama dua bulan, itu juga begitu sulit untuk membawanya pulang. Demi mendapatkan tubuh lemah Zahira, Anggara menukarnya dengan sebuah rumah sakit, itu juga belum berakhir, ia sadar satu Minggu setelahnya, lalu operasi di Singapura, kembali tidur panjang selama Satu bulan, sadar dan hanya ingat dengan Anggara saja. Ia berpikir Anggara adalah suaminya, hingga akhirnya menikah."