Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
164. Artinya dia berbahaya?


__ADS_3

"Artinya dia berbahaya?" tatapan lembut itu kini berubah khawatir.


"Bisa di bilang seperti itu." jawab Anggara merasakan Kekhawatiran Zahira begitu besar.


"Lalu mengapa Kau meminta Jia untuk pergi, bukankah akan lebih aman jika Jia ada bersama kita?" Zahira ingat jika Jia adalah orang yang setia.


"Untuk menghadapi harimau Sumatera maka butuh orang Sumatera agar lebih mudah menjinakkannya. Juga Paman Daniel, kita butuh orang yang memiliki kekuatan yang sama untuk mengalahkan dirinya. Itulah alasan mengapa aku mengirim Jia untuk pergi ke Jepang mempelajari senjata yang di gunakan untuk menghabisi Mama. Aku khawatir itu akan terulang lagi dan aku tidak mau kehilangan kau juga anak-anak kita. Aku menduga jika dia menggunakan jarum kecil mirip seperti rambut beracun, ku dengar itu hanya orang ahli bela diri di Jepang yang bisa memakainya." Anggara menyibak rambut yang jatuh di kening Zahira, benar-benar tidak ingin membayangkan itu terjadi pada istri tercinta.


"Aku tidak takut jika itu terjadi padaku, tapi akan sangat menakutkan jika yang menjadi sasaran adalah-" Zahira menghentikan ucapannya.


"Aku tahu Sayang, besok kita akan pindah ke rumah yang lain. Kita akan tinggal di sana agar tidak selalu bertemu dengan Paman Daniel." Anggara tersenyum sedikit untuk menenangkan Zahira, tak ingin wajah cantik itu mengkerut karena khawatir.


"Padahal aku menyukai rumah ini, di sini aku merasakan menjadi seorang ratu, begitu di sayang dan di hormati." menatap langit-langit kamar bernuansa biru tosca.


"Ya, aku membawamu setelah kau pulih dari operasi. Kau masih lemah dan aku menggendong tubuh kecilmu menaiki tangga." ucap Anggara setengah berbisik.


"Aku merasa menjadi istrimu, lalu kau tinggalkan aku tidur sendirian dengan hati resah dan kecewa." Zahira juga berbisik pelan.


"Kau hanya tidak tahu Sayang, jika malam itu aku juga tidur dengan gelisah. Ingin sekali aku datang dan memelukmu hingga pagi, tapi aku takut khilaf dan menghabisi mu hingga tak bersisa." Anggara kembali memeluknya erat, mengecup kening dan seluruh wajah, mengenang masa saat Zahira baru pertama menginap di rumah itu membuat keduanya menginginkan lagi kehangatan yang sulit berakhir ketika sudah membangunkan sesuatu. Cinta yang tak berkesudahan, rindu yang selalu menggebu walau dia selalu di depan mata, seakan tak ada lagi esok untuk menuntaskan rasa yang menggelora, jarak usia tak pernah dirasa malah semakin membuat jiwa mereka semakin menggila atas kekaguman Satu dan lainnya.


Sedangkan di rumah yang lain. seorang pria masih menatap kesal meja yang penuh dengan makanan. Bahkan ponsel yang dipegangnya tampak berulang kali berpindah tempat, sekali di pegang, juga sekali di letakkan, ia sungguh gelisah.


"Kau belum tidur?" David baru saja keluar dari kamarnya dan melihat putra semata wayangnya masih duduk di meja makan.


"Belum." jawabnya dengan wajah lemas.


"Mungkin mereka punya alasan sendiri sehingga tidak datang. Anggara tidak seperti itu selama aku mengenal dirinya. Apalagi Zahira, kau tahu jika dia wanita yang baik, tidak mengabaikan permintaan orang lain. Jika dia tidak bisa maka sudah pasti ia memberi kabar." David mengambil kentang goreng yang masih di atas meja, tadinya itu di siapkan untuk Zahira sekeluarga.


"Benar juga, aku jadi khawatir." Radit menatap wajah David, tampak berpikir.

__ADS_1


"Biar Papa yang menghubunginya." David beranjak mengambil ponselnya di atas nakas.


Radit melirik jam dinding besar di dinding, pukul Sepuluh lewat Empat puluh menit.


"Halo!" Suara David terdengar dan benar jika pria itu berhasil menghubungi Anggara.


"Ada apa Ayah mertua?" Anggara terdengar bercanda namun sedikit kesal.


"Dasar! Mengapa kau tidak datang? Bukankah tadi Radit sudah mengatakan untuk datang membawa cucu-cucuku?" David tahu jika panggilan darinya mengganggu.


"Astaga. Maaf! Aku... Aku lupa memberitahu Zahira, dan tentu aku tidak senagaja. Ada hal tak terduga dan membuat aku tidak bisa mengajak Zahira juga anak-anak kerumahmu. Atau begini saja, besok malam kau datang ke rumahku yang lain. Kami akan pindah besok."


"Pindah?" David menatap Radit yang juga terlihat penasaran dengan percakapan telepon itu.


"Ya, nanti akan ku kirim alamatnya." ucap Anggara merasa berhutang janji.


"Baiklah." David mengakhiri panggilnya.


"Ya, kurasa itu alasan yang membuat mereka tidak jadi datang." David meletakkan ponselnya kembali.


Radit mengangkat sudut bibirnya sedikit, mirip satu senyuman namun dia sedang berpikir. Tidak mungkin mereka tiba-tiba pindah rumah tanpa alasan! Terlebih lagi dengan sejuta kekayaan dan banyaknya bodyguard di rumah besar mereka. Tak ada alasan jika itu hanya soal kenyamanan.


*


"Ayah!" teriakan Dua bocah laki-laki itu terdengar nyaring ketika jam sholat subuh berakhir.


"Hey anak-anak Ayah." Anggara mengecup pipi keduanya bergantian, memeluk dan menggendongnya di kiri dan kanan.


"Ayah, Aku ingin di belikan buku komik keluaran terbaru." ucap anak laki-laki yang berlesung pipi mirip Zahira.

__ADS_1


"Komik itu untuk anak Sekolah Dasar Sayang, kau belum bisa membaca." jawab Anggara sambil mengecup pipi putih bersihnya.


"Ayah tidak tahu? kami sudah bisa membaca bahkan berhitung!" jawab anak laki-laki yang berambut rapi, sedikit tegak dan bermata coklat.


"Benarkah? Kapan kalian belajar membaca?" Anggara menatap wajah-wajah imut itu dengan tak percaya.


"Paman Hiko mengajari kami dua kali saat aku ingin ke toilet tahun lalu." jawabnya dengan mata bersinar menampakkan kecerdasan luar biasa.


"Satu tahun yang lalu?" tanya Anggara lagi.


"Ya, waktu kita jalan-jalan di pusat perbelanjaan milik Ayah untuk membeli robot dan pakaian untuk kami masuk sekolah. Kami bahkan sudah membaca banyak buku pelajaran anak Sekolah Dasar, Dan kami menyukainya." jawab Satria yakin.


"O." Anggara hanya berkata itu.


Membiarkan kedua jagoannya merasa hebat dengan banyak mengetahui semua hal, berceloteh ria di pangkuan sang ayah hingga menemukan kesibukan baru dan mereka akan berlari dan bermain.


"Satria! Sadewa! Kalian mau kemana?" Zahira berteriak ketika menghampiri kedua anaknya tapi malah mereka sudah turun dari pangkuan Anggara dan berlari menuju halaman belakang.


"Melihat Paman Hiko!" jawab mereka bersamaan.


"Biarkan saja Sayang, duduklah sementara kita menunggu barang kita di siapkan Bibi, kita akan berangkat satu jam lagi."


"Mas!" panggilnya duduk di samping Anggara.


"Ya." Anggara meraih dan memeluk wanita kesayangan.


"Sebenarnya apa yang di inginkan Paman Daniel?" tanya Zahira masih penasaran.


"Apa lagi selain harta Sayang. Manusia akan rela melakukan apa saja jika sudah jatuh cinta dengan uang."

__ADS_1


"Mengapa tidak kau berikan saja jika itu bisa membuat ia berhenti. Aku tak apa tidak menjadi istri seorang konglomerat asalkan kita hidup tenang dan nyaman." ungkap Zahira penuh harapan.


__ADS_2